Rabu, 29 Mei 2013

Beasiswa untuk Ibu Rumah Tangga


Foto dari sini

“Kuliah dengan beasiswa Mbak?” inilah salah satu pertanyaan yang sangat sering ditanyakan sejumlah orang ketika mengetahui saya, yang (hanya) ibu rumah tangga, melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana. Sebuah jenjang pendidikan yang umumnya masih ditempuh oleh sekelompok orang saja di negeri ini.

“Beasiswa donk” jawab saya seceria mungkin. Padahal, banyak orang justru menghindar atau malu-malu saat harus menjawab pertanyaan yang satu ini. 

 “Beasiswa dari mana?” pertanyaan berikutnya yang biasanya disertai dengan ekspresi sangat penasaran. Pertanyaan di atas memang belum tuntas, justru inilah poin terpenting yang ingin diketahui banyak orang. 


“Dari Suami Foundation” jawab saya. Jawaban ini biasanya membuat saya dan si penanya kompak tertawa. Ya iyalah, mana ada lembaga pemberi beasiswa bernama “Suami Foundation” :)

Jawaban di atas sengaja saya pilih, pertama agar obrolan tidak menjadi buntu atau mengarah pada pembicaraan yang serius. Lebih dari itu, saya ingin menyelinapkan sebuah harapan terutama pada teman-teman yang berstatus sama, yakni ibu rumah tangga, agar selalu memiliki harapan dan optimisme besar jika memang ingin melanjutkan studi. Sebuah impian yang bagi sebagian besar perempuan, apalagi mereka yang sudah menikah, seperti pungguk merindukan bulan.

Hampir dua tahun waktu yang saya butuhkan untuk berpikir keras sekaligus mencoba mempertimbangkan segala sesuatunya dengan sangat seksama sebelum akhirnya memutuskan melanjutkan studi dengan biaya sendiri alias mengandalkan suami sebagai sponsor utama bagi studi saya. Sebuah pilihan yang tidak mudah, karena sebagai keluarga muda apalagi hanya satu orang yang bekerja, keadaan financial kami sebenarnya tidak terlalu berlebih. 

Jujur, awalnya suami merasa gamang untuk mendukung keinginan saya. Apalagi, nantinya ia tidak hanya harus penjadi penopang utama biaya pendidikan saya, namun juga harus menggantikan peran saya sebagai ibu karena universitas yang saya inginkan berada di luar kota. Selain itu, saya juga akan memilih kuliah regular dengan waktu kuliah yang cukup minim kompromi. 

Proses untuk meyakinkan suami bahwa kami akan melaluinya dengan baik, hampir sama dengan proses pengajuan aplikasi beasiswa pada lembaga pada umumnya. Tak hanya memakan waktu, prosesnyapun cukup berliku dan menguras emosi.

Aku tak bisa mewujudkan impian ini sendiri, jadilah sayapku agar aku bisa terbang meraihnya” inilah kalimat yang sering saya ucapkan padanya. So sweet :). Gak tau deh nemu di mana kalimat ini, tapi saya mengucapkannya dengan sepenuh hati.

“Aku tak menjanjikan sesuatu yang pasti, aku bahkan tidak tau ada apa di ujung jalan ini. Tapi setidaknya kita telah berusaha untuk terus bergerak, mengupayakan sesuatu yang lebih baik agar kita bisa berbuat lebih baik dan lebih bermanfaat” kalimat saya yang lainnya untuk meyakinkannya. Suami belum juga memberi lampu hijau ketika itu. Beberapa bulan menjelang universitas yang ingin saya tuju akan segera membuka pendaftaran mahasiswa baru.

Maha Besar Allah. Ketika saya sudah merasa kehilangan kata-kata, bahkan airmata, semesta alampun menunjukkan bahwa Ia Maha Mendengar doa. Saya masih ingat ketika itu, mata saya masih sembab, juga sesak di dada, ketika sebuah telpon saya terima.

“Kami akan menanggung biaya masuk kuliah Anda”. Alhamdulillah. 

Tak cukup sampai di sini, suamipun berkata:

“Pergilah, kejar impianmu” katanya sembari meraih tangan saya dan meletakkannya di telapak tangannya. Sebuah pertanda bahwa ia siap mendukung saya. Dan perjalananpun dimulai. Salah satu momen paling mengharu biru dalam hidup saya.


Menulis, Alternatif “Beasiswa” Lain 

Ada banyak jalan menuju Roma.

Jawaban “dari suami foundation” kadang tidak memuaskan penanya ketika saya menjawab pertanyaan dari mana saya mendapatkan biaya untuk melanjutkan studi S2. Jadi, agar rasa penasaran mereka terpuaskan sekaligus memberi secercah harapan, saya menyebutkan sejumlah nama media sebagai lembaga sponsor studi saya.

