Jumat, 26 April 2013

Wisata Edukasi untuk Indonesia Kreatif




Ancol yang selalu ramai pengunjung, sumber foto : m.ancol.com

Seiring dengan semakin meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat, rekreasi atau wisata kian memiliki arti penting. Kehadirannya tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan sekunder atau tersier, namun sudah mulai bergeser menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Rekreasi juga tak lagi identik dengan masyarakat menengah ke atas dan wikayah perkotaan saja. Di sisi lain, manfaat rekreasi juga tak hanya sebatas merilekskan pikiran, namun juga dinilai efektif sebagai salah satu sarana pembelajaran yang menyenangkan terutama bagi anak-anak. Perpaduan antara rekreasi dan edukasi ini kemudian memunculkan sebuah konsep yang sangat populer dalam bidang wisata saat ini yakni wisata edukasi atau dikenal juga dengan edutainment. 


Dalam konteks yang lebih luas yakni kehidupan berbangsa dan bernegara, kehadiran edutainment yang memiliki kreativitas dan inovasi tinggi juga bisa berpengaruh signifikan dalam upaya membentuk karakter dan penanaman nilai-nilai luhur bangsa sekaligus mendorong Indonesia memiliki daya saing tinggi di kancah global. Sebagaimana diketahui, sektor pariwisata kini menjadi salah satu primadona dalam menggerakkan perekonomian negara. Banyak negara di dunia yang berlomba-lomba mengembangkan sektor pariwisatanya karena banyaknya manfaat yang didapat terutama dari sisi ekonomi. Salah satunya melalui pengembangan wisata edukasi atau edutainment.


Ancol sebagai Ikon Wisata Edukasi

Berbicara tentang wisata edukasi di Indonesia, maka akan muncul sebuah nama yang sudah tidak asing lagi, yakni Ancol Taman Impian atau yang lebih dikenal dengan Ancol. Dengan berbagai sarana rekreasi yang dimilikinya yang sarat dengan inovasi dan kreativitas tinggi, Ancol telah menjadi ikon wisata edukasi di tanah air yang namanya sudah dikenal hingga mancanegara. Sebagaimana dikemukakan oleh Direktur Utama PJA, Ir. Budi Karya Sumadi, bahwa eksistensi Ancol Taman Impian sebagai kawasan wisata terpadu dan terbesar di Asia Tenggara saat ini telah menjadi salah satu tujuan wisata pilihan kelas dunia. Pencapaian ini berhasil diraih karena komitmen besar Ancol untuk menyajikan konsep wisata yang menarik, berkualitas, inspiratif dan menggugah, yang dapat dinikmati oleh setiap orang. Ancol tidak hanya menyajikan kesenangan tetapi juga konten pembelajaran terutama mengenai bagaimana menghargai budaya, menghargai alam, bersahabat dengan ragam satwa termasuk mengenal harta yang tersembunyi dalam negeri bahari kita. 

Sebagai ikon wisata edukasi di tanah air, Ancol mencoba menghadirkan segala hal yang baru dan pertama terkait dengan dunia edukasi secara konsisten, baik dalam hal ide, program kegiatan ataupun pengemasan wahana edukatif. Dengan tim kreatif dan manajemen yang mumpuni dan luas wilayah yang sangat memadai yakni seluas 552 hektare, Ancol menapaki tangga impiannya dengan langkah pasti. Secara konsisten, wahana rekreasi yang edukatif disajikan pada masyarakat. Salah satunya yang terbaru yakni Ecopark. 


Salah satu sudut Ecopark, sumber foto : Ancol.com

Taman rekreasi seluas 33,6 hektare yang baru diluncurkan pada 2011 lalu ini merupakan sebuah botanical garden yang berupaya mengakomodir kebutuhan taman kota di Jakarta sekaligus sebagai eco-edutainment center bagi anak-anak muda. Ecopark mencoba menggabungkan unsur wisata, pendidikan alam dan pengalaman petualangan luar ruang. Berbagai aktivitas dapat dilakukan di sini, mulai wisata itu sendiri, pendidikan lingkungan, eco-events center, kegiatan olahraga juga kegiatan komunitas. Ada empat zona bermain berkonsep aktivitas eco-care, eco-art, eco nature, dan eco-energy yang dapat dipilih. 

