Rabu, 22 Mei 2013

NPWP bagi Penulis, Pentingkah?


Sumber Foto : pajak.go.id


Meski cukup lama berurusan dengan masalah honor menulis baik untuk tulisan yang dimuat di media ataupun karena menang lomba menulis, selama ini saya merasa Nomor Pokok Wajib Pajak atau NPWP bukan sesuatu yang sangat mendesak. Meski banyak media menanyakan NPWP, seringkali ini tidak menjadi keharusan bagi penulis yang bisa menghalangi tulisannya dimuat. Hanya sedikit berpengaruh pada jumlah honor yang akan diterima. Dan karena selama ini selisihnya hanya sedikit, saya merasa enjoy saja tak memiliki NPWP.

Berdasarkan pengalaman, bagi mereka yang punya NPWP honor dipotong sebesar 5 persen dari total honor dan 6 persen bagi mereka yang tidak punya. Selisih yang hanya 1 persen ini membuat saya malas untuk membuat NPWP. Apalagi, kadang honor menulis hanya dipotong 3 persen meski saya tidak punya NPWP. Malah ada juga yang tanpa potongan sepeserpun. Untuk yang terakhir ini biasanya untuk tulisan yang dimuat di majalah atau jurnal.

Sedikit berbeda untuk lomba menulis yang berhadiah uang tunai. Berdasarkan pengalaman, sebagian besar tanpa potongan pajak. Ini biasanya karena pajak ditanggung oleh penyelenggara. Ada pula yang dipotong 15 persen dan ini biasanya berlaku untuk semua pemenang baik yang memiliki NPWP maupun tidak. Ini hanya berdasar pengalaman saya saja, teman-teman lain mungkin memiliki pengalaman berbeda.

Hal lain yang membuat saya malas membuat NPWP adalah karena saya “hanya” ibu rumah tangga,  dengan pendapatan yang terbilang tidak seberapa dan bahkan tidak tentu. Malas rasanya saat harus mengisi SPT dengan nominal 0, hehe. Tapi, kejadian saat harus menandatangani perjanjian kontrak jual beli naskah beberapa waktu lalu, membuat saya harus segera membuat NPWP. Ini karena selisih potongan pajak antara mereka yang punya NPWP dan tidak ternyata cukup besar. Yakni 5 persen untuk yang punya NPWP dan 20 persen untuk yang tidak punya. Lumayan kan selisihnya?

Segera saya tanya teman yang bekerja di Kantor Pajak tentang bagaimana prosedur membuat NPWP. Dan ternyata, syarat membuat NPWP sangat mudah. Hanya berbekal fotokopi KTP dan mengisi formulir. Kartu NPWP juga bisa ditunggu. 

"Kalau hanya ibu rumah tangga yang mungkin tidak punya pendapatan sama sekali, bagaimana Mbak?" tanya saya.

"Tidak masalah" jawab si Mbak.

So, jika sedang ada waktu, segera luangkan untuk membuat NPWP di kantor pajak terdekat. Anggaplah seperti sedia payung sebelum hujan sebelum mengalami kejadian seperti saya saat harus menandatangi perjanjian jual beli naskah.

 NBHari ini (23 Mei 2013), saya pergi ke kantor pajak terdekat dan memperoleh informasi bahwa bagi penulis freelance yang tidak terikat dengan media atau lembaga apapun, selain fotokopi KTP juga menyertakan surat keterangan domisili atau surat keterangan usaha yang dikeluarkan oleh kelurahan. Setelah dokumen yang diminta lengkap dan mengisi formulir, pembuatan kartu NPWP hanya sekitar 15 menit saja dan free. Jangan lupa untuk melaporkan SPT setiap tahunnya karena jika tidak atau telat, untuk NPWP pribadi dikenai denda, kalau tidak salah Rp 100 ribu :) 
 

27 komentar:

  1. terimakasih sudah berbagi tentang hal ini mbak, kemaren saya jg sempat bingung apa itu NPWP, skrg sudah terjawab rasanya:)

    BalasHapus
  2. Saya sudah punya NPWP sejak 4 tahun lalu, tapi saya rasakan manfaatnya bukan dari menulis Mbak Ririn.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa saja manfaatnya Mbak? Ditunggu sharingnya Mbak Devy :)

