Senin, 21 Oktober 2013

Kurikulum Kebencanaan Penting, Tapi Tidak Cukup

Potongan video petunjung pelatihan rawan bencana sebagai kurikulum sekolah (Ilustrasi)
Sumber Foto : Republika

Hadirnya kurikulum kebencanaan di sekolah sempat membuat saya tenang manakala memikirkan bencana yang bisa terjadi kapan saja dan bisa menimpa siapa saja, termasuk ketika anak-anak tidak berada dalam pengawasan saya atau orang dewasa lainnya. Namun, percakapan dengan putri sulung saya, Sasha, yang ketika itu masih duduk di bangku kelas 3 SD, membuat saya berpikir bahwa tidak cukup hanya mengandalkan sekolah saja untuk mempersiapkan generasi yang siaga bencana. 

“Mama, tadi ada gempa waktu aku lagi belajar di kelas” cerita Sasha ketika itu. Kebetulan memang pada hari itu sebagian masyarakat di kota tempat saya tinggal, Jember, sedikit mengalami getaran karena gempa yang terjadi di kota Malang.

“Apa yang Mbak Sasha lakukan pas ada gempa tadi?” tanya saya menyelidik dengan rasa mulai khawatir. Khawatir anak-anak itu tidak tau cara yang benar untuk menyelamatkan diri saat bencana seperti itu terjadi.


“Kami teriak Ma, terus memeluk Bu Guru” jawabnya.

“Adik-adik kelas malah banyak yang nangis sambil juga memeluk bu gurunya” lanjut Sasha lagi sebelum saya sempat berkata apa-apa. 

Untunglah getarannya kecil. Kalau besar, apalagi kota tempat kami tinggal menjadi pusat gempa, menangis dan memeluk bu guru saja tidak cukup untuk menyelamatkan diri saat bencana terjadi. Apalagi, potensi bencana di negara kita sangat besar sehingga sejak dini anak-anak harus dibekali dengan pengetahuan yang cukup mengenai hal ini.

Percapakan di atas menjadi ‘teguran’ bagi saya untuk lebih berkomitmen dan melakukan tindakan nyata dalam memberi edukasi dan sosialisasi yang memadai mengenai bencana pada anak-anak saya. Karena, hanya mengandalkan kurikulum kebencanaan di sekolah saja ternyata tidak cukup untuk membangun generasi yang siaga bencana.


Mengenal Risiko Anak dalam Bencana

Anak-anak kerap menjadi korban terbesar saat bencana terjadi. Saat tsunami melanda Aceh pada tahun 2004 lalu misalnya. Diperkirakan sekitar 75 persen dari keseluruhan korban adalah anak-anak dan perempuan. Begitu pula saat gempa bumi terjadi di di Pakistan pada bulan Oktober 2005, diperkirakan lebih dari 16 ribu anak-anak meninggal akibat runtuhnya gedung sekolah. Longsor lahan di Leyte, Philipina, diperkirakan juga menewaskan lebih dari 200 anak sekolah. Sementara itu di Myanmar, 62 korban tewas saat badai Nargis adalah anak-anak dan perempuan.

Tingginya risiko anak menjadi korban dalam bencana membuat banyak negara memberi perhatian sangat serius terhadap hal ini. Termasuk Indonesia. Apalagi, Indonesia termasuk negara yang sangat rentan terhadap bencana. Salah satu terobosan penting yang dilakukan pemerintah untuk menekan risiko bencana pada anak-anak adalah dengan memasukkan materi kebencanaan dalam kurikulum pendidikan nasional di hampir semua jenjang. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. 

Dalam UU tersebut disebutkan bahwa pendidikan siaga bencana harus terintegrasi ke dalam program pembangunan, termasuk ke sektor pendidikan. Terhitung sejak tahun 2011, kurikulum kebencanaan resmi dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional. Tak hanya untuk jenjang sekolah dasar, menengah dan atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini juga menerbitkan buku panduan pendidikan siaga bencana untuk anak usia dini. Meski sejumlah terobosan ini penting, namun belum cukup untuk secara maksimal membangun generasi muda yang siaga bencana. Terdapat sejumlah alasan dan faktor yang melatarbelakanginya.

