Sabtu, 19 Oktober 2013

Pentingnya ‘Memanjakan’ Redaktur

Foto dari Segores Pena Phie

Redaktur juga manusia’. Kalimat ini sering diucapkan oleh teman-teman yang bekerja di media massa. Dari mereka saya sering mendengar cerita tentang bagaimana sungguh manusianya seorang redaktur :)

Sama halnya kita, mereka (para redaktur itu) juga punya kehidupan sehari-hari dan pasti juga masalah. Dan membaca lalu memilah milih tulisan yang layak muat memang adalah tugasnya, betapapun jumlahnya bisa mencapai belasan bahkan mungkin puluhan dalam sehari untuk kategori media nasional. Sekali lagi itu memang tugasnya. 


Tapi, akan lebih baik lagi jika kita, terutama penulis yang sering menulis dan mengirim ke media,  bisa berempati dan memudahkan tugasnya. Toh pada akhirnya, kitapun juga akan merasakan manfaat timbal baliknya. Lalu, apa saja yang termasuk kategori ‘memanjakan’ redaktur?

Pertama, penuhi persyaratan teknis yang sudah ditetapkan oleh media yang bersangkutan. Misal, dalam hal jumlah kata. Untuk poin ini sebenarnya hampir semua media sudah memberi aturan, misal media A menetapkan jumlah kata untuk rubrik opininya sekitar 800 kata, media B maksimal 600 kata, sedang media C menetapkan minimal 8000 karakter. Pahami ketentuannya, jangan sampai tertukar antara aturan media satu dengan media yang lain.

Kedua, ‘manjakan’ dan mudahkan pekerjaan redaktur dengan tampilan atau sistematika tulisan yang tidak membingungkan. Misalnya, pemisahan yang jelas antara judul dengan tulisan. Antara paragraph yang satu dengan yang lain.

Ketiga, perhatikan EYD. Meski tulisan bagus dan topiknya aktual, tapi jika EYD-nya amburadul, jangan salahkan redaktur jika mereka menyisihkan tulisan kita. Karena membetulkan EYD tulisan bukan pekerjaan mudah, apalagi jika yang harus dibetulkan tidak sedikit jumlahnya.

Keempat, gunakan bahasa media, bukan bahasa yang terlalu ilmiah, juga bukan bahasa alay. Sering sekali saya katakana pada teman-teman, bahasa media adalah bahasa publik. Dari professor sampai tukang becak sangat mungkin akan membacanya. Jadi, gunakan bahasa universal yang mudah dipahami oleh masyarakat kebanyakan. Lagi-lagi, redaktur belum tentu mau membenahi tulisan yang kata-katanya tidak memenuhi standar media.

Kelima, penuhi persyaratan administrasi lain selain tulisan, misal keharusan mencantumkan nomor rekening dan juga foto jika diperlukan. Terkadang setelah tulisan dimuat, honor penulis tak cair-cair karena penulis lupa menuliskan nomor rekening misalnya. Meski ini bukan pekerjaan redaktur, tapi lagi-lagi redaktur bisa direpotkan karena biasanya pihak pertama yang menerima keluhan penulis adalah si redaktur baru kemudian dialihkan ke bagian keuangan.  

Jadi, gak mudah kan tugas seorang redaktur? Maka, tak ada salahnya ‘memanjakan’ mereka dengan menaati aturan yang ada. Toh, kita juga yang akan merasakan manfaatnya….

9 komentar:

  1. sip banget tipsnya mbak.. makasih ya :). btw cerita pengalaman nih.. tempo hari saya kirim naskah ke majalah, baru pertama kalinya kirim ke majalah tsb. sengaja cuma nyantumin nomor HP doang, tanpa nomor rekening. nothing to lose banget, dimuat syukur, enggak juga gpp. eeh, trnyta belum sebulan udah dihubungi sama redaksinya, nanyain nomor rekening dan alamat. untung redaksinya baik hati ya.. hehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Ofi, ternyata banyak lho redaktur yang friendly dan respek sama penulis termasuk penulis pemula, walau tidak sedikit juga yang galak, hahaha :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Mbak Hacky, terimakasih sudah mampir..... :)

      Hapus
  3. Aku belum pernah ngirim tulisan ke media2.. Ternyata ada tips nya juga ya.. Terimakasih sudah share tips nya mbak..

    BalasHapus
  4. Bener juga ya, saya juga kalau jadi tim redaksi pasti milih yang udah bener naskahnya. Tips bagus utk para penulis nih. (:

    BalasHapus

 
;