“Koq bisa?” 

“Bisa donk. Aku nulis, mereka muat, honor yang aku dapat kuanggap sebagai beasiswa” jawab saya.

Saat menempuh studi S2, saya terbilang cukup produktif menulis. Tidak semata supaya mendapatkan honor. Harus berada di luar kota rata-rata 4 hari dalam seminggu sungguh membuat saya sangat tersiksa. Terutama saat ingat anak-anak dan betapa repotnya suami dan keluarga lain harus menjaga mereka ketika saya tidak ada. Ada rasa bersalah dan sedih yang teramat dalam. Saat rasa ini begitu memuncak, seringkali saya ingin membenturkan kepala ke dinding kamar kos, atau membenamkan bantal ke wajah. Berharap hal itu bisa membuat rasa bersalah dan sedih saya berkurang. Kenyataannya justru semakin bertambah.

Menulis kemudian menjadi sarana pelampiasan kesedihan saya. Apalagi, berada dalam komunitas akademisi yang sangat mumpuni di kampus, membuat ide-ide menulis seperti bintang jatuh saja.

Jika tidak ada tugas kuliah dan presentasi, biasanya hampir selalu ada tulisan yang saya hasilkan dalam sehari. Tak ragu saya mengirimkannya ke media meski tidak terlalu yakin akan dilirik redaktur. Bersyukur, sebagian besar di antaranya dimuat. Meski honornya terbilang tidak terlalu banyak untuk mereka yang sudah menjadi master di bidang ini, namun bagi saya cukup meringankan sejumlah biaya yang saya perlukan selama studi.

Ya, jadi dengan beasiswa dari “Suami Foundation” dan menulis inilah, saya menyelesaikan studi saya.

(Bersambung

67 komentar:

  1. Kerennn mbak, speechless buat yang selalu semangat mengejar pendidikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. ikut speechless Mbak Hana :)

      Tulisan ini sebenarnya sdh hampir satu semester mengendap di folder, ya itu karena hampir selalu speechless juga tiap mau nulis :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. sedang memenuhi janji pada beberapa teman untuk menuliskan tentang ini Mbak Armita, terimakasih sudah turut membacanya....:)

      Hapus
  3. hihihi aku dulu biaya sendiri malah s2nya karena belum bersuami... bisa kok mak asal referensi kita bagus LOA nya pasti di acc sama biaya jug aseh.. banyak kok beasiswa asal semangat aja ngirimnya :v
    sukses ya s2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren :)

      Saya menikah saat masih kuliah S1, jadi S1-pun sebagian dibiayai suami :)

      Terimakasih info dan semangatnya Mbak, sukses selalu juga untuk Mbak Suria :)

      Hapus
  4. terharu.... benar2 impian setiap wanitaaaaaa ,, hebat mba bisa melakukannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, banyak sekali teman perempuan yang cerita tentang impian yang satu ini, setiap perempuan pasti akan memiliki ceritanya sendiri-sendiri, bagus juga sepertinya kalau dibukukan, supaya menjadi penyemangat bagi mereka yang ingin berjuang mewujudkannya :)

      Hapus
  5. Ah, keren mak... Saya pun masih menyimpan mimpi untuk bisa melanjutkan studi. Semoga suatu saat nanti terwujud.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiiin, semoga lekas terwujud Mak, tak ada kata "terlambat", kapanpun memulainya :)

      Hapus
  6. samaa mak..semoga suatu saat nanti bisa melanjutkan kuliah.. pingin banget jd dosen saya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dimudahkan dan disegerakan impiannya Mbak, semangat :)

      Hapus
  7. Impianku sejak menikah, mbak...Sungguh menginspirasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. senangnya bertemu teman yang memiliki impian sama, semoga segera menyusul ya Mbak....:)

      Hapus
  8. Balasan
    1. semakin hari kita semakin menemukan banyak persamaan ya Mbak :)

      Hapus
  9. hebat... mbak, semangat terus untuk kuliah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini salah satu doa saya sejak kecil Mbak, ingin selalu mencintai ilmu, semoga hingga akhir hayat :)

      Hapus
  10. Terharu bacanya mba Ririn, Jujur sayapun punya impian untuk S2. Tapi demi anak-anak, saya geser dulu deh impian itu. Selamat ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesuatu yang tertunda biasanya dibalas dengan yang lebih baik dari yang kita pinta Mbak, semangat terus ya :)

