Rabu, 23 Oktober 2013

Mendorong TKI Kuliah di UT

Suasana Kuliah Tatap Muka di UT Taiwan, sumber foto : Majalah TIM

Meski berwirausaha idealnya menjadi prioritas utama, namun ada sejumlah tenaga kerja Indonesia atau TKI yang ingin bekerja di instansi atau perusahaan impian mereka sekembalinya ke tanah air. Sayangnya, masalah ijasah acapkali menjadi batu sandungan. Ini karena mayoritas TKI kita umumnya adalah lulusan SMA dan SMP bahkan masih banyak yang hanya lulus SD. Sehingga, meski terkadang memiliki pengalaman kerja yang bagus saat bekerja di luar negeri dan menguasai bahasa asing dengan baik, mereka tetap kesulitan untuk melamar kerja. Inilah salah satu persoalan krusial yang dihadapi TKI kita saat ingin memulai hidup baru di tanah air.


Dalam konteks dunia kerja di Indonesia, ijasah memang masih sangat diperhitungkan untuk melamar kerja. Seiring dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, ijasah SMA dan sederajat semakin kurang memiliki nilai jual karena berlimpahnya tenaga kerja yang memiliki ijasah sarjana. Dan TKI seringkali menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang terpinggirkan ini. 

Problem ini bisa diantisipasi jika sembari bekerja di luar negeri, TKI juga menuntut ilmu ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Salah satunya yang kini tengah digalakkan pemerintah adalah melalui Universitas Terbuka atau UT. UT beserta Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi bekerja sama untuk memfasilitasi TKI yang ingin meneruskan pendidikan ke jenjang sarjana. Kian hari, semakin banyak UT cabang luar negeri yang dibuka terutama di negara-negara yang menjadi tujuan utama pengiriman TKI.

Jangan Remehkan UT

Dalam dunia pendidikan Indonesia, nama UT memang tidak sepopuler universitas-universitas ternama lainnya. UT masih sering dianggap sebagai universitas kelas dua sehingga menjadi pilihan terakhir. Kuliah di UT sering dianggap kurang bergengsi. Beberapa juga menganggap kuliah di UT lebih sulit karena untuk beberapa program studi dan mata kuliah tidak diwajibkan tatap muka sebagaimana universitas lain pada umumnya.

Di luar sejumlah stigma dan anggapan masyarakat di atas, UT memiliki sejumlah kelebihan yang sangat kondusif bagi TKI untuk melanjutkan studi. Selain biaya yang relatif murah dan waktu belajar yang fleksibel, UT juga mudah ditemui tidak hanya di seluruh daerah di Indonesia namun juga di sejumlah negara terutama negara yang menjadi tujuan utama pengiriman TKI seperti Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Hongkong, Taiwan dan Korea. Selain negara-negara ini, mahasiswa UT juga tersebar di Amerika Serikat, Jepang, Rusia, Australia dan juga Yunani. Cabang-cabang UT ini terkoordinasi dalam satu jaringan sehingga memungkinkan TKI melakukan transfer studi dengan mudah dari satu cabang ke cabang lain baik dalam maupun luar negeri.

Selain jaringan yang luas, kualitas pembelajaran di UT yang per 30 November 2012 lalu memiliki mahasiwa aktif hampir 600 ribu orang juga tidak perlu diragukan lagi. UT tergolong dalam The Top Ten Mega University of the World dan salah satu anggota sekaligus pendiri The Global Mega-University Network (GMUNET). GMUNET yang didirikan pada tahun 2003 lalu merupakan jaringan universitas terbuka seluruh dunia dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar lebih dari 100 ribu orang.

Sementara itu, berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan oleh Webometrics, sebuah situs yang melakukan pemeringkatan universitas-universitas di seluruh dunia berdasarkan parameter digital (konten global yang terindeks oleh Google, jumlah rich file yang terindeks di Google Scholar dan karya akademik yang terpublikasi di jurnal internasional) pada Januari 2013 lalu, UT berada di peringkat ke-64 universitas terbaik di Indonesia dan peringkat 3544 untuk dunia. 

Program Wajib bagi TKI

Pengalaman, pendidikan dan gelar yang berhasil diraih TKI saat bekerja di luar negeri, tidak hanya akan memperbesar peluang dan pilihan mereka untuk bekerja saat kembali ke tanah air, namun juga sekaligus bisa menambah pengetahuan dan rasa percaya diri TKI untuk memulai babak baru yang lebih baik di kemudian hari. Pendidikan adalah langkah nyata untuk meningkatkan daya saing sekaligus menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih baik. 

Begitu pentingnya arti pendidikan ini bagi mereka, sebagaimana pentingnya arti pendidikan bagi setiap warga negara, tidak terlalu berlebihan jika melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi khususnya melalui Universitas Terbuka tidak hanya menjadi sebatas himbauan namun menjadi program wajib bagi TKI. Untuk mereka yang belum memiliki ijasah SMA dan sederajat, dapat difasilitasi dan didorong untuk mengejar program Kejar Paket sesuai dengan jenjang pendidikan yang dibutuhkan.

Untuk sejumlah negara yang sudah memiliki regulasi kondusif bagi TKI untuk bekerja sembari melanjutkan studi seperti Hongkong, yang mengharuskan perusahaan atau majikan memberi libur setiap minggu dan setiap hari libur nasional, kebijakan ini relatif lebih mudah diterapkan. Sementara untuk sejumlah negara yang masih belum memiliki regulasi semacam ini, pemerintah harus mengupayakannya dengan sungguh-sungguh melalui perjanjian bilateral atau MoU. 

Sejumlah regulasi dan kebijakan pendukung juga dibutuhkan di dalam negeri agar status alumni UT terutama mereka yang mantan TKI, dihargai dan mendapat perlakuan serta kesempatan yang sama seperti alumni universitas lain pada umumnya, baik oleh instansi maupun masyarakat. Dengan demikian, bekerja di luar negeri bagi TKI tidak hanya untuk mendapatkan modal usaha dan pengalaman kerja, namun juga kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Seperti kata pepatah, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. ***


# Tulisan telah dimuat di Harian Analisa, 13 Juli 2013

6 komentar:

  1. Ide yang sangat bagus, saya juga setuju dengan ide anda. Semoga saja para TKI menyadari adanya UT ini sebagai kesempatan bagus bagi mereka guna meningkatkan pendidikan mereka sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas kunjungannya Mbak Dyandra, semoga ide ini bisa segera terealisasi dan mendapat dukungan dari semua pihak..... :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Saya pernah mencoba mencari tau informasi mengenai hal ini, namun yang saya dapat nihil atau sangat terbatas. Mungkin saja pencarian saya kurang optimal, tapi saya berharap semoga ke depan, UT akan mendapatkan banyak alokasi beasiswa. Semoga....

      Hapus
  3. gimana ya cara mendaftar di UT??? bisa mohon bantuanya bu???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung datang ke kantor UT terdekat Mas, hmpr di setiap kota/region ada. Bisa datang setiap waktu. Nanti akan dimasukkan ke gelombang pendaftaran terdekat, biasanya 2x dlm setahun. Kalau tidak salah setiap Feb dan Agustus...

      Hapus

 
;