Rabu, 18 September 2013

Memahami dan Memanfaatkan Fasilitas Asuransi Kesehatan dengan Optimal


Asuransi Kesehatan
Foto dari sini

“Mbak, anaknya hobi banget ya ke dokter? Pake opname lagi tiap tahun” komentar seorang kerabat saat mengetahui putri sulung saya, Sasha, kembali opname pada awal tahun lalu. 

Sasha yang ketika itu masih duduk di bangku kelas 3 SD, secara kebetulan harus menjalani rawat inap setiap tahun sejak duduk di bangku kelas 1 karena tipes. Padahal saya sudah cukup ketat menjaga asupan makanan dan membatasi kegiatannya. Sama dengan orang tua lain, sayapun tidak mau anak saya sakit apalagi sampai harus dirawat di rumah sakit. Tapi jika sakit sebagai sebuah musibah tak lagi bisa ditolak, maka sebagai orang tua saya akan mengupayakan penanganan terbaik untuk anak saya agar segera sembuh dari sakitnya.


“Sakit begitu saja koq pake opname sih? Merobek-robek uang saja” komentar inipun pernah saya dengar. ‘Merobek-robek uang’ adalah istilah yang sering digunakan oleh banyak masyarakat di sekitar saya, yang kurang lebih memiliki pengertian sebagai 'tindakan pemborosan'.


“Dokter yang menyarankan untuk opname agar proses kesembuhannya lebih optimal” jawab saya apa adanya.


“Tapi rawat inap di kamar yang bagus begitu kan mahal Mbak, apalagi pakai dokter spesialis” komentar lain yang juga kerap dilontarkan pada saya. Fakta soal biaya berobat yang mahal tak bisa saya pungkiri.


Sebagai orang yang cukup akrab dengan dokter dan rumah sakit, saya merasakan sendiri bahwa biaya berobat kian hari memang semakin mahal.[1] Tak hanya biaya periksa dokternya saja, harga obat dan pemeriksaan laboratorium dan penunjang lainnya juga terus mengalami kenaikan. Untungnya, kami memiliki asuransi kesehatan yang disediakan oleh kantor suami sehingga hampir 100 persen biaya kesehatan saya, suami dan anak-anak, ditanggung oleh perusahaan asuransi yang menjadi mitra.


“Wah enak juga ya Mbak, kalau punya asuransi” akhirnya kalimat positif ini saya dengar juga :)


Ya, memiliki asuransi kesehatan memang sangat membantu. Tak hanya ketika kita benar-benar sakit, namun juga bisa dimanfaatkan untuk mengantisipasi sakit yang lebih serius atau parah melalui pemeriksaan dini.


“Memang kalau punya asuransi kesehatan, semua biaya ditanggung Mbak?” ini adalah pertanyaan yang sering ditanyakan oleh teman atau kerabat yang terbilang masih sangat awam terhadap asuransi, khususnya asuransi kesehatan. Sebuah pertanyaan yang bisa dibilang mewakili sebagian besar masyarakat kita mengingat penetrasi asuransi di Indonesia masih sangat rendah[2].


Dalam kasus saya, asuransi kesehatan yang diberikan oleh kantor suami sebenarnya tidak termasuk dalam kategori asuransi kesehatan yang ‘wah’. Beberapa penanganan khusus seperti kehamilan dan kelahiran, gigi dan mata bahkan tidak tercover di dalamnya. Sistemnyapun masih memakai reimburse untuk rawat jalan sehingga karyawan dan keluarganya harus menggunakan uang pribadi terlebih dahulu. Sedang untuk rawat inap bisa menggunakan kartu yang telah disediakan di sejumlah rumah sakit yang telah ditentukan.


Cakupan layanan yang kurang lengkap dan prosedur yang agak ribet ini tidak mematahkan semangat saya untuk mengambil manfaat sebesar mungkin dari asuransi kesehatan yang saya miliki. Tanpa menunggu ada anggota keluarga yang sakit terlebih dahulu, saya bersikap proaktif mencari informasi selengkap mungkin tentang detil asuransi kesehatan yang disediakan oleh kantor suami. Terutama terkait dengan cakupan layanan kesehatan yang ditanggung oleh asuransi dan prosedur pengklaiman yang memungkinkan penggantian bisa maksimal. Atau setidaknya, saya tidak ‘nombok’ terlalu banyak mengingat biaya pengobatan yang sangat mahal.


Pencarian informasi biasanya saya lakukan dengan bertanya langsung pada pegawai di kantor suami yang bertugas menangani masalah asuransi kesehatan karyawan. Jika informasi yang saya butuhkan masih belum jelas atau saya membutuhkan informasi tambahan, biasanya saya akan bertanya pada teman yang pernah memanfaatkannya. Dengan berbekal informasi yang cukup memadai ini, saya merasakan sekali manfaat dari asuransi kesehatan yang disediakan oleh kantor suami.