Belajar dari Jepang sebagai salah satu negara dengan mitigasi bencana terbaik di dunia, membangun masyarakat yang siaga bencana memerlukan waktu yang cukup panjang. Hampir satu abad (90 tahun tepatnya sejak terjadi gempa hebat melanda negara tersebut pada 1 September 1923), waktu yang diperlukan Jepang untuk membangun masyarakat yang siaga bencana seperti sekarang. Itupun tidak langsung berlangsung secara simultan. Ada pasang surut hingga gempa Kobe pada tahun 1995 lalu kembali memantik kesadaran mereka untuk lebih siaga terhadap bencana. 

Keberhasilan Jepang membangun masyarakat yang siaga bencana juga didorong oleh terintegrasinya pendidikan tentang kebencanaan dengan banyak sektor selain dunia pendidikan, juga melibatkan segenap komponen masyarakat. Sehingga, siaga bencana telah menjelma menjadi bagian dari budaya masyarakat Jepang. Tidak hanya orang dewasa yang mengerti bagaimana bersiaga terhadap bencana, anak-anak bahkan balita di sana juga memiliki pengetahuan yang sangat baik mengenai bagaimana bersikap benar saat bencana terjadi.


Siaga Bencana dari Rumah

Kurikulum kebencanaan penting, tapi tidak cukup. Untuk itu, rumah dan keluarga perlu turut mengambil bagian penting untuk membangun generasi siaga bencana. Ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh keluarga Indonesia untuk mempersiapkan generasi muda mereka menjadi generasi yang siaga bencana. 

  • ·         Dongeng sebelum Tidur tentang Kebencanaan
Dongeng dipercaya sebagai cara yang efektif dan menyenangkan bagi anak-anak untuk menanamkan nilai-nilai dan juga pelajaran berharga lainnya mengenai berbagai hal termasuk tentang kesiagaan terhadap bencana. Dalam dongeng yang identik dengan imajinasi, materi tentang siaga bencana dapat diselipkan melalui cerita-cerita binatang yang kerap mampu mengenali tanda-tanda bencana di sekitar mereka. Dalam cerita sebelum tidur ini pula, para orang tua juga bisa berkisah tentang kearifan lokal nenek moyang kita dalam mengenali gejala bencana dan bagaimana mereka bersikap arif dan bijak terhadap alam untuk meminimalisir bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia. Cara ini tidak hanya efektif untuk anak-anak di usia sekolah namun juga anak-anak usia dini bahkan balita. Sehingga dalam konteks ini, anak tak perlu menunggu memasuki usia sekolah untuk memiliki pengetahuan kebencanaan sejak dini. Semakin dini mereka mengetahuinya, maka akan semakin siap mereka menghadapi bencana yang bisa terjadi kapan saja.

  • ·      Melalui Bacaan yang Edukatif dan Atraktif
Edukasi dan sosialiasi kebencanaan juga akan mudah dipahami oleh anak-anak jika disampaikan melalui bahan bacaan yang edukatif dan atraktif. Melalui komik misalnya. Edukasi dan sosialisasi kebencanaan melalui komik khususnya manga (komik gaya Jepang), pernah dilakukan oleh Yuka, mantan Miss Japan untuk Miss Asia Pasific 2005, yang terpanggil hatinya untuk mempersiapkan masyarakat terutama perempuan dan anak-anak agar lebih siaga terhadap bencana. Yuka yang memiliki latar belakang sebagai jurnalis di NHK International ini menggandeng Nayu Hanii, komikus Jepang yang bekerja untuk majalah Sho-comi. Yuka memilih manga sebagai media edukasi karena menganggap cara ini sangat mudah dan menyenangkan terutama bagi anak-anak untuk memahami pesan moral yang dikandung di dalamnya. Dengan dana pribadinya, Yuka menyebarkan komiknya ke berbagai daerah rawan bencana baik di Jepang maupun di luar Jepang, termasuk Indonesia, tepatnya Aceh. Tentu saja, komik Yuka sebelumnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Cara Yuka di atas bisa menjadi inspirasi bagi para komikus, penulis dan penerbit di Indonesia untuk turut ambil bagian dalam membangun generasi muda Indonesia yang siaga bencana. Tugas orang tua, sekolah dan juga pemerintah adalah membuka sebesar-besarnya akses anak terhadap bacaan yang sangat berguna seperti ini.