Agar konsep edukasi tersampaikan secara optimal, Ancol menggandeng sejumlah pihak terkait seperti World Wild Fund atau WWF untuk mengedukasi anak-anak muda agar lebih apresiatif terhadap lingkungan. Kehadiran sarana rekreasi seperti Ecopark ini tentu sangat bermanfaat bagi kepentingan pendidikan, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya generasi muda akan arti pentingnya memelihara lingkungan dan menjaga kekayaan keragaman hayati Indonesia. Ecopark bisa menjadi salah satu jendela bagi masyarakat luas terutama masyarakat perkotaan untuk melihat, mengenal dan bangga pada potensi keragaman hayati negeri sendiri.

Tak hanya menyajikan sesuatu yang benar-benar baru seperti Ecopark, Ancol juga mengemas wahana yang telah ada agar menjadi lebih atraktif dan kondusif untuk menjadi sarana wisata edukasi. Seperti yang dilakukan pada tiga theme park yang sudah sangat dikenal masyarakat yakni Dunia Fantasi, Gelanggang Samudra, dan Atlantis Water Adventure. Di Dunia Fantasia atau Dufan misalnya, melalui Fisika Dunia Fantasi dan Pentas Prestasi, Ancol mengajak pengunjung untuk menjadi seorang cendikiawan. Konsep edutainment juga bisa kita temui di Samudra Atlantis atau Atlantis Water Adventure. Dengan kreativitas dan inovasi yang tinggi, Samudera Atlantis dapat menjadi media pelaksanaan kegiatan edukasi-rekreasi yang melibatkan masyarakat melalui berbagai permainan rakyat yang dikemas dengan sangat kreatif. Selain mengukuhkan diri sebagai pusat rekreasi yang lengkap dan canggih, Ancol juga mengembangkan sejumlah konsep untuk merespon isu-isu dan problematika aktual seperti masalah lingkungan dengan cara-cara yang kreatif. Sejauh ini Ancol merupakan salah satu pengelola rekreasi yang konsisten menjaga pelestarian alam dan budaya. 

Perpaduan antara inovasi dan kreativitas yang tinggi, sarana yang luas, lengkap dan canggih, juga kepedulian terhadap budaya dan lingkungan yang dikemas secara kreatif dalam konsep wisata edukasi, diharapkan dapat menambah pengetahuan para pengunjung terutama anak-anak, sekaligus membangun daya kognitif anak untuk lebih terampil dalam menambah kemampuan mengingat, memahami, menerapkan serta menciptakan daya kretifitas. Alhasil, tak mengherankan jika jumlah pengunjung Ancol terus mengalami peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu. Pada tahun 2012 lalu misalnya, pengunjung Ancol tercatat 15 juta orang atau bertambah lebih dari 500 ribu orang dibandingkan jumlah pengunjung pada tahun sebelumnya yang mencapai 14,35 juta orang. Untuk tahun 2013 ini, pengunjung Ancol ditargetkan mencapai 15,5 juta orang atau bertambah 500 ribu orang dari tahun lalu. Target penambahan jumlah pengunjung ini merupakan bagian dari mimpi Ancol untuk mewujudkan Ancol Spektakuler 2015 dengan target jumlah pengunjung sebanyak 20 juta orang.

Tak hanya dibanjiri pengunjung yang terus meningkat dari waktu ke waktu, Ancol juga berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi tidak hanya di bidang wisata namun juga sejumlah penghargaan di bidang bisnis. Untuk penghargaan di bidang wisata, sejumlah penghargaan yang diraih Ancol antara lain masuknya Atlantis Water Adventure ke dalam Top 20 Water Parks Worldwide yang dipublikasikan oleh Themed Entertainment Association (TEA) pada tahun 2011 bekerjasama dengan AECOM. Berada di posisi ke-12, Atlantis Water Adventure mampu mengungguli water park Wild Wadi di Dubai; Summerland (Tokyo, Jepang); Water Kingdom (Mumbai, India); Beach Park (Aquiraz, Brasil); Happy Magic Water Cube (Beijing, China); atau Water Country USA (Williamsburg, AS). Sementara itu Dufan juga masuk dalam daftar 20 theme park terbaik di Asia untuk kategori amusement park/theme park yakni di posisi ke-18. Dengan pencapaian ini, Dufan berhasil mengungguli theme park Happy Valley yang ada di Chengdu dan Shanghai, China. 

