Sabtu, 20 Juli 2013

Wajah Lain Indonesia di Luar Jawa


Foto : rri.co.id

Baru libur panjang kemarin saya dan keluarga memiliki waktu yang klop untuk liburan lama. Seperti yang sudah kami idamkan sejak lama, maka Lampung terpilih sebagai tempat untuk menghabiskan liburan. Selain liburan dan bersilaturahim dengan keluarga, saya pribadi ingin menjadikan liburan tersebut sebagai ajang untuk survey sekaligus membandingkan bagaimana kehidupan di Jember dan Lampung. Terutama dari sisi sosial masyarakatnya.


Karena pasti berbeda, maka sejak jauh hari saya sudah "membekali" anak-anak dengan sejumlah pesan agar mereka tidak terlalu shock dengan segala perbedaan dan mungkin sejumlah keterbatasan sarana dan prasarana yang akan kami temui nanti.

“Di sana orang-orangnya suka berbicara dengan suara yang keras. Jangan mengira mereka sedang marah ya?” pesan saya pada Sasha. Sementara untuk Naura yang masih berumur 4,5 tahun, pesan saya lebih sederhana.


“Adek Nau nanti jangan rewel ya, apalagi baru sampai sudah minta pulang. Jember itu jauh lho Nak” hehehe, kalau yang ini masalah teknis. Karena biasanya anak seusia Naura mudah bosan di tempat baru apalagi terasa asing.

So far, anak-anak ternyata baik-baik saja. Mereka relatif mudah beradaptasi dan menjalani liburan dengan enjoy. Justru saya dan ayahnya yang agak sewot. Saya tiba-tiba jadi malas kemana-mana, karena kemana-mana jauh. Mau belanja kebutuhan sehari-hari saja, sering saya tunggu sampai banyak list-nya. Karena toko terlengkap terdekat hanyalah Indomaret dan Alfamart. Tidak terlalu jauh memang, hanya sekitar 1 km. Tapi karena terletak di pertigaan lintas Sumatera, saya suka keder lihat truk-truk besar dan kendaraan pribadi yang suka nyelonong dengan kecepatan tinggi.

Anak-anak sempat shock juga waktu saya ajak jalan-jalan dengan sepeda motor. Bagaimana mereka tidak ketakutan, jika di belakang sepeda motor yang kami naiki ada sebuah truk jumbo yang mengekor dengan kecepatan tinggi dan hanya berjarak mungkin hanya sekitar 3 meter dari kami. Lalu tiba-tiba dari arah depan ada kendaran yang menyalip, juga dengan kecepatan tinggi. Sesuatu yang nyaris tidak pernah kami temui di Jember.

Selain arus lalulintas yang menyeramkan (untuk ukuran saya :) ), ternyata mudah sekali terjebak macet di sini. Termasuk tempat tinggal ortu yang terbilang agak pinggiran namun berada di jalur lintas Sumatera. Satu kilometer pernah harus ditempuh dalam waktu 30 menit. Gak ngalahin kota metropolitan ya? :) Selain pertambahan jumlah kendaraan yang sangat pesat, kemacetan di Lampung juga disebabkan oleh pembangunan sejumlah jalan layang. Lampung memang sedang giat membangun dan memperbaiki infrastrukturnya saat ini.

Jika di jalan besar sering macet dan budaya berlalu lintasnya menyeramkan, keprihatinan lain kami temui ketika menyusuri jalan di pedesaan atau pedalaman. Jalannya banyak yang rusak dengan lubang besar menganga di sana sini. Tidak bisa dibayangkan bagaimana bahayanya bagi pengendara terutama pengendara sepeda motor saat musim hujan.

Selain arus lalu lintas yang memicu adrenalin dan macet yang bikin sebel, saya dan suami juga dibuat terperangah dengan budaya antri sebagian masyarakatnya. Suami mengalami kejadian ini ketika sedang antri di loket pembelian tiket kapal penyeberangan. Sedang saya mengalaminya ketika sedang antri di sebuah toko swalayan. 