Sejumlah prosedur yang biasa saya lakukan untuk rawat jalan antara lain, lebih dahulu berobat ke dokter umum sebelum minta dirujuk ke dokter spesialis; lebih suka menggunakan obat generik daripada obat paten kecuali jika obat generiknya memang belum atau tidak ada. Dan agar penggantian biaya bisa maksimal, selain mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan asuransi, saya juga menyimpan dengan baik berbagai bukti administrasi baik untuk biaya periksa dokter, obat maupun laboratorium dan penunjang lain. Dengan tertib administrasi semacam ini dan disiplin soal batas waktu pengklaiman, biaya penggantian klaim tidak hanya maksimal namun prosesnya juga berlangsung lebih cepat.


Sedang untuk rawat inap, saya pelajari dengan seksama fasilitas dan layanan rumah sakit yang menjadi hak saya dan keluarga sesuai dengan ketentuan dari pihak asuransi. Misal, tipe kamar dan jenis dokter yang melayani, apakah dokter umum atau spesialis. Begitu pula dengan jenis obatnya termasuk jika harus dilakukan tindakan operasi. Dengan informasi yang cukup lengkap, saya bisa mengira-ngira dan mempersiapkan berapa biaya yang nanti harus saya keluarkan dalam cost sharing dengan pihak asuransi. So far, semua berjalan cukup baik dan terkendali selama ini.


Mengingat asuransi kesehatan dari kantor suami tidak meng-cover sejumlah layanan kesehatan khusus lain seperti kehamilan dan kelahiran, mata dan juga gigi, saya dan suami sempat berwacana untuk menambah asuransi kesehatan lain bagi keluarga kami. Sejumlah pertimbangan yang masuk dalam list kami antara lain, cakupan layanan yang lebih luas terutama untuk sejumlah layanan yang tidak tercover oleh asuransi kesehatan sebelumnya, kemudahan prosedurnya, dan tentu saja keterjangkauan preminya.


Di tengah perkembangan industri asuransi tanah air yang terus bergeliat, tersedia banyak pilihan jenis asuransi khususnya asuransi kesehatan, yang bisa dipilih. Mulai dari cakupan penyakit yang lebih lengkap bahkan hingga ke penyakit kronis seperti kanker, perlindungan yang optimal terhadap anggota keluarga yang mungkin belum tercover asuransi kesehatan lain, jangkauan rumah sakit yang luas sampai ke mancanegara hingga jenis asuransi syariah untuk keluarga muslim. Salah satu perusahaan asuransi yang memiliki produk cukup lengkap seperti ini adalah Sun Life Financial.[3]


Jangan tunggu sakit, pahami sekarang juga manfaat asuransi kesehatan bagi kita dan keluarga. Manfaatkan dengan optimal jika telah memilikinya, tak hanya ketika sudah benar-benar sakit namun juga untuk mengantisipasi sebelum sakit menyerang atau bertambah parah. Yang tak kalah penting, jaga terus kesehatan karena kesehatan itu sangat mahal, tapi sakit jauh lebih mahal.



[1] Menurut hasil survei Global Medical Trends Report dari Towers Watson pada tahun 2012, rata-rata kenaikan biaya pengobatan di Indonesia dari 2009 sampai 2011 terus meningkat dari 10,70 persen ke 13,55 persen per tahun. Pada periode yang sama, berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk 2011-2012, rata-rata kenaikan pendapatan orang Indonesia hanya 1,2 persen per tahun.



[2] Menurut data yang dirilis Fitch Media Department, penetrasi asuransi di Indonesia baru mencapai 1,7 persen. Angka ini masih tergolong rendah bila dibandingkan Amerika Serikat (AS) yang menembus 8,1 persen dan 11,8 persen di Inggris. Kitapun masih kalah dari dua negara tetangga di ASEAN, Singapura dan Malaysia, yang penetrasinya sudah mencapai 4 persen. Secara lebih khusus, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kurang dari 3 persen masyarakat kita yang memiliki asuransi kesehatan komersial. Sedangkan sekitar 60-75 persen masyarakat membayar biaya perawatan medis dengan dana sendiri.



[3] Sun Life Financial adalah sebuah perusahaan penyedia layanan jasa keuangan internasional terkemuka yang menyediakan beragam produk proteksi dan akumulasi kekayaan, serta pelayanan klien baik individu maupun korporasi Salah satu produk terbaru dari Sun Life untuk kategori asuransi kesehatan adalah Sun MED, suatu produk yang menyediakan solusi perlindungan pintar yang lengkap untuk semua kalangan nasabah dengan usia pertanggungan mulai dari 15 hari sampai 88 tahun. Fitur-fitur yang terdapat dalam Sun MED memungkinkan nasabah menikmati sistem non-tunai (cashless) yang sederhana yang akan mendapatkan layanan yang cepat dari rumah sakit. Produk ini baru diluncurkan pada Juni 2013 lalu.

3 komentar:

  1. Betul mba, asuransi bagaikan bantuan di kala susah :) Salam kenal, saya tahu anda dari IIDN dan menjadi pembaca terutama terkait tips dan trick terkait penulisan. Terima kasih banyak untuk sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih dan salam kenal kembali Mbak Karila :)

      Hapus
  2. aurasi memang sangat di perlukan di jaman sekarang

    BalasHapus

 
;