      Hapus
  11. Selalu suka dengan tulisan Mbak Ririn. Mengingatkan pada mimpi saya 8 tahun lalu untuk ambil Akta IV untuk bisa mengajar, keburu suami yang dapat beasiswa untuk S2. Saya pun mengalah karena tidak ada yang menjaga putri sulung kami. Begitu suami lulus S2, saya langsung hamil anak kedua. Hi hi...,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi speechless, semoga kesabaran dan pengorbanan Mbak Devy mendapat balasan yang sangat indah, semangat terus ya Mbak :)

      Hapus
  12. sama mbak. saya jg kuliah lg dengan beasiswa suami foundation. hehe. perasaan galau selalu ada tiap hari waktu ninggalin anak ke daycare. tetep semangaaaat mbak! semua akan indah pada waktunya. semoga dengan ini kita semua menjadi pribadi yg lebih kuat. termasuk anak2. aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiin. Soal anak memang tantangan berat lainnya bagi emak-emak kayak kita Mbak :)

      Sudah selesaikah studinya Mbak Kartika?

      Hapus
  13. Waktu saya baru nikah, saya ambil S2 di luar kota. Tadinya biayanya dari ortu (karena sebelum nikah sudah daftar). Tapi akhirnya dari suami juga (ketika kami sudah menikah). Keep writing, Mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama penerima beasiswa suami foundation nih kita Mbak Fita :)

      Terimakasih, keep writing juga ya Mbak....

      Hapus
  14. Ya ampuun, buru-buru nge-klik kirain emang ada BEASISWA UNTUK IBU RUMAH TANGGA tuh. Bunda juga masih pengen altuh kuliah lagi biar bisa jadi translator kayak mak Dina Begun tuh. Ternyata itu kisah kesuksesan Ririn ya. Selamet ya Ririn Handayani untuk pencapaian yang telah kau genggang. Maju terus, pantang mundur. Nice posting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih Bunda, sukses selalu juga buat Bunda :)

      Btw, saya juga ingin seperti Mak Dina....:)

      Hapus
  15. Waah.. kena tonjok deh aku. *BRB cari semangat yang hilang untuk ngerjain skripsi* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo Mbak, cepat selesaikan skripsinya :) Dunia yang pernah warna dan tantangan akan menantimu setelah ini :)

      Hapus
  16. Balasan
    1. ini memang beasiswa yang paling mudah didapat IRT Mbak, yakni dengan minta sponsor pada suaminya masing-masing :) menulis, jika diseriusi juga akan sangat membantu. teman saya ada yang kuliah s3 dengan salah satu sumber dana utama dari menulis. Beliau memang jam terbang menulisnya sudah tinggi :)

      Hapus
  17. Semangat yang menyala walaupun kendala demikian besar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, InsyaAllah akan ada jalan bagi setiap kemauan yang sungguh-sungguh. Terimakasih sudah mampir Mbak Ina :)

      Hapus
  18. Mbak, secara ga langsung ini jadi motivasi saya untuk lanjut pascasarjana. Jujur saya juga IRT dan belum punya tabungan untuk itu... Sementara cita-cita mau lanjut kuliah udah ada sejak sebelum lulus sarjana :p

    Berharap dapat beasiswa juga dari suami foundation. Kalau terwujud, nama mba ririn bakal ku masukin dalam kata pengantar thesis.. Hiihiii... Aamiiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, iya, tetap semangat ya mbaaa.... Karena seorang ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya, ilmunya insyaAlloh ga akan pernah sia-sia. Makasih udah jadi motivasi saya :)

      Hapus
    2. Sangat terharu.....:)

      Iya Mbak, terimakasih sudah mengingatkan tentang peran utama kita sebagai ibu. Karena saya kuliah dengan beasiswa dari suami foundation, maka setelah lulus, prioritas utama saya adalah (lebih tulus dan lebih berkomitmen) mengabdi pada keluarga :)

      Sukses selalu ya Mbak Nindya, semoga impiannya segera terwujud dengan segala kebaikan di dalamnya, aaamiiin.....

      Hapus
  19. Saya juga 'suami foundation'.. Semoga berkah ya semua yg kita jalani buat diri sendiri dan keluarga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiin...

      Alhamdulillah dapat teman senasib dan seperjuangan lagi...:)

      Salam kenal dan sukses selalu ya Mbak...

      Hapus
  20. Saya juga pengen bgt mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga dimudahkan untuk mewujudkan keinginan yang satu ini Mbak Rini.....:)

      Hapus
  21. mbrebes mili baca tulisannya mbak,impianku juga bisa kuliah meski usia sdh makin tua,namun terhalang biaya dllnya. tapi senang wanita lain bisa mengejar impiannya..semoga sukses mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mbak Enny, semoga Allah mendengar dan mengabulkan doa dan impian Mbak Enny juga, aamiiin....

