Kamis, 29 Agustus 2013

Mendongkrak Promosi Pariwisata Melalui ‘Ujung Jari’



Acara masak-memasak di sebuah saluran televisi khusus memasak siang itu memantik kesadaran saya betapa pentingnya arti sebuah promosi yang kreatif untuk memajukan sektor pariwisata sebuah negara. Di acara yang dipandu oleh dua presenter tersebut, satu dari Malaysia dan satu dari Indonesia, terlihat jelas bagaimana agresifnya presenter Malaysia mempromosikan tempoyak sebagai salah satu makanan khas dan kebanggaan masyarakat Perak, salah satu kota di Malaysia. 


Tempoyak.jpg
Tempoyak yang belum dimasak, sumber foto Wikipedia

Sejenak saya terdiam lalu terlintas sebuah pikiran negatif, “Jangan-jangan, Malaysia nge-klaim lagi nih”. 

Saya berasumsi demikian, karena sebagai orang yang besar di Sumatera, tepatnya di Provinsi Lampung, saya sangat familiar dengan tempoyak. Makanan yang terbuat dari durian yang difermentasi ini saya anggap sebagai miliknya orang Lampung, milik orang Sumatera. Pokoknya, Indonesia punya :)



Eitss, tunggu dulu. Pikir saya kemudian. Sebelum berprasangka lebih jauh terhadap saudara serumpun kita itu, saya searching di internet. Sebenarnya, asal tempoyak itu dari mana dan milik siapa? 

Dari sejumlah penelusuran di dunia maya saya dapatkan informasi bahwa tempoyak ternyata merupakan makanan khas rumpun bangsa Melayu, yaitu Indonesia (antara lain Lampung, Palembang dan Kalimantan) dan Malaysia. Artinya, tempoyak bukan hanya milik orang Indonesia. Jika kemudian dunia lebih mengenal tempoyak sebagai salah satu makanan khas Malaysia, salah siapa coba? Tak bisa kita pungkiri, Malaysia merupakan salah satu negara yang tak hanya sangat rajin dan sungguh-sungguh merawat tradisi dan budaya masyarakatnya, namun juga sangat gencar dan kreatif dalam mempromosikan sektor dan aset pariwisatanya ke berbagai penjuru dunia melalui berbagai media, termasuk dalam acara masak-memasak tadi yang sangat sarat dengan promosi pariwisata di dalamnya.




Pariwisata sebagai Primadona Ekonomi Baru


Sektor pariwisata kini muncul sebagai salah satu primadona baru ekonomi masyarakat dan negara-negara di dunia. Munculnya tren ini didorong oleh banyak faktor. Salah satu sebab utamanya adalah semakin menipisnya sumber daya alam yang selama ini menjadi sandaran utama sehingga memaksa banyak negara mencari sumber alternatif lain yang tak kalah prospektif. Hadirnya gelombang ekonomi baru dalam peradaban manusia yakni era ekonomi kreatif, turut mengakselerasi eksistensi dan kontribusi sektor pariwisata sebagai primadona ekonomi baru. Dalam perkembangannya, sektor ini terbukti mampu mendatangkan banyak keuntungan ekonomi dan sejumlah keuntungan lain yang sangat bermanfaat untuk memajukan kehidupan masyarakat dan negara sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah data. 


Data International Labour Organization atau ILO misalnya. Menurut ILO, sektor pariwisata telah menciptakan 244 juta pekerjaan atau 8,7 persen dari penyerapan tenaga kerja di dunia (sekitar 1 dari 12 pekerjaaan di dunia) pada tahun 2011 lalu, di mana setiap 1 pekerjaan di sektor pariwisata umumnya menciptakan 2 pekerjaan di sektor terkait. Data ILO ini sejalan dengan hasil kajian World Economic Forum (WEF) terhadap sektor pariwisata yang menunjukkan bahwa kontribusi sektor ini terhadap PDB dan penyediaan lapangan kerja rata-rata mencapai 9 persen setiap tahunnya dengan tren kenaikan yang sangat positif dari tahun ke tahun. Untuk kawasan Asia Tenggara, WEF mencatat kontribusi sektor pariwisata mencapai 4,6 persen terhadap PDB negara-negara ASEAN dan 10,9 persen jika dihitung dengan dampak tidak langsungnya. Dampak positif lainnya adalah 9,3 juta orang bekerja di sektor ini dan diperkirakan mencapai 25 juta orang bila dihitung dengan dampak tidak langsung. 


