Kamis, 21 November 2013

Efektifkah Menyindir Lewat Status Jejaring Sosial?

Sumber Foto : shadowmie

Salah satu tren kehidupan masyarakat modern saat ini adalah sangat dinamisnya interaksi di jejaring sosial, salah satunya melalui FB. Media ini tak jarang menjadi salah satu sarana yang sering dipilih banyak orang untuk menyampaikan kritik atau saran pada teman atau orang dekat. Beberapa berhasil mengenai sasaran dengan tepat, tapi tak jarang juga yang justru salah korban, haha. Sebagaimana diungkapkan oleh sejumlah teman anonim berikut ini.

“Statusku kan untuk nyindir si anu, kenapa dia yang kebakaran jenggot?” curhat seorang teman suatu kali. Salah sasaran ceritanya, sehingga jatuh korban tidak terduga :) Orang yang menjadi target utama bahkan gak merespon apa-apa, jangan-jangan bacapun tidak.

Teman lain menceritakan bahwa ‘umpan’ yang ia pasang dalam statusnya memang dimakan oleh si target tapi karena ia tidak to the point pada pokok masalah, si target bukannya menyadari kesalahannya, justru ia semakin besar kepala. Serba salah jadinya.

Bagaimana dengan saya sendiri?

Mungkin karena saya makhluk halus, terlalu berperasaan maksudnya :) , saya sangat sering menjadi korban salah sasaran. Tidak hanya membuat saya merasa tersindir, beberapa status bahkan sempat membuat saya menangis berjam-jam dan badmood berhari-hari. Duh sampai segitunya kah? Agak aneh memang, tapi begitulah adanya.

Status-status yang menyakitkan itu, kadang memancing saya untuk melakukan hal yang sama, membuat status sindiran serupa. Tapi dasar saya makhluk halus (baca: terlalu berperasaan alias sensitif), maunya menyindir dengan sehalus mungkin. Mikirnya aja bisa lama banget, bisa setengah jam hanya untuk memilah kata-kata yang tidak terlalu kentara. Ujung-ujungnya, sudah nulis hampir setengah halaman kwarto mungkin, saya lebih sering menghapusnya kembali. Tetap yakin menghapusnya meski Mr FB mencoba menggoyahkan keputusan saya dengan bertanya,

“Yakin nih gak mau membalas statusnya yang sudah bikin kamu mengeluarkan bermili-mili liter air mata?” haha. Pertanyaan ini yang saya maksud “Anda yakin akan meninggalkan halaman ini?”.

Mengapa saya lebih sering menghapus kembali status-status balasan yang sudah susah payah saya pikir dan ketik? Entahlah, saya hanya tidak kuasa mendengar kata hati saya sendiri yang mengatakan, diberi kritik saja rasanya sudah tidak enak, apalagi dikatakan secara terbuka melalui jejaring sosial yang bisa membuat malu yang bersangkutan.

“Jika berani, kamu to the point saja pada yang bersangkutan melalui pesan pribadi. Dan selesaikan masalah yang ingin kamu selesaikan dengannya berdua saja. Itu lebih menjaga kehormatan dan perasaan masing-masing” demikian kata hati saya berikutnya.

Hal lain yang juga saya takutkan saat menulis status sindiran adalah, saya khawatir status itu bisa menggores perasaan orang-orang yang sebenarnya tidak menjadi target utama. Padahal yang menjadi target bisa jadi meleset. Kalau ini yang terjadi, masalah yang sudah ada bukannya menemui solusi, justru menambah masalah dan bahkan dosa baru. Dalam hal ini, saya teringat nasihat seorang teman.

"Kata dan sikap yang menyakitkan itu seperti paku. Saat kita menancapkannya di pagar, kita mungkin bisa mencabutnya kembali, tapi bekasnya akan abadi. Salah kita mungkin telah dimaafkan oleh orang yang telah kita sakiti, namun mungkin ia tak bisa melupakan kesalahan kita dalam waktu yang lama bahkan mungkin seumur hidupnya". Aduh, mengerikan sekali membayangkannya.

Nasihat teman lain semakin membuat saya takut saja. Begini nasihatnya, "Untuk setiap kemarahan dan kesedihan yang dirasakan oleh teman atau saudaramu, karena perkataan atau sikapmu, maka itu akan mengurangi pahalamu". Aduh, sudah jumlah amal kebaikannya gak seberapa, kalau dikurangi terus bisa minus nih saldo tabungan akhirat :(

Rumitkah solusinya jika ada masalah yang harus disampaikan pada teman atau saudara? Tidak juga. Agama sudah memberi panduannya : katakanlah yang baik atau diamlah. Dan memaafkan itu adalah pilihan yang jauh lebih utama saat kita tersakiti. Kalaupun ada nasihat yang harus disampaikan, sampaikanlah dengan kata yang sebaik mungkin dengan tetap menjaga perasaan dan kehormatannya. Sampaikanlah secara pribadi jika nasihat itu memang benar-benar ditujukan untuknya.

