Kamis, 27 Juni 2013

Kuliah Hingga S-3 dengan Menulis


Add caption


Awal saya mulai mencintai dan intens menulis, sarana aktualisasi yang saya kenal saat itu hanyalah lomba menulis. Menulis di media sebenarnya sudah tidak asing karena selain cukup aktif di pers mahasiswa, sejumlah teman aktivis merupakan orang-orang yang aktif menulis di media. Sayapun sempat mencoba rubric opini yang disediakan khusus bagi mahasiswa namun tak pernah dimuat. Terus menerus gagal meski baru mencoba dalam hitungan jari, membuat saya membangun persepsi bahwa menembus media itu sangatlah sulit. Akhirnya, saya mencoba meng-qonaahkan diri memaksimalkan aktivitas dan minat menulis hanya melalui kompetisi. Hingga suatu hari, seorang teman memotivasi saya untuk menjajal menulis di media.

Rabu, 26 Juni 2013

Menyikapi Kekalahan dengan Bahagia


Sumber Foto : Kompasiana

Kala itu, dari beberapa lomba yang saya ikuti, hampir semuanya kalah. Sedih pasti ada, tapi anehnya seperti hanya sekejap saja. Setelahnya saya mampu tersenyum bahagia seolah sayalah pemenangnya. Apa sebabnya? Apakah karena saya sudah teramat sering menang, atau karena hadiahnya tidak seberapa? Tidak semuanya. Sebab utamanya adalah karena saya membangun pikiran yang positif dalam menyikapi kekalahan saat mengikuti kompetisi termasuk kompetisi di bidang menulis.

Rabu, 05 Juni 2013

Tentang Sebuah Janji


Sumber Foto : dari sini

Awalnya, saya menganggap janji itu hanya sebatas janji. Cukup diupayakan untuk ditepati, jika tidak bisa, minta maaf saja pada yang bersangkutan. Dan masalah janji saya anggap selesai. Namun, percakapan dengan seorang teman di suatu siang membuat saya membangun cara pandang baru soal janji.

“Saat kecil, ayah ibuku sering mengiyakan saat aku meminta sesuatu yang tidak bisa langsung mereka tepati. Mereka mudah sekali mengatakan “iya”, namun pada kenyataannya kata ‘iya’ yang kuanggap sebagai janji itu, seringkali tidak ditepati” katanya memulai cerita.

 
;