Untuk Indonesia sendiri, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012, sektor pariwisata sepanjang 2011 berkontribusi sebesar 8,554 miliar dolar AS bagi devisa negara. Nilai kontribusi ini menempatkan pariwisata dalam ranking kelima di bawah migas, batu bara, minyak kelapa sawit dan karet olahan. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, tercatat sebanyak 8,53 juta orang bergerak di bidang pariwisata atau mencapai kontribusi 7,72 persen untuk tahun yang sama. Pajak tak langsung dari sektor pariwisata pada 2011 mencapai Rp10,72 triliun atau berkontribusi sebesar 3,85 persen. Adapun upah dari sektor pariwisata pada 2011 mencapai Rp96,57 triliun atau naik dibandingkan tahun 2010 yang mencapai Rp84,80 triliun. 


Tak hanya sangat penting dilihat dari kontribusinya terhadap PDB dan penyediaan lapangan kerja, sektor pariwisata juga dinilai berpengaruh positif dalam memajukan ekspor suatu negara  dan terciptanya pembangunan yang berkelanjutan melalui sustainable tourism. Prospek pariwisata ke depan juga sangat menjanjikan, sebagaimana dikemukakan oleh World Tourism Organization (WTO) yang memperkirakan jumlah wisatawan dunia akan mencapai sekitar 1,602 milyar orang pada tahun 2020, di mana sekitar 438 juta orang di antaranya berada di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Dengan perkiraan jumlah wisatawan sebanyak ini, sektor pariwisata diperkirakan akan mampu menciptakan pendapatan dunia sebesar USD 2 triliun pada tahun 2020. 


Dengan sejumlah kontribusi penting dan prediksi sangat menjanjikan di atas, tak mengherankan jika kemudian banyak negara menjadikan pariwisata sebagai primadona ekonomi baru, berdampingan bahkan mulai menggantikan sektor lain yang selama ini menjadi sandaran utama seperti minyak dan gas bumi. Persaingan di sektor inipun dipastikan akan semakin sengit karena kesadaran setiap negara tentang pentingnya pariwisata sebagai pilar pembangunan ekonomi semakin meningkat. Banyak negara telah ‘pasang kuda-kuda’, siapa cepat dia dapat.




Promosi, Kunci Memenangkan Persaingan


Seiring dengan semakin ketatnya persaingan di sektor pariwisata, negara-negara di dunia kian gencar melakukan promosi pariwisatanya melalui berbagai cara dan media. Promosi diyakini sebagai cara paling efektif untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata sebuah negara kepada dunia. Semakin banyak yang tau dan tertarik, maka akan semakin besar peluang negara yang bersangkutan menjadi destinasi favorit. Dengan begitu, pendapatan negara dari sektor ini bisa bertambah secara signifikan, roda perekonomian masyarakat terus berputar, tercipta lapangan kerja baru, kesejahteraan masyarakat meningkat dan sejumlah multiplier effect lainnya.


Agar hasilnya optimal, promosi tidak lagi hanya dilakukan melalui cara-cara mainstream seperti iklan di media massa cetak dan elektronik baik dalam maupun luar negeri, namun juga dikemas secara kreatif melalui berbagai cara dan media lain secara tidak langsung. Seperti yang dilakukan oleh presenter Malaysia dalam acara masak-memasak yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Meski tema besar acara tersebut adalah memasak, namun ada ‘promosi terselubung’ yang dikemas secara apik di dalamnya. Uniknya lagi, kesadaran, rasa memiliki dan tanggung jawab sebagai duta promosi pariwisata seakan telah mendarah daging dalam banyak benak orang Malaysia. Bersama-sama, mereka gencar mempromosikan pariwisatanya yang terkenal dengan jargon “the truly asia”. Sesuatu yang patut kita tiru mengingat Indonesia memiliki banyak sekali potensi pariwisata yang sebagian besar di antaranya tak ubahnya masih seperti harun karun. Banyak potensi pariwisata Indonesia yang belum dikenal oleh dunia bahkan oleh masyarakat Indonesia sendiri. 


