Jumat, 19 Juli 2013

Karena Dia Tau yang Terbaik Untukmu


skenario allah untuk ismi
Foto dari sini

Sepanjang hidup, sangat mungkin kita teramat sering mengeluhkan kegagalan dan ketidaksesuaian antara realita dengan apa yang kita harapkan. Apalagi, ketika segenap daya dan upaya telah sangat kita optimalkan. Sangat manusiawi jika sangat bersedih dan kecewa. Tapi segera bangkit dan membangun kembali pikiran yang positif serta harapan baru, menjadi pilihan sekaligus langkah yang sangat baik. Seringkali, di suatu waktu, dalam kurun waktu yang tidak bisa dipastikan, kita akan menemui hikmah dan kebaikan yang tak terduga di balik skenario-Nya.


Sebut saja Ahmad. Ikhwan yang satu ini sangat ingin mengabdi di almamaternya. Karena itu, begitu lulus S1 ia segera melanjutkan studi ke jenjang Pascasarjana, dengan harapan secepat mungkin bisa mengajar. Sampai di titik ini, semua rencananya berjalan mulus. Secara personal, kualitasnya cukup mumpuni untuk mengajar. Tapi nasib berkata lain. Keaktifannya dalam bersuara membuat namanya di-‘blacklist’ dari kampus. Kegagalan ini tentu membuatnya sangat terpukul. Apalagi setelah itu, dalam kurun waktu hampir setahun, ia nyaris menjadi pengangguran. Berbagai usaha yang dilakukannya nyaris semuanya gagal. Ditipu teman lagi. Nasibnya seperti sudah jatuh, masih tertimpa tangga.

Tapi, bukankah Allah pasti bertanggung jawab atas semua scenario-Nya? Tak lama setelah berada di titik klimaks masalah, Allah mulai memberi setitik cahaya. Perlahan, kehidupannya mulai membaik. Dan dimanakah dia sekarang, sekitar 3 tahun setelah ia merasa sangat terpuruk? Sebuah amanah yang jauh lebih besar dari mengajar tengah diembannya. Allah menggagalkan mimpinya untuk mengabdi di almamaternya karena ternyata Ia memilih Ahmad untuk mengabdi dalam konteks yang lebih luas, yakni bagi bangsa dan negaranya. Selamat berjihad Akhi….:)

Teman saya yang lain, sebut saja namanya Alya, juga memiliki kisah yang hampir serupa. Bisa melanjutkan studi ke Belanda adalah impiannya sejak kecil. Mimpi ini tak hilang meski ia keburu menikah dan memiliki anak ketika lulus sarjana. Dengan penuh semangat ia mendaftar beasiswa ke sana. Hampir setahun menanti, jawaban yang ia dapatkan tak seperti yang ia harapkan. Tapi ia tak putus asa. Setelah anak keduanya lahir, mimpi baru ia tumbuhkan kembali di hatinya. Kali ini ke Negeri Kangguru.

“Di sana lebih mudah membawa keluarga” katanya ketika saya tanya mengapa ia memutar balik negeri impiannya. Belajar dari kegagalan pertamanya, kali ini Alya menyiapkan segalanya lebih baik. Nyaris begitu sempurna. Tapi, lagi-lagi mimpi itu terbawa angin. Keluarga besarnya tak mengijinkan karena anak keduanya saat itu belum genap satu tahun. Saya bisa merasakan betapa dilemma dan sangat terpuruk perasaannya. Apalagi ketika ia disudutkan pada pilihan yang sangat dilematis.

"Pergilah jika memang tetap ingin pergi, tapi jangan membawa anak-anak. Mereka terlalu kecil, khawatir juga kau akan sangat repot nantinya. Tak apa kami di sini, hanya dua tahun saja kan?" kata suaminya.

Bagi Alya yang seorang ibu, dua tahun berpisah dengan keluarga apalagi anak-anak yang sebelumnya selalu bersama, tentu akan sangat menyiksa. Akhirnya, meski sangat berat, ia lebih memilih keluarga. Beruntung, teman saya yang satu ini berusaha dengan cepat mengakhiri kesedihannya. Membangun kembali prasangka baiknya pada rencana Allah. Atas “kompromi” dengan keluarganya, ia melanjutkan studi di kota tempat tinggalnya. Meski tak seperti yang diinginkannya semula, ia mencoba menerima takdir itu dengan seikhlas mungkin. Dan ternyata Allah tak “diam”.

Kegagalan aplikasi beasiswa S2 yang terjadi pada dirinya ternyata adalah cara Allah menyayanginya, agar saat itu ia lebih konsentrasi pada tumbuh kembang anak-anaknya yang masih balita. Karena ternyata, Allah mengganti dengan yang jauh lebih baik. Alya akhirnya mendapatkan beasiswa S3 ke negara lain yang jauh lebih baik dari yang dimintanya. Jumlah beasiswa yang didapatnya juga memungkinkannya membawa serta seluruh keluarganya. Anak keduanya bahkan langsung dibawa saat Alya memulai studinya. Suaminyapun memperoleh pekerjaan sangat baik begitu menyusul Alya. Kini, mereka telah memasuki tahun ketiga dari empat tahun masa studi Alya di sana. Selamat memeluk mimpimu Alya…..:)

Lain lagi kisah Nadya. Ibu muda ini sangat ingin sekali jadi ibu rumah tangga. Langsung menikah setelah wisuda, kemudian memiliki sepasang anak yang lucu, adalah alur hidup yang sangat dinikmatinya. Sampai di suatu waktu, ketika ada pembukaan CPNS Dosen di tanah kelahirannya, ayah ibunya memintanya untuk mencoba.

“Cobalah Nad, peluangmu untuk lulus cukup besar” kata ayahnya ketika itu. 

“Menjadi dosen tidak akan menyita banyak waktumu. Itu bisa menjadi ladang amalmu” kata ayahnya.

Nadya sudah hampir menolak semua bujuk rayu ayah ibunya ketika suaminya menyarankan untuk mencoba peluang demi menyenangkan hati orang tua. Maka, dengan setengah hati Nadya mencoba. Ternyata diterima. Amanah baru itu mau tidak mau diterimanya. Tak lama setelah itu, instansi tempat suaminya bekerja dinyatakan pailit sehingga nasib karyawannya menjadi tidak menentu. Beruntung Nadya telah memiliki pekerjaan yang cukup mapan sehingga perekonomian keluarga tidak ikut kolaps. Skenario yang di luar rencana itu begitu disyukurinya.

“Allah memang yang paling tau apa yang terbaik bagi kita, sesuatu yang terkadang sangat tidak kita sukai sebelumnya” katanya melalui sebuah pesan singkat.

* * *

2 komentar:

  1. Sering kali hikmah itu baru kita ketahui belakangan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, bahkan ada yang sampai bertahun2 baru merasakan dan meyakini hikmahnya...

      #pengalamanpribadi :)

      Hapus

 
;