Selain sejumlah penghargaan di atas, Ancol juga pernah dinobatkan sebagai theme park terbaik di Asia dan terbesar kelima di dunia dilihat dari kategori jumlah pengunjung mencapai 14,5 juta orang pada tahun 2010 lalu. Adapun untuk penghargaan di bidang bisnis, antara lain The Best Companies in Asia and Australia (2006), Indonesia Property Award (2006), Investor Award (2007), dan Marketing Award (2007). Dengan berbagai pencapaian ini, Ancol sebagai ikon wisata edukasi di Tanah Air bisa menjadi pilot project atau proyek per­contohan bagi pengembangan kawasan wisata lainnya yang ada di Tanah Air mengingat Indonesia memiliki banyak sekali potensi wisata yang belum digarap secara optimal terutama wisata yang berbasis bahari.


Selalu Menjadi yang Terdepan

Bukan Ancol namanya jika tak berupaya untuk selalu menjadi yang terdepan dalam hal inovasi dan kreativitas dalam hal sarana rekreasi. Merunut dari sejarah dan filosofi kehadirannya, Ancol merupakan salah satu realisasi mimpi besar Indonesia yakni menjadi destinasi wisata utama kelas dunia. Bermula dari mimpi besar Soekarno yang ingin memiliki taman seindah Sriwedari dalam cerita Jawa, tempat rakyat mewujudkan impian. Mimpi besar Soekarno yang sebenarnya telah dititahkan pada Gubernur DKI Jakarta ketika itu yakni Soemarno, baru terealisasi pada masa pemerintahan Ali Sadikin, bersama partner bisnisnya yang sangat mumpuni, Ir. Ciputra. Perpaduan antara impian, kerja keras dan strategi ini kemudian menyulap kawasan barat Jakarta yang kumuh, berawa dan disebut masyarakat sebagai tempat pembuangan anak jin, menjadi pusat rekreasi yang luar biasa. Ancol menjelma bak mutiara.


13262769431630259299
Ancol saat ini, sumber foto : Ancol.com

Seiring waktu, Ancol terus berbenah dan berinovasi dengan tak lupa membangun mimpi-mimpi baru. Beberapa tahun lalu ketika wisata edukasi masih sebatas wacana, Ancol segera meresponnya dengan sejumlah langkah nyata. Untuk mewujudkan impian ini, Ancol berupaya menghadirkan segala hal yang baru dan pertama terkait dengan dunia edukasi secara konsisten, baik dalam hal ide, program kegiatan ataupun pengemasan wahana edukatif. Tak hanya setiap tahun, hal-hal baru di Ancol bahkan bisa dijumpai hampir setiap bulan. Ancol sangat serius mewujudkan komitmennya untuk menjadi ikon wisata edukasi di Tanah Air karena bagi Ancol, menjadi ikon wisata edukasi tidak semata dalam rangka mengejar keuntungan komersial, namun juga berperan dalam meningkatkan kecerdasan masyarakat, terutama para pengunjungnya dengan menyuguhkan wisata edukasi (edutainment). Ancol merasa memiliki tanggung jawab sosial untuk ambil bagian dalam upaya mencerdaskan masyarakat terutama melalui sarana rekreasi. Melalui Ancol Spektakuler 2015, Ancol ingin mengukuhkan eksistensinya sebagai ikon wisata edukasi di Tanah Air sekaligus sebagai perusahaan pengembang kawasan wisata terpadu terbesar dan terbaik di Asia Tenggara yang memiliki jaringan sentra rekreasi terluas.

Ketika eksistensi Ancol sebagai ikon wisata edukasi semakin kukuh dan nyaris tak terbantahkan, Ancol kembali membangun mimpi-mimpi baru untuk semakin memajukan sektor pariwisata di Indonesia sekaligus lebih mengenalkan kekayaan alam dan seni budaya Indonesia di mata dunia. Saat Unesco mengumumkan bahwa dalam kurun waktu 1985-2005 Indonesia tidak termasuk dalam kota-kota dengan  pertumbuhan ekonomi kreatif yang signifikan sehingga tidak termasuk dalam peta kota-kota yang memiliki modal budaya (Johnson, 2009), Ancol adalah salah satu pihak yang langsung mengambil posisi terdepan yang ingin melesatkan seni budaya Indonesia sehingga lebih dikenal di mata dunia. Karena itulah terhitung sejak tahun 2006, Ancol tidak hanya memoles wahana permainannya agar lebih spektakuler namun juga memberi perhatian yang lebih besar pada aspek pelestarian seni dan budaya Indonesia. Salah satunya dengan berkomitmen menjadi pusat kegiatan kreatif di Indonesia yang bertaraf internasional. Mimpi ini sejalan dengan tren ekonomi saat ini yakni ekonomi kreatif. Dalam tren ini, pariwisata merupakan salah satu sektor yang menjadi primadona.