Kurangnya anggaran menjadi salah satu sebab utama tertinggalnya promosi pariwisata kita dari negara-negara tetangga. Menurut data dari Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI), dari kebutuhan ideal sebanyak Rp 1 triliun per tahun untuk biaya promosi, BPPI hanya mendapat kucuran anggaran sebesar Rp 20 miliar dari APBN. Kurang optimalnya promosi pariwisata Indonesia membuat kita hanya berhasil menempati posisi kelima di Asia Tenggara di bawah Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam dilihat dari berbagai aspek keunggulan pariwisatanya, sebagaimana disebutkan dalam ‘The ASEAN Travel & Tourism Competitiveness Report 2012’ oleh World Economic Forum. Padahal, dilihat dari segi potensi pariwisata yang jauh lebih banyak dan beragam, kita seharusnya lebih unggul dari keempat negara tersebut.




Geliat Promosi Pariwisata Indonesia


Di tengah keterbatasan anggaran dan gempuran promosi pariwisata negara lain yang semakin gencar, promosi pariwisata Indonesia sebenarnya mulai menunjukkan indikasi kebangkitannya. Dalam tataran pemerintahan misalnya, hadirnya kementerian baru yang lebih fokus mengurusi bidang pariwisata dalam Pemerintahan Kabinet Bersatu yakni Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) merupakan salah satu wujud keseriusan dan komitmen pemerintah untuk memajukan sektor pariwisata di Tanah Air. Kementerian ini tidak hanya fokus pada pengembangan sektor pariwisata namun sekaligus juga menyandingkannya dengan ekonomi kreatif sebagai satu kesatuan yang saling mendukung satu sama lain. 


Dengan jargon 'Wonderful Indonesia', Kemenparekraf melakukan sejumlah terobosan penting. Seperti yang dilakukan pada tahun 2012 lalu melalui tiga strategi utama, yakni sales mission atau direct selling, penyelenggaraan acara berskala nasional maupun internasional dan pergelaran festival serta pekan seni budaya langsung di daerah-daerah potensial. Selain tiga strategi ini, Kemenparekraf juga mengoptimalkan promosi khusus untuk menyasar segmen-segmen tertentu seperti promosi secara online dan mengoptimalkan fungsi pusat informasi wisata yang telah ada misalnya di bandara-bandara internasional di Tanah Air. Strategi promosi pariwisata ini terbukti cukup efektif yang antara lain ditunjukkan oleh kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang melebihi target 8 juta orang sampai akhir 2012.


Selanjutnya, Kemenparekraf juga menyiapkan road map yang lebih luas untuk memperkenalkan 16 kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN) dan tujuh kawasan minat khusus di Indonesia yang diharapkan sudah tersosialisasi dengan baik pada tahun 2014. Ke-16 KSPN dan 7 kawasan minat khusus itu antara lain Sumatera dengan Danau Toba dan sekitarnya; Jakarta dengan Kota Tua dan Kepulauan Seribu; Yogyakarta dengan Borobudur dan sekitarnya; Jawa Timur dengan Gunung Bromo dan Tengger; Bali dengan Menjangan, Pemuteran; NTB dengan Rinjani; NTT dengan Kalimutu; Kalimantan dengan Derawan dan Tanjungputting; Sulawesi dengan Bunaken dan Wakatobi; Papua dengan Raja Ampat. Sementara untuk tujuh minat khusus meliputi wisata sejarah, shopping, spa, sport, kesehatan, cruise, dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition).



Meski terbilang tertinggal dari negara lain, geliat promosi pariwisata juga mulai serius dilakukan oleh pihak swasta. Salah satunya dengan munculnya saluran televisi kabel yang khusus mengulas tentang keindahan dan pariwisata Nusantara yakni Indonesia Channel. Saluran televisi ini merupakan hasil kerja sama DNA Production, TelkomVision dan Kemenparekraf. Kehadiran saluran televisi kabel dengan dua bahasa ini (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) diharapkan dapat membantu masyarakat untuk lebih mengenal Indonesia dari sisi pariwisata dan industri kreatif. Para traveller juga diharapkan bisa mendapat beragam informasi seputar destinasi. Selain saluran khusus ini, sejumlah stasiun televisi swasta juga menambah porsi acara mengenai pariwisata Tanah Air. Sama halnya dengan Malaysia, sejumlah acara lain seperti acara memasak atau fashion juga mulai disisipi promosi pariwisata di dalamnya.


