Senin, 14 Oktober 2013

Menjadi Backpacker Cilik


Foto: Artikel Bundanya SaUra di majalah Parenting..
Penampakan di Majalah Parenting Edisi September 2013


Seiring dengan usia anak-anak yang semakin besar, maka konsep liburan yang coba saya terapkan dalam keluarga tak lagi semata just for fun. Lebih dari itu, ada misi besar lainnya yang saya selipkan dalam liburan keluarga. Salah satunya, mengajak anak-anak mengenal wajah lain Indonesia selain Pulau Jawa. Tak hanya dari sisi fisik namun juga dari aspek sosial masyarakatnya. Berbekal misi inilah, maka kami sepakat untuk menghabiskan liburan panjang kemarin di Lampung, tempat di mana saya menghabiskan masa kecil hingga remaja.



Meski telah beberapa kali ke sana, saya tetap merasa perlu "membekali" anak-anak dengan sejumlah pesan agar mereka tidak terlalu shock dengan segala perbedaan dan mungkin sejumlah keterbatasan sarana dan prasarana yang akan kami temui nanti. Apalagi, liburan kali ini lebih lama dan kami konsep ala backpacker.


“Di sana orang-orangnya suka berbicara dengan suara yang keras. Jangan mengira mereka sedang marah ya?” pesan saya pada Sasha. Pesan ini perlu disampaikan karena selama ini anak-anak terbiasa berbicara dan mendengar suara yang pelan. Sementara untuk Naura yang masih berumur 4,5 tahun, pesan saya lebih sederhana.


“Adek Nau nanti jangan rewel ya, apalagi baru sampai sudah minta pulang. Jember itu jauh lho Nak” hehehe.


Karena Sasha sangat tertarik dengan nama-nama kota dan ciri khasnya, maka kami sepakat untuk berangkat ke Lampung dengan menggunakan bus. Dengan moda transportasi ini, kami akan menyusuri hampir semua propinsi di Pulau Jawa. Beruntung ada bus langsung Jember-Lampung, sehingga kami tidak perlu berganti kendaraan di jalan. Untuk pulang kami memilih transportasi udara agar anak-anak tidak terlalu lelah.


Di luar dugaan, bus yang kami tumpangi beberapa kali terjebak macet di sejumlah ruas jalan Pantura yang sedang mengalami perbaikan menjelang liburan dan lebaran. Tak tanggung-tanggung, dari normal perjalanan hanya sekitar 30 jam, membengkak menjadi hampir 48 jam atau dua hari dua malam. Untung anak-anak tetap enjoy. Sesekali mereka menggambar dan menikmati aneka bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Beragam pertanyaanpun kerap mereka lontarkan.


“Ma, biasanya lambang kota dibuat berdasarkan apa?” tanya Sasha suatu kali.


“Lambang kota bisa menggambarkan mata pencaharian sebagian besar penduduknya” jawab saya.


“Oh, kalau lambangnya pak tani dan hasil tani, berarti masyarakatnya banyak yang jadi petani ya Ma?” tanyanya kemudian. Saya mengangguk. Dengan berbagai kegiatan ini, membaca, menggambar, tanya jawab dan makan-makan, macet terasa tidak terlalu menyiksa.


Merekapun menjadi sangat excited ketika bus yang kami tumpangi harus naik kapal laut yang besar untuk bisa sampai di Lampung. Bagi Naura, ini adalah pengalaman pertamanya. Matanya begitu takjub melihat kapal berukuran besar dan hamparan air sejauh mata memandang. Sesampai di Pelabuhan Bakauheni, wajah lain Indonesia di luar Pulau Jawa, mulai terlihat. Hamparan kebun pisang dan kelapa yang menjadi salah satu hasil pertanian utama Lampung, terlihat di sisi kiri dan kanan jalan yang menanjak. 


Kekhawatiran anak-anak akan merasa asing dan susah beradaptasi di tempat baru ternyata tidak terbukti. So far, mereka ternyata baik-baik saja. Relatif mudah beradaptasi dan menjalani liburan dengan enjoy. Mereka hanya sempat shock dengan arus lalulintas yang agak menyeramkan karena tempat tinggal kakek neneknya berada di jalur lintas Sumatera. Selain ramai, kendaraan yang berlalu lalang adalah jenis truk besar dan bus antar kota antar propinsi.