Saat itu, saya sengaja tidak terlalu dekat pembeli yang sedang dilayani kasir. Tapi seharusnya cukup jelas jika saya sedang mengantri di barisan itu. Tiba-tiba, seorang ibu dengan belanjaan penuh yang semula antri di kasir sebelah pindah dan tanpa permisi berdiri di depan saya. Saya hampir menegurnya ketika ternyata si ibu terlibat kehebohan dengan anaknya yang tak sabar ingin segera dilayani oleh kasir. Suara si ibu yang cukup keras menegur anaknya membuat saya mengurungkan niat untuk mengingatkannya soal antrian. Pada anaknya saja ia cukup ketus, apalagi pada orang lain. Pikir saya ketika itu. Penyerobotan antrian juga kerap terjadi di ATM. Saya dan suami acapkali hanya bisa tersenyum prihatin.

Namun di balik sikap masyarakatnya yang keras terutama saat berlalu lintas dan banyak yang tidak tertib saat antri, ternyata kami menemukan hal positif lain dari masyarakat Lampung. Selama di sini, kami nyaris tidak menemui perempuan-perempuan yang berpakaian seksi. Tidak hanya di Bandar Lampung yang merupakan ibukota propinsi, namun juga kota dan daerah lain yang lebih kecil tingkatannya. Justru, kami sangat mudah menemukan perempuan-perempuan berbusana sangat Islami. Sebuah pemandangan cukup kontras dengan kota tempat tinggal kami yang berjuluk Kota Santri. Di mana para pria sebaiknya memakai kaca mata kuda karena begitu mudahnya mendapati pemandangan aurat yang terbuka di sini, hehehe.

Selain rapi dalam berpakaian, saya juga salut dengan semangat kerja masyarakatnya. Mungkin karena Lampung, seperti daerah luar Jawa pada umumnya, tidak sesubur Jawa yang mendapat julukan ‘tanah syurga’, masyarakat di sini harus berjuang lebih keras untuk survive. Semangat bekerja keras barangkali juga diturunkan oleh para tetua yang sebagian adalah para transmigran.

Kesuksesan sebagian orang yang hijrah ke Lampung menginspirasi anggota keluarganya yang lain untuk mencoba cara yang sama. Tapi, tentu tak semudah membalik telapak tangan. Di sini, para pendatang baru itu bersedia kerja serabutan apa saja, untuk mencapai hidup yang lebih baik. Termasuk menjadi penunggu kebun sawit berhektar-hektar hanya seorang diri. 

Jauh dari keramaian, termasuk juga peradaban, mau tidak mau membuat si penunggu kebun sawit harus mampu bertahan hidup dengan segala macam cara. Bertemu binatang buas akhirnya menjadi sesuatu yang biasa, termasuk mengolah makanan yang tidak biasa untuk mengganjal perut.

Dari ibu juga saya dapati sejumlah cerita tentang betapa gigihnya sejumlah orang di sekitar tempat tinggal kami dalam bekerja. Seringkali mereka mau mengerjakan pekerjaan apa saja, yang penting halal. Tak peduli meski dalam pandangan orang lain, pekerjaan itu bernilai rendah. Sesuatu yang kadang sulit saya temui di Jawa, di mana banyak orang cukup pilah pilih dalam bekerja.

Meski terasa singkat, liburan tiga minggu di Sai Bhumi Ruwa Jurai itu harus segera diakhiri.

Semoga bisa segera bersua kembali.....:)

* * *


7 komentar:

  1. Balasan
    1. foto yang mana Mbak? kemacetannya-kah? :)

      Hapus
  2. Mertua saya juga tinggal di Sumatera, Mbak Rin. Memang lalu lintasnya meyeramkan. Anak2 SD dan SMP bebas menggunakan sepeda motor. Tanpa helm pula. Kondisi jalanan juga banyak lubang dan berbahaya. Saluran drainase gak ada. Sampah dibakar di rumah masing2. Lengkaplah sudah : panas, ruwet, polusi... hehehe... Jadinya males mo kemana-mana. Ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Ira, lalulintasnya memang memacu adrenalin. Lama-lama kita bisa terpengaruh juga dengan gaya berlalulintas orang-orang di sana. However, rumah dan kampung halaman tetap akan kita rindukan, bagaimanapun adanya....:)

      Hapus
  3. Saya sempat akrab dengan truk-truk pengangkut batubara dan kelapa sawit, sukses membuat saya mlipir..hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fenomena hampir di seluruh sumatera ya Mbak? :)

      Hapus
  4. Salam

    Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya INDONESIA

    http://www.jelajah-nesia.blogspot.com

    BalasHapus

 
;