Selain media televisi, promosi pariwisata Tanah Air juga kian gencar dilakukan di dunia maya. Semakin banyak website atau situs yang secara khusus mengulas dan mempromosikan pariwisata Indonesia. Salah satu yang meramaikan kancah ini adalah adirafacesofindonesia.com. Di web ini, pengunjung bisa membaca artikel yang diisi oleh para member dan juga tim ekspedisi yang sengaja menyelami kawasan-kawasan wisata dari Sabang hingga Merauke. Web ini juga menampung tulisan dari masyarakat yang ingin berpartisipasi mempromosikan pariwisata daerahnya. Untuk lebih menarik minat masyarakat, adirafacesofindonesia.com juga sering mengadakan kompetisi atau kuis, yang terbukti cukup signifikan menaikkan traffic pengunjung web. 


Selain sejumlah media dan cara di atas, ada satu lagi potensi besar yang kita miliki untuk mendongkrak sektor pariwisata Indonesia, yakni perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat di Tanah Air terutama dilihat dari jumlah masyarakat pengguna internet yang jumlahnya cukup fantastis. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan, hingga akhir Desember 2012 lalu, pengguna internet di Indonesia telah mencapai 63 juta orang. Padahal, jumlahnya hanya sekitar 2 juta orang pada tahun 2000.



Tak hanya jumlahnya yang menunjukkan tren kenaikan signifikan dari tahun ke tahun, waktu yang dihabiskan masyarakat untuk berselancar di dunia maya juga diprediksi akan terus bertambah. Saat ini, rata-rata pengguna Internet di Indonesia “membelanjakan waktunya” sekitar 35 jam per minggu atau lima jam per hari.  Selama lima jam itu, beragam aktivitas yang dilakukan pengakses Internet antara lain menjelajahi berbagai situs berita, sosial media, blog, video, dan berbagai informasi di dunia maya. Tren ini diperkirakan akan semakin bertambah dalam tiga atau empat tahun lagi sehingga waktu yang dihabiskan masyarakat untuk mengakses Internet nantinya akan mengalahkan waktu yang mereka habiskan untuk mengakses media televisi dan cetak. 



Di satu sisi, tren di atas bisa menjadi sarana promosi yang sangat luar biasa karena sebagai media yang lintas batas daerah bahkan negara, internet bisa digunakan sebagai sarana dan cara promosi pariwisata secara murah dan meriah. Apalagi, tidak hanya jumlah pengguna jejaring sosial (terutama Facebook dan Twitter) saja yang meningkat namun juga jumlah blogger (penulis di dunia maya). Menurut data yang dirilis ASEAN Blogger Chapter Indonesia, jumlah blogger di Indonesia telah mencapai 5 juta blogger pada tahun 2012 lalu. Meningkat tajam dari lima tahun sebelumnya (2007) yang baru mencapai 500.000 blogger. Jumlah yang sangat besar dan tren peningkatan yang positif dari tahun ke tahun, tak ubahnya seperti ‘macan tidur’ yang harus segera kita bangunkan agar Indonesia bisa segera menjadi pemain utama dalam industri pariwisata dunia. 


Sebagaimana diketahui, hadirnya internet telah memberi perubahan besar dalam banyak sektor ehidupan manusia termasuk sektor pariwisata. Penggunaan internet bahkan memiliki korelasi yang sangat positif dengan peningkatan jumlah wisatawan di suatu negara. Seperti disebutkan oleh data WTO, ada empat negara penyumbang wisatawan terbesar di dunia yakni Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan Inggris, yang menyumbang sekitar 41 persen dari pendapatan pariwisata dunia. Uniknya, ternyata dari segi teknologi, keempat negara ini merupakan negara-negara pengguna teknologi informasi terbesar di dunia khususnya internet, yakni sebesar 79 persen dari populasi internet dunia (tahun 1997) atau sekitar 130 juta pengguna internet. Dari sinilah kemudian didapat korelasi yang erat antara pemakaian teknologi informasi khususnya internet dengan peningkatan jumlah wisatawan di suatu negara. 