      Hapus
  22. Selalu ada jalan untuk melangkah dalam mencari Ilmu, asal niatnya baik..

    BalasHapus
  23. Balasan
    1. Terimakasih Mbak, semangat juga ya....:)

      Hapus
  24. Subhanalloh Mba, aku mpe nahan nafas dan akhirnya keluar mutiara indah di pipiku.

    Aku mau meraih impianku, jadilah sayap agar aku mampu terbang meraih impianku, so sweaaat abis,

    Salam
    Astin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, saya sering mengatakan kalimat ini pada suami :)

      Dalam praktiknya, suami seringkali tidak hanya berperan sebagai "sayap" bagi istrinya, kadang iapun menjelma busur yang melesatkan istrinya meraih bintang impian. Kadang iapun menjaga kita seperti layang-layang, tetap terjaga di bawah, sedang kita terbang tinggi ke angkasa. Saat langit biru, ia terus mengulur benang agar kita bisa meraih impian setinggi mungkin. Tapi saat cuaca berubah ekstrim, dengan sigap ia menarik benang agar kita tetap selamat.

      Komentar yang ini semoga gak bikin Mbak Astin nangis lagi ya Mbak? :)

      Hapus
  25. Tuhan itu Maha Pengabul ya. :)
    semanggaaatt mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, InsyaAllah selalu percaya dengan keyakinan ini :) kalaupun kita tidak mendapatkan yang kita pinta, InsyaAllah kita mendapat ganti yang lebih baik :)

      Hapus
  26. keren mbak, tetep semangat ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih Ibu, sukses selalu juga untuk Ibu Sri :)

      Hapus
  27. subhanallah. di mana ada niat, di situ aja jalan ya, mak. justru ketika ga terlalu ngarep malah dapet. barakallah :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Ila, berhusnudzon selalu pada Allah :)

      Hapus
  28. wah mak..ini bener2 penyemangat..cz aku skrg lagi persiapan mau kuliah lagi..bismillah ya mak semoga dimudahkan.amin

    BalasHapus
  29. Mata saya langsung memicing mendengar "suami foundation", oalah ternyata. Tadinya mau langsung sms saja mau tanya dapat darimana beasiswanya. hehehe...semoga bisa menyusul mba Ririn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera terwujud impiannya Mbak Ety :)

      Hapus
  30. Assalamu'alaikumww. Ammazing Mbak Ririn... ana juga IRT yang belum punya momongan... pengen menempuh S2 semenjak lulus S1, tp krena harus mnjdi tulang punggung keluarga krn anak pertama jdinya menunda keinginan itu dan masih tersimpan sampai sekarang.. setelah menikah malah g dapet support dari suami... pengeeen bangeet apa lagi dgn pndptn suami yg pas-pasan.. hanya berpegang dengn"DAHSYATNYA DOA" semoga Allah mengabulkan.. krna sosial adalah jiwaQ dan menuntut Ilmu adalah hidupQ.. smoga aQ ba sprti mbak... aamiin... sukses sll mbk makasi motivasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam Mbak Laily, dalam banyak hal kita punya banyak kesamaan Mbak, semoga Allah memudahkan azzam Mbak Laily, InsyaAllah keajaiban itu selalu ada Mbak :)

      Hapus
  31. inspiratif mbak, saya jadi merasa ikut terpacu juga. terimakasih sudah berbagi. :-)

    BalasHapus
  32. Saya yakin kok dibalik kesibukan seorang ibu yang repot mengurus rumah dan anak pasti banyak kok yang mengimpikan bisa melanjutkan studynya hihihihi termasuk saya juga mba,kata kata agnez mo bisa jadi semangat saya yaitu "dream,believe and make it happen" :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, banyak teman yang sharing soal impian yang terpendam satu ini :)

      Hapus
  33. Terima kasih untuk sharing di blognya ya mbak. Saya pribadi yang senang untuk belajar walaupun sy ibu dr 1 batita cantik, dukungan full dari suamipun sudah sy dapatkan untuk melanjutkan s3. Tetapi saat ini sy agak sedikit bimbang mengenai status sy yg hanya IRT. Berbagai pertanyaan sering muncul dibenak sy "apakah pantas sy s3" Semoga sy segera bisa yakin dan mantap melanjutkan s3 nya. Maaf jd curhat mbak .. Hehe. Salam kenal mbak :-)

    BalasHapus
  34. Bneran mau nangis bacanya mbak.semoga saya bisa mengikuti jejak mbak :-)

    BalasHapus

 
;