Rabu, 26 Juni 2013

Menyikapi Kekalahan dengan Bahagia


Sumber Foto : Kompasiana

Kala itu, dari beberapa lomba yang saya ikuti, hampir semuanya kalah. Sedih pasti ada, tapi anehnya seperti hanya sekejap saja. Setelahnya saya mampu tersenyum bahagia seolah sayalah pemenangnya. Apa sebabnya? Apakah karena saya sudah teramat sering menang, atau karena hadiahnya tidak seberapa? Tidak semuanya. Sebab utamanya adalah karena saya membangun pikiran yang positif dalam menyikapi kekalahan saat mengikuti kompetisi termasuk kompetisi di bidang menulis.

Bagi saya, mengikuti lomba menulis memiliki banyak arti dan tujuan. Apapun itu, biasanya saya selalu melakukannya dengan sebaik mungkin, dengan usaha terbaik yang mampu saya lakukan. Harapan untuk menang pasti selalu ada, namun saya bingkai dengan sebuah doa yang indah.

“Allah, jadikanlah kemenangan itu sebagai kemenangan yang berkah bagiku, bagi agamaku dan orang-orang di sekitarku. Jika ternyata Kau berkehendak lain, maka karuniakanlah aku hati yang selalu bersabar dan tak pantang menyerah, menjadikan kekalahan ini sebagai sarana belajar….”

Doa di atas adalah doa bagi saya. Bagi mereka yang menang, sayapun turut memanjatkan doa :

“Allah, semoga ia yang menang bukan hanya ia yang terbaik dalam hal usaha dan karya, tapi ia yang memang sangat membutuhkan kemenangan ini. Jadikanlah kemenangan itu sebagai kebaikan yang berkah baginya……”

Bagaimana bila (hampir) selalu kalah sedang usaha sudah sedemikian optimalnya dan harapan sudah sedemikian besarnya? Inilah doa favorit yang menguatkan saya :

“Allah yang Maha kasih, terimakasih telah memberiku kesempatan untuk selalu belajar. Terimakasih telah memberiku banyak kebaikan meski tidak melalui sebuah kemenangan. Aku percaya Engkau Maha Kaya, rezekiku takkan kemana, (InsyaAllah) hanya yang berkah dan terbaiklah yang akan Engkau berikan padaku, dan karuniakanlah aku semangat yang pantang menyerah……”

Dengan berbagai “mantra-mantra” di atas, banyak hal positif yang saya dapatkan. Sedih saya cepat menguap, rasa putus asa saya juga cepat kembali berganti dengan semangat. Saya seolah menjadi kehilangan kata-kata untuk mengeluh apalagi sampai mengumpat tentang kekalahan yang menurut saya, itu sungguh tidak berguna. Bukankah lebih baik jika energy yang ada digunakan untuk membangun semangat dan mimpi-mimpi baru?

22 komentar:

  1. Jujur saja Mak, saya tidak pernah bahagia kalau kalah ihihihihihihihi :P.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga pasti sebel kalo kalah. Nggak ada bahagia-bahagianya. Ahaha...

      Hapus
    2. Aslinya sih sama Mbak, ada sebelnya juga, cuma ya itu segera disikapi dengan pikiran sepositif mungkin supaya gak terlalu down :)

      Terimakasih sudah mampir....

      Hapus
  2. Saya tiga kali ikut lomba dan menang baru juara harapan. Alhamdulillah.... hehe ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Turut senang Mbak Ira :) menang tetap harus jadi salah satu tujuan utama, tapi jangan biarkan kekalahan menghambat kita untuk bahagia :)

      Hapus
  3. harapan menang pasti ada.., tapi ketika pengumuman...dan kita jadi tau..., bahwa tulisan kita banyak kurangnya, kekalahan adalah pembelajaran.... *bisa belajar kpd yang menang, curi ilmunya dengan baca2 tulisannya..*

    Keep spirit..n ..keep smile :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Mbak Nova :)

      Terimakasih.....

      Hapus
  4. Beberapa kali coba ikut giveaway... menang satu kali dapat hadiah buku. Alhamdulillah... Sedih saat kalah? Enggak sih. Tapi mungkin kalau lomba menulis beda kali ya sama giveaway yg biasanya ringan saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi :)

      soalnya kalau lomba biasanya lebih berat perjuangannya dan lebih berat saingannya juga biasanya lebih besar daya tariknya :) jadi kalau kalah biasanya lebih sedih :)

      Hapus
  5. Terima kasih atas doa-doanya. Luar biasa. Super :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Doa adalah cara terbaik melampiaskan kesedihan Mbak Leyla, bukan begitu? :)

      Hapus
  6. heuheu kecewa pasti ada tapi dengan begitu kita bisa tahu apa kekurangan kita dan apa selera juri. Rejeki itu sudah ada yang mengatur bahkan seperti yang saya bilang makanan yang sudah menjadi daging itu lah rjki kita. Yang sudah dimenangkan itu, siapa tahu diambil orang atau hilang. Jadi bersyukur aja ya mbak. Masih banyak lomba lainnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Hana, dalam kekalahan seringkali ada pembelajaran sangat berharga di dalamnya :)

      Hapus
  7. Semangat terus mak. Menulis, menulis dan menulis.

    BalasHapus
  8. doanya bagus mbak.. berfikir dan bersikap positif :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena bagi setiap muslim, semua perkara itu mengandung hikmah Mbak :)

      Hapus
  9. memang pada dasarnya kalau udah Suka nulis mau ada lomba or enggak tetap aja nulis. tapi yaaa sedih dan kecewa juga kalau tulisannya udah bagus2 kita buat eh ga Menang, ternyata selera juri bukan seperti yang kita bayangkan. tapi namanya juga kompetisi. kalau enggak mau kalah ya jadilah juri di lomba yang pesertanya kita sendiri. hehhehe. semangat ngontes maaak

    BalasHapus
  10. Saya juga sering ikut lomba tapi belum pernah menang hiks hiks...semangat mbak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kemenangan itu tak lama lagi Mbak Susan :)

      Hapus

 
;