Pentingnya teknologi khususnya internet sebagai akselerator kegiatan sosial dan bisnis masyarakat termasuk pariwisata di dalamnya juga diungkapkan oleh Richard Florida melalui konsep 3T-nya yakni : Talenta, Toleransi dan Teknologi. Secara sederhana, Talenta mengacu pada SDM-SDM yang mampu menciptakan ide atau gagasan yang kreatif. Agar Talenta bisa berkembang optimal, diperlukan sikap toleran dari masyarakat, yakni sikap terbuka dan penerimaan terhadap hal-hal baru yang mungkin saja terkesan liar dan tidak biasa. Kehadiran Teknologi menjadi akselator untuk mempercepat, meningkatkan kualitas dan mempermudah kegiatan bisnis dan sosial masyarakat. Ketiga komponen inilah yang nantinya akan menjadi pilar utama bagi terbangunnya kawasan industri yang canggih dan mampu memenangkan persaingan di era ekonomi kreatif. Terkait dengan 3T ini, Indonesia sebenarnya telah cukup memiliki ketiganya yakni SDM yang sangat besar jumlahnya, sikap toleran masyarakat terhadap hal-hal baru dan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Tinggal menyinergiskan satu sama lain sehingga menjelma menjadi satu kekuatan besar yang bisa mendorong Indonesia menjadi negara terkemuka di bidang pariwisata.





‘Keajaiban’ Promosi di Ujung Jari



Kehadiran internet membuat biaya promosi yang semula sangat mahal kini dapat dipangkas sedemikian rupa. Tarif yang semakin murah didukung oleh perangkat teknologi yang harganya kian terjangkau membuat internet kini bisa dijangkau oleh hampir semua lapisan masyarakat hingga ke pelosok negeri. Dengan sentuhan di ujung jarinya, kini masyarakat yang terhubung dengan internet dapat menjadi duta promosi budaya melalui berbagai media seperti Facebook, Twitter, Blogging, Chatting, Forum seperti Kaskus, Email, dan sebagainya. Di ujung jari pengguna internet ini, promosi pariwisata Indonesia dapat menembus batas ruang dan waktu dengan biaya yang sangat murah, mudah diakses di manapun dan kapanpun, mampu menyediakan informasi sedetil mungkin seperti harga, lokasi, informasi sekitar, cuaca, atraksi, events, secara interaktif dan up to date, serta jangkauan yang sangat luas ke seluruh dunia. Sebuah keajaiban yang sangat luar biasa jika kesadaran, rasa memiliki dan tanggung jawab sebagai ‘duta promosi’ pariwisata terpatri dalam hati setiap pengguna internet di negeri ini. Mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia sangat besar dengan tren kenaikan yang signifikan dari waktu ke waktu.


Sejumlah tren yang sedang booming di kalangan pengguna internet dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan harapan di atas. Sebagaimana diketahui, seiring dengan semakin diperhitungkannya kehidupan di dunia maya, muncul sejumlah hobi baru masyarakat bahkan sejumlah pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada. Satu dari sekian hobi baru yang muncul dan menjadi booming terutama di kalangan pengguna jejaring sosial dan blogger Tanah Air  adalah sebagai quiz hunter atau para pemburu kuis. Para pemburu kuis ini biasanya sangat antusias mengikuti berbagai kuis yang diadakan di dunia maya. Tak semata tergiur oleh hadiah yang ditawarkan, para pemburu kuis juga memanfaatkan kompetisi sebagai sarana belajar dan asah kemampuan, menyalurkan hobi (menulis atau fotografi), berbagi informasi dan  sebagainya. Banyak manfaat yang didapat jika bisa memanfaatkan TI dengan benar dan optimal. Tak hanya teman, tapi juga penghasilan. Tak hanya untuk sosialisasi, namun juga bisa menjadi sarana untuk membangun relasi bisnis yang tak terbatas.