  • ·         Edukasi Kebencanaan Melalui Film Dokumenter dan Animasi
Cara lain yang tak kalah menyenangkan namun sangat  efektif untuk membangun generasi siaga bencana adalah melalui audio visual terutama film baik film dokumenter maupun film animasi yang umumnya sangat disukai oleh anak-anak. Dunia perfilman kita sebenarnya sudah cukup mumpuni untuk menghasilkan karya yang berkualitas dalam jumlah yang cukup. Perlu ada gebrakan dari pemerintah untuk menyinergiskan kurikulum kebencanaan yang telah ada dengan berbagai sektor strategis seperti dunia perfilman sehingga upaya membangun generasi muda dan masyarakat yang siaga bencana bisa semakin terakselerasi.

  • ·         Praktik melalui Outbond dan Kegiatan Rekreasi
Teori saja tentu tidak cukup. Anak-anak perlu berlatih secara langsung melalui cara-cara yang menyenangkan. Sejumlah cara yang bisa menjadi pilihan antara lain melalui kegiatan outbond ataupun kegiatan rekreatif lain yang bisa melatih daya ketangkasan dan kecintaan anak terhadap alam. Melalui kegiatan luar ruang ini, anak bisa berinteraksi lebih dekat dengan alam. Poin ini sangat penting karena sejumlah bencana yang mengintai kita juga ada yang disebabkan oleh perilaku manusia yang kurang arif pada alam dan lingkungan. Sehingga dalam konteks ini, anak tidak hanya diajarkan bagaimana bisa survive saat bencana terjadi, namun juga tau bagaimana cara mencegah bencana yang diakibatkan oleh tangan-tangan jahil manusia. Seperti bencana banjir dan kebakaran.
·          
  • Melatih Kepedulian, Empati dan Charity Anak
Selain kesiagaan diri terhadap bencana, kepedulian, empati dan sikap sosial anak terhadap mereka yang menjadi korban bencana juga perlu dilatih. Pembelajaran ini sangat penting karena korban bencana umumnya sangat membutuhkan bantuan untuk kembali bangkit dan pulih. Untuk menumbuhkembangkan kepedulian, empati dan charity anak, mereka dapat dilibatkan secara langsung saat pengumpulan bantuan bagi korban bencana, seperti dengan menyisihkan sebagian uang saku maupun pakaian dan mainan yang masih layak pakai. 

                
           Sejumlah langkah di atas terbilang cara yang mudah namun memiliki manfaat yang sangat luar biasa untuk membantu menyukseskan program pemerintah dalam membangun generasi yang siaga bencana sejak dini melalui kurikulum kebencanaan di sekolah. 

Bencana bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Jangan menunggu anak masuk usia sekolah untuk membekali mereka tentang pengetahuan yang penting ini. Saat sudah masuk sekolahpun, hanya mengandalkan kurikulum kebencanaan di sekolah saja juga tidak cukup. Saatnya para orang tua dan keluarga Indonesia memainkan peran yang penting dan strategis untuk membangun generasi muda dan masyarakat yang siaga bencana.





2 komentar:

  1. kalau di gresik, belum ada mak kurikulum ini. tapi memang perlu sekali ya. mengingat lokasi indonesia yang kepulauan. makasih informasinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum sampai di semua sekolah sepertinya Mbak, di kota saja banyak yang belum, apalagi pelosok. Sehingga sebagai orang tua kita harus bersikap proaktif dan mengantisipasi sejak dini, termasuk pembekalan saat menghadapi gejala-gejala kriminalitas yang kian marak saja akhir-akhir ini. Terimakasih sudah mampir Mbak Rochma..... :)

      Hapus

 
;