Menurut Prof. DR.Dorodjatun Kuntjoro-Djakti, tujuan pengembangan pariwisata dari sudut ekonomi dengan delapan keuntungan yakni: peningkatan kesempatan berusaha, memperluas kesempatan kerja, peningkatan penerimaan pajak, peningkatan pendapatan nasional, percepatan proses pemerataan pendapatan, meningkatkan nilai tambah produk hasil kebudayaan, memperluas pasar produk dalam negeri, dan yang terakhir, memberikan dampak multiplier effect dalam perekonomian sebagai akibat pengeluaran wisatawan, para investor maupun perdagangan luar negeri. Dengan demikian tujuan pengembangan pariwisata bukan hanya sekedar sumber pendapatan devisa negara tapi pariwisata dapat berperan sebagai katalisator pembangunan (agent of development).

Terkait dengan kontribusi sektor pariwisata terhadap berbagai sektor, data World Tourism Organization (WTO) tahun 2010 menyebutkan bahwa jumlah wisatawan global akan meningkat menjadi 1.018 juta orang dengan perolehan devisa sebesar 3,4 triliun dollar AS, investasi pariwisata dunia sebesar 10,7 persen permodalan dunia dan kesempatan kerja sebanyak 204 juta orang. Dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 4,1 persen setiap tahunnya, jumlah wisatawan dunia akan meningkat menjadi 1.561 juta orang di tahun 2020 di mana kawasan Asia Pasifik  diyakini akan merebut porsi terbanyak dari pertumbuhan pariwisata dunia (Oka A.Yoeti, 2008). Sementara itu untuk Indonesia berdasarkan data Kemenparekraf, sektor pariwisata mempekerjakan 9,28 juta orang tenaga kerja atau 8,37% dari total tenaga kerja sementara ekonomi kreatif menyerap 11,57 juta tenaga kerja pada tahun 2012 lalu.

Dengan berbagai manfaat dan keuntungan pengembangan sektor pariwisata yang sangat besar sebagaimana disebutkan di atas, Ancol kembali berkomitmen untuk memajukan sektor pariwisata di Indonesia khususnya melalui konsep wisata edukasi yang mengedepankan nilai-nilai seni dan budaya Indonesia dalam tampilan yang elegan dan kreatif dalam balutan teknologi yang canggih. Salah satu pola pariwisata baru yang ingin dibidik Ancol adalah peserta MICE (Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition) yang akan membawa serta keluarga (istri dan anak-anak) karena perjalanan bisnisnya digabung dengan kesempatan liburan keluarga sehingga kebanyakan dari mereka akan memperpanjang waktu kunjungan di tempat MICE diselenggarakan (Oka A.Yoeti, 2008).


Peran Ancol Menyongsong Indonesia Kreatif

Dalam pandangan Ancol, masyarakat Indonesia terutama generasi mudanya, memiliki kreativitas yang luar biasa. Hasil kreativitas seni dan budaya dari para seniman anak bangsa sangat berpotensi untuk dikembangkan dan tampil di tingkat internasional. Sayangnya, tidak banyak tempat yang bisa menyalurkan kreatifitas mereka secara original. Fenomena ini coba difasilitasi Ancol dengan menyediakan sejumlah sarana dan mengadakan sejumlah acara yang bisa menampung sekaligus menumbuhsuburkan iklim kreatif di tanah air terutama di kalangan generasi muda. Cita-cita ini sejalan dengan program Pemprov DKI Jakarta yang ingin menjadikan budaya dan teknologi sebagai basis pengembangan ekonomi kreatif. Secara lebih konkrit, Pemprov DKI berencana mengembangkan kawasan Ancol sebagai pusat kegiatan kreatif. Ancol diharapkan menjadi kawasan yang dapat mempersatukan para pelaku dan komunitas kreatif di Jakarta dan bahkan seluruh Indonesia. Sebagaimana dikemukakan Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol (PJA), perusahaan pengembang kawasan wisata terpadu Ancol Taman Impian,