Di sisi lain, tak hanya masyarakat yang semakin merasa bahwa kehidupan di dunia maya kian hari kian penting. Setali tiga uang, semakin banyak produsen atau perusahaan yang memanfaatkan booming TI sebagai sarana promosi yang murah meriah dengan efektivitas yang cukup tinggi. Salah satunya dengan mempekerjakan buzzer, atau pengelola jejaring sosial agar si perusahaan atau institusi yang bersangkutan selalu eksis di dunia maya karena persaingan di dunia mayapun kian hari juga semakin sengit. Tak hanya mempekerjakan buzzer, banyak perusahaan juga gencar mengadakan kuis atau lomba sebagai media promosi. Cost untuk menyelenggarakan sebuah kompetisi terbilang jauh lebih murah dibandingkan biaya pasang iklan di media cetak atau elektronik. ‘Waktu promosi’ bisa dibuat lebih panjang dibanding masa tayang iklan di media yang relatif lebih pendek dan terbatas. Hubungan antara produsen dan masyarakat juga bisa menjadi lebih interaktif karena memungkinkan masyarakat ikut memberi masukan melalui tulisan atau foto yang mereka ikut sertakan dalam kompetisi. Sebuah hubungan yang saling menguntungkan.




Butuh Akselerasi dan Sinergi


Dibutuhkan sejumlah langkah akselerasi dan sinergi untuk membangun jejaring kesadaran, rasa memiliki dan tanggung jawab seluruh komponen bangsa untuk turut andil mempromosikan pariwisata Indonesia di era digital saat ini. Peran dan sinergi semua pihak mutlak diperlukan. 


Dari sisi pemerintah, bisa diwujudkan dengan memberi insentif pajak bagi perusahaan atau institusi yang mengintegrasikan kegiatan promosi komersialnya dengan promosi pariwisata Indonesia. Kesadaran untuk mempromosikan pariwisata Indonesia oleh dunia usaha sebenarnya semakin menguat. Di antaranya terlihat oleh maraknya lomba atau kuis yang mengangkat tema tentang kekayaan budaya dan potensi pariwisata di Indonesia yang oleh si perusahaan kemudian disinergiskan dengan promosi produknya, baik itu makanan, minuman, properti dan bahkan otomotif. Alhasil, banyak aset budaya yang semula tersembunyi, perlahan terkuak dan mulai dikenal masyarakat Indonesia bahkan dunia. Kalangan dunia usaha tentu akan semakin bergairah jika pemerintah memberikan insentif seperti pengurangan pajak bagi perusahaan atau lembaga yang melakukan terobosan ini. Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha ini akan semakin melejitkan penyebaran informasi promosi pariwisata Indonesia dengan melibatkan masyarakat terutama masyarakat pengguna internet sebagai aktor utama. 


Peran operator seluler juga sangat signifikan dalam mendongkrak sektor pariwisata di Tanah Air. Selain peningkatan layanan, jaringan yang lebih luas dengan harga yang semakin terjangkau masyarakat, perusahaan operator seluler juga dapat ambil bagian dengan memberikan sosialisasi, edukasi dan bahkan fasilitas langsung kepada masyarakat terutama masyarakat yang berada di kawasan wisata potensial dan sentra ekonomi kreatif yang belum memiliki infrastruktur teknologi informasi untuk mempromosikan sektor wisata dan produk ekonomi kreatifnya secara luas ke dunia luar. Sebagaimana diketahui, tren kemunculan desa wisata semakin marak di Tanah Air. Sayangnya, tidak semua desa wisata atau desa yang memiliki potensi wisata memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mempromosikan desanya melalui sarana teknologi informasi khususnya internet. Sebaliknya, banyak pula desa di Tanah Air yang sudah berbasis teknologi informasi atau melek teknologi namun pemanfaatannya belum optimal. Dalam konteks inilah, perusahaan operator seluler dapat ambil bagian dengan menggandeng kalangan akademisi dan dunia pendidikan untuk bersama-sama mencerdaskan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi.


Sektor pariwisata akan semakin menggeliat jika lembaga keuangan dan perbankan juga kian memainkan perannya dengan lebih optimal, terutama dalam hal penyediaan akses permodalan bagi individu maupun kelompok masyarakat yang bergerak di bidang pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Salah satunya melalui program Kredit Usaha Rakyat atau KUR. Akses terhadap modal bagi lulusan perguruan tinggi yang memiliki komitmen tinggi dan usaha nyata dalam mempromosikan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga harus semakin terbuka lebar. Salah satunya dengan menjadikan ijasah mereka sebagai agunan untuk mendapatkan modal usaha. Ide yang cetuskan oleh Menteri Pendidikan M.Nuh ini semoga segera terealisasi. Karena sangat disayang jika SDM-SDM kreatif kita tak mampu berkembang optimal hanya karena ketiadaan akses terhadap modal.