      Hapus
  3. Wahhh segera bikin deh klo gitu. Nanti mudik ahhh :D

    BalasHapus
  4. manfaatnya membuat NPWP apa ya bagi yang tidak punya penghasilan tetap?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini salah satu sharing Mak Alaika Abdullah Mbak Imaniar, saat tahun 2011-2012 lalu bagi yang tidak punya NPWP dikenakan bayar fiskal jika akan keluar negeri. Saya juga pernah dengar soal ini, ke depan sepertinya pemerintah akan mengetatkan hal lainnya untuk mendorong masyarakat memiliki NPWP

      Hapus
  5. NPWP memang sangat diperlukan mbak...aku juga ibu RT, yg pendapatan tidak seberapa, tp NPWP sangat diperlukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sejauh ini manfaatnya apa saja Mbak? sharing donk :)

      Hapus
  6. Nebeng punya suami g boleh ya mbak? Hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejumlah lembaga atau media kabarnya ada yang membolehkan Mbak Ellys, tapi sepertinya tidak semuanya bisa begitu, jadi lebih amannya kita punya sendiri saja :)

      Hapus
  7. nah, baru saja seharian kemarin aku disibukkan dan dibuat panik akan pemotongan yang selisihnya sangat besar antara ada NPW dan tidak. Insya Allah pasti akan membuat NPWP pribadi, yang ternyata syaratnya mudah ya mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, aslinya mudah banget :)

      InsyaAllah besok saya mau buat juga Mak....

      Hapus
  8. Wah, ternyata gampang. beberapa kali tulisan dimuat di media dipotong karena gak ada NPWP. Makasih banyak atas infonya ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Punya NPWP kena juga Koq Mbak, hanya lebih sedikit :)

      Hapus
  9. mbaak dulu wkt msh ngajar di SMK aku punya NPWP, trus apa masih berlaku tuh NPWP waktu aku tidak kerja di instansi pendidikan yang sama lagi. Maturnuwun mbk, nanti titip ditanyakan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. NPWP kayaknya gak pake kadaluarsa Mbak, cuma masalah bisa timbul karena menurut aturan mereka yg punya NPWP harus mengisi dan melaporkan SPT tiap tahun, bagi yang tidak buat atau telat dikenai denda Rp 100 rb. Makanya tadi pas nanya ke kantor pajak, mereka yang masuk kategori berpenghasilan tidak kena pajak (sekitar 2 juta perbulan) justru dianjurkan tidak usah buat NPWP, nah lho :) mksdnya biar kita gak ribet buat dan melaporkan SPT tiap tahunnya

      Hapus
  10. NPWPku sudah dari tahun 2008 belum gantiii, pernah bekerja, pernah menjadi ibu rumah tangga, bekerja lagi, masih sama...

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah masih bisa dipakai Mbak, semoga :)

      Hapus
  11. terima kasih atas sarannya :)

    BalasHapus
  12. Saya kn baru calon pegawai...mau verifikasi data syrat hrus ada npwp..nnti saya ngisi formulir bagian jml pghasilan gimana ya ? Kan saya belum masuk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tidak salah ditulis nol (0), CMIIW :)

      Hapus
  13. sekarang aturannya aneh, kerja di sekolah gaji dibawah 2 juta disuruh bikin npwp atau dipotong 20%.

    aturan baru dibawah 2 juta ga kena pajak, malah orang pajaknya bilang ga usah bikin kalo masih ptkp.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soal ini memang masih tumpang tindih sepertinya. Saran saya, jika NPWP memberi banyak manfaat, misal pemotongan jadi lebih sedikit, lebih baik buat saja....

      Hapus
  14. Bingung bikin atau tidak. Saya pekerja lepas dengan honor tak menentu. Tapi sekarang novel saya sedang di acc dan dimintai NPWP, agar pajak yang dikenakan tidak besar.
    Tapi saya malas untuk laporan SPT nihil :D
    Ada saran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah dimintai NPWP terkait dengan honor menulis, dan karena saya belum punya (dan malas buat juga karena malas buat SPT :) ), saya pakai NPWP suami. Kebetulan oleh media yang bersangkutan boleh pakai cara demikian. Coba ditanyakan lebih lanjut Pak, mungkin ada alternatif lain.....

      Hapus

 
;