Minggu, 28 Juli 2013

Kembali Jadi Siswa TK





Naura sebenarnya telah cukup saya persiapkan mentalnya untuk memasuki dunia baru bernama sekolah. Nyatanya, ketika benar-benar resmi menyandang status sebagai ‘siswa’, ia masih merasa sangat asing bahkan ketakutan. Bahkan sejak masa pengenalan, ia sudah menunjukkan ekspresi kurang suka pada sekolahnya. Sebuah sekolah sederhana dekat rumah dengan fasilitas yang terbilang sangat sederhana. Apalagi, berada di tengah perumahan membuat suasana riuh ibu-ibu komplek membuat Naura semakin merasa aneh pada sekolahnya. Cukup berbeda dengan banyak lembaga pendidikan yang telah dikenalnya sebelumnya.

Foto
Naura saat akan berangkat sekolah

Dibanding sekolah Sasha misalnya. Nuansa berada di sekolah lebih terasa. Naura juga merasa sangat enjoy saat berada di kampus, baik Unej maupun Unair. Meski di dua kampus ini, ia seringkali menjadi ‘mahasiswa’ paling kecil. Dan tentu saja, Naura sangat enjoy saat berada di ‘Taman Kanak-kanak’ milik Kung Uti-nya setiap akhir pekan.

“Aku mau sekolah di Unair saja” katanya ketika saya mengajaknya mengobrol soal sekolahnya.

“Kalau mau ke Unair, harus sekolah TK dulu Sayang” bujuk saya. Naura hanya cemberut.

Dan, hari pertama memasuki dunia baru itupun akhirnya tiba. 

Naura menggenggam tangan saya erat, merapat, lalu minta pulang dengan wajah yang memerah. Suasana sekolah pagi itu lebih menyerupai pasar karena hampir semua wali murid baru menemani putra-putrinya. Belum lagi suara tangisan anak-anak dari berbagai sudut, berbaur dengan suara ibu guru yang menyanyikan sejumlah lagu.

Naura mematung di barisan paling belakang. Berjarak mungkin hanya 15 centimeter dari saya, sedang teman terdekat di depannya berjarak hampir dua kali lipat jauhnya. Naura benar-benar hanya mematung, tanpa sedikitpun mengikuti gerak dan lagu. Sesekali ia melirik saya, memastikan bahwa saya masih di tempat.

Masuk ke kelas ternyata membuatnya semakin merasa terasing. Untuk mencairkan suasana hatinya, saya ikut masuk. Tapi tak hanya itu, Naura juga meminta saya duduk di dekatnya. Di bangku kecil seperti yang ia duduki bersama teman-temannya dan mengikuti keseluruhan pelajaran hingga selesai. Saya merasa menjadi anak TK lagi J Inilah yang saya lakukan selama hampir dua minggu terakhir, duduk manis di kelas bersama 20 orang siswa TK lainnya, hahaha.

“Dinikmati saja Mbak, mungkin hanya satu-dua minggu” kata seorang teman saat saya sharing soal ini di awal Naura masuk sekolah.

“Apa?” balas saya dengan agak melotot.

“Ada yang sampai dua bulan lho Mbak” tambahnya. Ah, jadi tidak berkata-kata saya mendengar.

“Masak dua bulan sih Bu nemenin Naura di kelas” curhat saya pada Ibu Mertua sekaligus melaporkan perkembangan cucunya di sekolah.

“Fafa lho sampai hampir satu semester” jawab ibu sembari menceritakan sepupunya Naura. Tidaaaaaak, pekik saya dalam hati.

"Hukum karma kali Ma, dulu Mama kan juga minta ditemani waktu masuk TK" komentar suami ini kian membuat saya semakin merasa kalut. Berapa lama saya harus kembali jadi siswa TK???

“Sayang, Mama capek lho kalau di dalam. Kursinya kecil, jadi kaki mama ketekuk. Adek Nau gak kasihan Mama tah kalau kaki Mama sakit” bujuk saya pada Naura. Berharap ia merasa kasihan dan membolehkan saya menunggunya di luar kelas. Tapi ia menggeleng sambil berkata bahwa saya harus tetap menemaninya. 

Untunglah ada dua ibu lain yang senasib, sehingga saya tidak merasa terlalu aneh menjadi siswa tertua di kelas. Tapi, di pengujung minggu kedua, kedua ibu teman senasib saya itu hanya menunggu di luar kelas dekat jendela. Jadilah saya satu-satunya siswa tertua di kelas. Oww, rasanya :)

“Adek, Mama malu lho, besar sendiri di kelas. Ibu-ibu yang lain sudah menunggu di luar” kata saya mencoba bersikap lebih tegas pada Naura. Tapi Naura cepat meraih tangan saya dan menciumnya, cara yang lain untuk berkata, “Please, don’t leave me alone Mom”. Jadi, terpaksa-lah saya tetap di kelas, sambil sesekali senyum sendiri membayangkan betapa lucunya saya di antara anak-anak kecil itu.

Kemandirian dan keberanian Naura akhirnya mulai muncul saat kegiatan belajar di kelas  mulai diisi materi. Naura seringkali menjadi siswa pertama yang menyelesaikan tugasnya saat banyak siswa lain hanya bengong atau baru mulai ketika dipandu langsung oleh Bu Guru. Tidak selalu bagus memang hasilnya, tapi Naura lebih cepat beradaptasi dengan materi. Saat sibuk dengan mengerjakan tugasnya itulah, saya menyelinap ke luar. Ke dekat jendela, namun tetap memastikan dia akan cepat melihat saya.

Ah, akhirnya dia berani berada di kelas tanpa ditemani. Keberanian dan kemandiriannya yang lain juag terus bermunculan. Selamat memasuki dunia baru anakku. Mama percaya kamu pasti bisa :)


6 komentar:

  1. ternyata seperti itu ya, mbak? saya belum mengalaminya tapi dua tahun lagi anak saya masuk TK. semoga lebih mudah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konon, apa yang saya alami masih belum ada apa-apanya Mbak :)

      Kata Gurunya, salah satu sebab terbesar anak merasa asing dan mungkin ketakutan saat masuk sekolah adalah karena sebelumnya tidak terlalu banyak bersosialisasi dengan sekitar. Misal, hanya lebih banyak berinteraksi dg keluarga atau lingkungan yang terbatas. Sepertinya ada benarnya juga Mbak :)

      Hapus
  2. Jadi mbak ririn sudah mahir berhitung atau bernyanyi ya hihihih

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk bernyanyi tetap tidak bisa Mbak :)

      sambil menyimak Bu Guru mengajar di kelas, saya sering bergumam di hati 'beginikah rasanya' ibu dan tante-tante saya dulu waktu harus duduk manis di kelas juga bersama saya :(

      Hapus
  3. Balasan
    1. Benar Mbak Devy :)

      Jadi, meski Naura relatif masih canggung untuk bersosialisasi dengan teman-teman barunya, dia seringkali bersikap dewasa saat di antara mereka ada yang nakal atau mengganggunya. Begitu pula jika melihat temannya butuh bantuan, dia relatif cepat merespon. Ya, karena setiap tumbuh kembang anak berbeda, dan pastinya unik :)

      Hapus

 
;