Selasa, 15 Oktober 2013

"Kembar Banyak"



Femina No.29 Edisi Juli 2013
“Apa kabar Bu Dokter?” sapa seorang ibu paruh baya dengan ramah sembari meletakkan tangannya di bahu kanan saya. Saya yang tengah asyik memilih lauk dan sayur di warung pecel langganan sempat kaget beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum semanis mungkin. Si ibu pasti salah orang, gumam saya dalam hati. Benar, tak lama kemudian si ibu menarik tangannya dengan cepat sambil meminta maaf.


“Maaf Jeng, saya kira tadi istrinya Dokter Rouf” kata si ibu dengan ekspresi sedikit malu karena tadi sudah sok akrab di depan banyak orang. Sementara Bu Suyud, si pemilik warung, justru tertawa lebar.

“Bukan Ibu saja yang salah menduga, saya sama Bapak sering engkel-engkelen kalau Mbak ini mirip sekali dengan istrinya Dokter Rouf” jelas Bu Suyud dengan sedikit tawa yang masih tersisa. Ya, Pak Suyud juga pernah mengira saya sebagai “Bu Dokter”.

“Ada yang ketinggalan Bu, koq datang lagi?” tanya Pak Suyud menyambut kedatangan saya di warungnya beberapa waktu lalu.

“Saya belum belanja ke sini sepagi ini Pak” terang saya.

“Perasaan tadi pagi sudah ke sini” kata Pak Suyud dengan ekpresi bingung sendiri.

“Yang tadi pagi istri Dokter Rouf Pak, yang ini bukan. Mbak ini memang mirip sekali dengan Bu Dokter” jelas Bu Suyud mencoba mengakhiri kebingungan suaminya.

Bukan kali ini saja orang-orang mengira saya sebagai orang lain yang mereka kenal. Cukup sering. Kalau dhitung-hitung, mungkin sudah puluhan kali sejak saya kecil. Wajah saya sepertinya memang pasaran sekali.

Sering terjadi ketika sedang asyik jalan-jalan, tiba-tiba ada yang tersenyum dan menyapa dengan akrab. Barulah setelah benar-benar dekat atau sempat ngobrol beberapa saat, yang bersangkutan baru ngeh kalau mereka salah orang. Tapi ada juga yang tetap ngotot, kalau saya ini adalah benar-benar orang yang mereka maksud. Seperti kejadian di toko buku beberapa waktu lalu.


  • “Dian kan?” kata seorang pria muda yang tiba-tiba menyapa dengan akrab. Merasa tak kenal, dengan cepat saya berkesimpulan kalau dia salah orang.

“Bukan, sepertinya Mas salah orang” jawab saya sambil tersenyum dan kembali membaca sinopsis buku yang saya pegang sejak tadi.

“Ini pasti Dian dari Unibraw, apa kabar?” katanya kemudian dengan yakin dan gembira seakan bertemu dengan sahabat lama. Saya kembali tersenyum sambil menggeleng.

“Ah gak mungkin” Ekspresi wajahnya seolah mengatakan, “Ayo, mengakulah”.

Sejenak saya bingung bagaimana meyakinkan si cowok bahwa saya bukan orang yang dia maksud. Untunglah tiba-tiba Naura, putri bungsu saya yang berumur empat tahun, nongol dengan buku mewarnai yang ingin dibelinya.

“Sudah ketemu bukunya Sayang?” tanya saya pada Naura.

“Sudah Ma” jawab Naura sembari menunjukkan buku mewarnainya. Saya bersorak dalam hati karena tak perlu menjelaskan apa-apa lagi pada cowok yang ngotot bahwa saya adalah temannya.

“Permisi” kata saya padanya sambil menggandeng Naura dan bergegas ke kasir. Ia hanya melongo dengan ekspresi agak kecewa bahwa saya bukan orang yang dimaksudnya.

Bukan orang asing saja yang sering salah menduga. Beberapa teman yang terbilang cukup sering berinteraksi juga sering menduga saya sebagai orang lain yang mereka kenal. Tetangga dekat bahkan juga pernah mengira saya sebagai orang lain. Ini terjadi karena menurut beberapa orang, saya sangat mirip dengan teman sebaya yang hanya berjarak satu rumah dengan saya. Begitu miripnya sampai-sampai guru dan teman-teman sekelas waktu SD dan SMP sering mengira kami kembar identik. Tak hanya guru dan teman yang suka pangling. Jika kebetulan kami memakai seragam atau baju yang sama, kakak dan adik teman saya itu sering memanggil saya dengan nama teman saya. Mungkin karena sebegitu miripnya kami. Untunglah keluarga saya belum pernah salah membedakan antara saya dan teman saya itu. Hanya saja, ada kejadian lucu beberapa waktu lalu yang lagi-lagi membuat saya berkesimpulan bahwa ada “kembaran” saya yang lainnya.

Saya sudah tidur ketika Bapak yang tinggal beda pulau dengan saya tiba-tiba menelpon. Karena jarang sekali Bapak menelpon saat malam sudah cukup larut, dengan cepat saya terima telpon dari beliau meski mata masih sangat mengantuk.

“Ririn, kamu barusan masuk TV ya?” tanya Bapak to the point dengan suara riang. Sebelum menjawab saya pastikan lagi siapa yang menelpon di layar HP, jangan-jangan karena mengantuk saya salah baca. Tapi tetap saja, nama dan nomor Bapak yang tertera di sana.

“Saya sudah tidur Pak, mana mungkin saya masuk TV” jawab saya dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih.

“Tapi tadi kamu bener-bener ada di TV” kata Bapak dengan sangat yakin. Aduh Pak, kalau saya masuk TV, semua keluarga pasti saya kabari. Kalau perlu orang sekampung saya kasih tau. Gumam saya dalam hati.

“Saya memang pernah masuk TV Pak, tapi itu sudah lama, mungkin ini tayangan ulang” jawab saya tak ingin mengecewakan Bapak

“Ini live koq” kata Bapak masih dengan nada sangat berharap bahwa yang beliau lihat di TV adalah benar anaknya. Ya ampun, Bapakpun akhirnya salah menduga orang lain sebagai anaknya. "Kembaran" saya benar-benar banyak  rupanya :)

  
# Tulisan telah dimuat di Majalah Femina No.29 Juli 2013



8 komentar:

  1. Selamat yah mbak cerpennya sukses menembus Femina, so proud of you :)
    boleh dong berbagi tips supaya bisa bikin cerita yg keren gini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini bukan cerpen Mbak, hanya sharing pengalaman sehari-hari saja, nama rubriknya Gado-gado. Sesuai namanya jadi kita bisa menulis tentang apa saja :)

      Hapus
  2. Keren tulisannya mbak ririn ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo Mbak Hacky, satu gerbong lagi di Gado-gado Femina :)

      Hapus
  3. Keren Mb Ririn... Saya penggemar tulisannya mb ririn lho... :)

    BalasHapus
  4. hihii, aku malah kadang menemukan orang mirip aku, Maaak selamat y

    BalasHapus
  5. tulisannya keren mbak, jadi terinspirasi ingin menggali bakat yang sudah lama terpendam. sukses terus ya mbak

    BalasHapus

 
;