Lalu, efektifkah menyindir lewat status jejaring sosial? Mari kita jawab di hati masing-masing :)



22 komentar:

  1. memang betul mba. Jadi menyuburkan suudzon :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menyampaikan secara langsung pada ybs mungkin bisa menjadi pilihan yang lebih baik mbak Hana, untuk menghindari menyuburkan suudzon di hati banyak orang :)

      Hapus
  2. saya juga menjaga jangan sampai hal itu terjadi mbaa, mungkin ada baiknya jika membaca status sahabat atau rekan lainnya lebih dipertajam, diresapin dulu... karena pernah ada kejadian salah paham juga, namun alhamdullilah all clear n done well :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai pembaca status, ini yang coba yang terapkan manakala mendapati status yang kayaknya menyindir saya Mbak Tanti :) Kalaupun pada akhirnya menyimpulkan bahwa status tsb menyindir sekali, mencoba positive thinking saja, coba melihat substansi pesannya, dan mencoba tidak mempermasalahkan siapa orang dan cara yang dipilihnya, terimakasih sharingnya Mbak :)

      Hapus
  3. Waduh mbak yang disindir gak berasa apa2 mungkin karena terlalu halus penyampaiannya. Tp kalo terlalu keras sindirannya bisa2 saya kena pasal. Udah bicara scr langsung tp orang2nya emang gak punya hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, salah satu kelemahan menyindir lewat status adalah susahnya menetapkan porsi yang pas dan mengena :) eh tapi kalau dikasih tau langsung gak ngeh juga, sepertinya lain kasus Mbak :)

      Hapus
  4. itulah kenapa mbak sy jarang update status di socmed. Kesannya kok seperti mendramatisasi masalah kecil. btw saya suka sekali sama tulisan2 mbak ririn, Sangat inspiratif dan menggugah semangat untuk menulis. salken ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali Mbak Ika, terimakasih atas kunjungannya :) Agak samaan nih kita Mbak, jarang update status di socmed :) untuk saya pribadi banyak faktor, salah satunya ya ini, banyak kata biasanya peluang untuk salah dan menyakitinya juga besar, selain juga berpeluang besar terjebak pada dramatisasi hal-hal kecil :)

      Hapus
  5. Aku pernah nyindir mbak Ririn belum ya? qiqiqi..

    BalasHapus
  6. Eh, ternyata ini tulisan lama yang masih relevan sampe hari ini. ^^ Saya kadang-kadang ngeri kalo mau nyindir gitu, Mbak. Bukan ngeri ada yang kesindir atau apa (eh, emang itu tujuannya kan, ya?). Tapi ngeri sama efek gak baiknya. Ngeri sama kontennya juga. Kalo emang gak ada yang baik dan menyenangkan untuk dikatakan, yaaa ... mending diem aja. Atau katakan yang baik dan menyenangkan dan lupakan yang menyakitkan dan gak bagus itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Octa, masalah sindir menyindir sepertinya akan selalu berjalan beriringan dengan perkembangan TI Mbak :)

      Soal efeknya itu yang saya ngeri juga Mbak, makanya jadi mikir banyak kali untuk melakukannya. Dan kadang, diam seringkali menjadi pilihan terbaik :)

      Hapus
  7. Saya pribadi pernah merasakan hal yang demikian dari berbgai teman.. entah saya telalu halus perasaaannya, entah gimana.. Awalnya emosi sih mba, tapi akhirnya saya ambil sikap kalau orang yang menyentil saya itu ternyata picik dan sampai disitulah pemikirannya. Dengan begitu saya jadi lapang.. dan anggap saja sebagai latihan dan pelajaran hidup, karena memang tidak semua yang sama dengan kita dan sepemikiran dengan kita..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, kita harus melihatnya dari sisi yang berbeda :)

      Hapus
  8. saya setuju dengan kalimat, “Jika berani, kamu to the point saja pada yang bersangkutan melalui pesan pribadi. Dan selesaikan masalah yang ingin kamu selesaikan dengannya berdua saja. Itu lebih menjaga kehormatan dan perasaan masing-masing”
    tapi entah kenapa ya orang kok sukanya bicara itu di public? mungkin biar banyak yang dukung dia dan ngebantu buat ngomporin dan bikin sakit ati lawannya. menurutku itu adalah cara bikin malu yang justru akan membuat citra kita buruk sendiri.semoga bisa diselesaikan 4 mata aja ga perlu dipublish

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga yang menjadi pertimbangan saya Mbak Susan, seringkali 'sindiran' kita bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri, sekaligus juga berpotensi memalukan orang yang kita sindir, jadi dobel banget kerugiannya, padahal masalahnya sendiri belum tentu terselesaikan dengan baik....

      Hapus
  9. WOW Keren nie artikernya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    BalasHapus
  10. saya pernah ngalamin ini mba, bener2 nyesek rasanya. udah gitu yg ngehina saya si "DIA" lagi, tapi berkat kejadian itu saya pun jadi sadar, bahwa selama ini saya sudah berharap dengan orang yang salah gak ada gunanya kalo saya terus berharap sama dia, keren mba artikelnya, sangat bermanfaat, ijin share mba :D

    BalasHapus
  11. Makasih mba ririn, ulasan nya sangat mengena dan to the point.... ini yg saya butuhkan, hehehe.... mohon izin share ya ? sukses selalu ya mba, salam kenal....

    BalasHapus
  12. sekarang sih, status FB dibikin se-'nganu' mungkin supaya klout score meningkat mbak hahahahahha

    BalasHapus
  13. Tulisan adalah kata hati yang Jelas jujur. Apalagi kalau beruba sindiran. Tinggalin aja orang yang suka nyindir. Gak usah dibales.caribteman lain.

    BalasHapus
  14. Jangan nyindir orang lah, sakit kalo digituin, jangan jadi sifat yang antagonislah...

    BalasHapus

 
;