Anak-anak juga terlihat begitu surprised ketika mendapati sejumlah daerah di Lampung yang namanya sama dengan daerah di Jawa. Seperti Surabaya, Pekalongan, Purbalinggga, Probolinggo dan sebagainya.


“Di sini memang banyak daerah yang namanya sama dengan di Jawa Mbak” jelas saya pada Sasha. 


“Koq bisa Ma?” tanya Sasha penasaran. Dan mulailah saya berkisah tentang transmigasi beberapa puluh tahun lalu untuk menjawab pertanyaannya. Bagaimana masyarakat Jawa saat itu ditempatkan di daerah yang masih berupa hutan. 


“Waktu itu masih ada macannya donk Ma?” tanya Sasha lagi.


“Katanya iya, tapi sekarang sudah jauh lebih maju, seperti daerah yang lain. Padahal dulu mereka sampai harus membuat sungai agar kebutuhan air di daerahnya dapat terpenuhi dengan baik”


“Wah, buat sungai bukannya sangat susah Ma? Sungai itu kan lebar dan dalam?” tanya Sasha dengan mata agak mendelik.


“Ya. Mereka harus bekerja sangat keras Nak” jawab saya lirih. 


Di lain waktu, mereka juga saya ajak ke pasar tradisional setempat.


“Pasarnya berbeda ya Ma, dengan pasar di tempat kita?” komentar Sasha saat melihat aneka macam buah dan sayur yang beberapa di antaranya jarang kami temui di kota kami. Cara pedagang mengemasnya juga menarik perhatiannya. Tak lupa kami membeli sejumlah makanan khas daerah yang umumnya hanya dijual di pasar tradisional seperti geblek, cemilan berbentuk gelang yang terbuat dari sagu dan singkong dengan pipihan kelapa yang kecil-kecil.


Beruntung, saat liburan kemarin juga bertepatan dengan Pameran Pembangunan tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah setempat. Dengan begitu, kami seolah ‘menjelajah’ Lampung dalam semalam. Beragam hasil kerajinan dan pertanian dari seluruh pelosok Lampung di pajang di rumah-rumah adat. Anak-anak terlihat takjub, betapa indah dan beragamnya Indonesia. Padahal ini baru Lampung.


Tiga minggu di Sai Bhumi Ruwa Jurai terasa begitu cepat berlalu. Liburan ala backpacker ini harus segera diakhiri. Cukup banyak pelajaran tentang keragaman Indonesia yang anak-anak peroleh terutama bahwa, Indonesia tidak hanya Jawa. Juga semangat berpetualang yang mulai terpatri di hati mereka agar tumbuh menjadi anak-anak yang mudah beradaptasi dengan hal baru dan mudah bertoleransi pada begitu banyak keragaman di tanah air. Dan salah satu ‘oleh-oleh’ yang dibawa anak-anak setelah berlibur ternyata, nada suara mereka menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Terutama Sasha.


“Mbak, bisakah suaranya agak dipelankan? Mama seperti mendengar orang marah kalau Mbak Sasha bicara” kata saya yang sempat kaget mendengar suaranya yang tiba-tiba.


Ah, kenapa jadi saya yang shock dengan suara keras ya? :)


# Tulisan telah dimuat di Majalah Parenting Edisi September 2013

7 komentar:

  1. Kereen banget mbaa Ririn..aku selalu suka dengan tulisanmu yang mengalir ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Tanti, apa kabar? Tulisan Mbak juga keren dan informatif.... :)

      Hapus
  2. Wah keren mak, anak2 jg enjoy bgt ya Meskipun perjalanan jauh.. Sip :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untungnya anak-anak enjoy Mbak, gak bisa dibayangin kalau mereka rewel. Alhamdulillah, senangnya lagi, kisah liburan mereka bisa terdokumentasikan di media :)

      Hapus
  3. seru banget Mbk, wah, pengen nulis juga ah di parenting, bagi alamatnya mbk.

    BalasHapus
  4. TFS mbak Ririn. makin mantep ah makin sering dimuat di media ;)

    BalasHapus
  5. Tulisan mbak Ririn selalu mengalir, enak dibaca, dan informatif. Senang bisa ikut membaca :)
    btw, cerita liburannya seru banget, Mbak :)

    BalasHapus

 
;