Keberhasilan kerjasama dan sinergitas di atas juga sangat ditentukan oleh peran Pemerintah Daerah sebagaimana telah diamanahkan dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Berdasarkan UU ini, maka pemerintah daerah memiliki wewenang dan andil yang besar untuk mengoptimalkan sektor pariwisata daerahnya termasuk dalam hal promosi. Secara sederhana, burden sharing promosi dapat dilakukan melalui cara berikut : pemerintah pusat melakukan country-image promotion, daerah melakukan destination promotion sesuai dengan keunggulan daerah masing-masing, sedangkan industri atau swasta melakukan product promotion masing-masing pelaku industri.




Catatan Penutup


Tak bisa dipungkiri, kegiatan promosi memiliki arti sangat penting untuk mendongkrak sektor pariwisata. Namun, promosi saja tidak cukup. Perlu ada tindak lanjut nyata sebelum dan sesudah promosi dilakukan. Mulai dari pengembangan dan perawatan infrastruktur pariwisata, peningkatan aspek keamanan, kemudahan akses transportasi serta kemudahan dan kenyamanan lainnya. Artinya, yang diperlukan untuk mengoptimalkan sektor pariwisata tidak hanya sekadar promosi, namun juga komitmen dan perhatian nyata dari semua pihak terutama pemerintah (baik pusat maupun daerah) untuk lebih serius mengelolanya.



Betapa pentingnya aspek lain selain promosi terlihat jelas dalam sejumlah destinasi di negara tetangga yang ramai dikunjungi wisatawan asing meski pesona alam dan wisatanya bisa jadi masih kalah dari Indonesia. Salah satu sebabnya adalah karena mereka memiliki infrastruktur dan jasa penunjang yang memadai. Angkor Watt versus Borobudur misalnya. Pengunjung Borobudur yang notabene lebih elok dan memikat kalah jauh jumlahnya dengan pengunjung Angkor Watt yang mencapai 1,5 juta wisatawan asing per tahunnya. Begitu pula dengan Pantai Huahin di Thailand yang disesaki oleh ratusan ribu turis mancanegara per tahun, sedangkan pantai Natsepa di Teluk Ambon yang butiran pasirnya begitu bercahaya justru kurang dilirik oleh wisatawan asing bahkan mungkin oleh masyarakat Indonesia sendiri.


Selain pengadaan infrastruktur dan fasilitas penunjang yang memadai, hal penting lain yang juga perlu disandingkan dengan kegiatan promosi adalah mematenkan hak kekayaan intelektual dan aset budaya bangsa. Sebagaimana diketahui, upaya mematenkan kekayaan dan aset budaya bangsa Indonesia masih sama memprihatinkannya dengan kegiatan promosi itu sendiri. Padahal, banyak negara telah memberikan perhatian yang sangat serius pada masalah ini. Tak jarang, sebuah negara bahkan mematenkan aset budaya negara lain karena menganggapnya memiliki prospek ekonomi yang sangat cerah di kemudian hari. Kita adalah salah satu negara yang cukup sering kecolongan dalam hal ini. 


Akhir kata, kebangkitan sektor pariwisata Indonesia sudah di depan mata. Kita memiliki banyak potensi baik dari segi aset budaya dan kekayaan alam, SDM yang kreatif juga perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Semua potensi ini memungkinkan kita menjadi pemain utama di bidang pariwisata. Saatnya bersinergi, menyatukan komitmen dan langkah, untuk bersama-sama mewujudkan harapan ini. Kita pasti bisa…...





4 komentar:

  1. Weis... panjang sekali mba ulasannya:) Indonesia memang sangat 'miskin' promosi akan Indonesia nya. Sayang sekali ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sektor yang satu ini memang sangat kompleks Mbak Santi :)

      Hapus
  2. Ahhhh lagi-lagii.. mulai sekarang saya mau nulis juga soal makanan indonesia ahhh mbak di blog

    BalasHapus
  3. great idea Mbak, kuliner termasuk salah satu primadona saat ini, terutama di timur tengah :)

    BalasHapus

 
;