Jakarta sejak lama dikenal sebagai salah satu kota seni dan budaya tertua di dunia. Kehadiran para seniman lukis handal, dan berbakat yang dimiliki Jakarta, serta pameran-pameran dan kompetisi seni lukis berkualitas yang rutin dilakukan merupakan upaya positif menjaga eksistensi dan kredibilitas Jakarta sebagai salah salah satu kota seni dan budaya terkemuka di dunia. Ancol Taman Impian dengan fasilitas yang tersedia selalu komit untuk menjadi promotor bagi upaya ke arah itu”.

Untuk mewujudkan impian sebagai pusat kegiatan kreatif, Ancol kembali merevitalisasi Pasar Seni Ancol yang dalam beberapa tahun belakangan terasa kurang bergairah. Cukup bertolak belakang dengan era 1970-an di mana Pasar Seni begitu berkibar. Upaya menghidupkan Pasar Seni sebagai pusat kegiatan kreatif antara lain dilakukan dengan pengadaan sejumlah sarana dan acara kreatif dalam sejumlah bidang seni. Seperti, Kompetisi seni lukis bertaraf internasional, Jakarta Art Award (JAA). Kompetisi yang mulai rutin digelar Ancol sejak 2006 ditujukan untuk memberikan dukungan dan gairah baru bagi seniman-seniman lukis nasional dan luar negeri guna meningkatkan prestasi dan profesionalisme. Selain itu, juga diharapkan dapat menjaring dan memberikan kesempatan kepada seniman-seniman terbaik daerah untuk berkompetisi secara profesional, serta memperluas pasar lukisan melalui publikasi dan sosialisasi kepada masyarakat luas dengan memperoleh kesempatan menikmati karya-karya lukis terbaik. Untuk JAA 2012 yang mengambil tema “Dunia Ideal” (Menafsirkan Kehidupan yang Sempurna), diikuti oleh 1.200 pelukis peserta dari dalam dan luar negeri. Penyelenggaraan JAA 2012 tersebut semakin menegaskan komitmen Ancol sebagai sebuah pusat kegiatan kreatif dalam upaya memajukan dunia seni nasional. 

Selain seni lukis, Ancol juga memberi ruang aktualisasi dan apresiasi untuk sejumlah seni lainnya. Urban Fest, sebuah ajang di mana sebuah kreativitas yang original berkembang secara bebas. Diharapkan nantinya akan muncul kreator-kreator muda yang andal. Para peserta Urban Fest berasal dari berbagai komunitas yang tergolong unik. Kegiatan mereka mulai dari yang bicara tentang isu lingkungan, seperti Komunitas Solar Generation Green Peace, dan Komunitas Pencinta Reptil, hingga komunitas anak-anak muda kreatif dari Sirkus Perkusi yang  memainkan musik dari berbagai peralatan bekas serta komunitas pencinta kostum-kostum bintang film yang menamakan dirinya Komunitas Cosplay atau Costum Play. Selama acara berlangsung, musik-musik khas anak muda terus dimainkan.

Yang terbaru, Ancol membuka Kedai lukis Art Brut, yaitu kedai lukis di kawasan Pasar Seni yang baru diresmikan oleh Direktur Utama  Ancol, Budi Karya Sumadi, pada Minggu 21 April 2013 lalu. 

 
Opening Kedai Art Brut Pasa Seni Ancol
Peresmian Kedai Art Brut, sumber foto : http://nasional.news.viva.co.id

Melalui sarana yang satu ini, Ancol mengajak pengunjung untuk melihat seni dari seniman yang tak biasa yakni dengan menyajikan karya seni dari masyarakat pengidap skizofrenia (gangguan mental). Kedai ini merupakan sarana bagi pengidap skizofrenia untuk beraktualisasi dan memungkinkan mereka mendapat apresiasi yang layak dari masyarakat. Sebuah bukti bahwa Ancol memberikan perhatian dan peluang besar bagi kaum difabel untuk berkarya. Menurut Budi Karya Sumadi dalam sambutannya, mereka yang sakit harus dibangun kepercayaan dirinya dengan membuatkan model-model yang diterima masyarakat berupa karya sederhana yamg bisa diterima masyarakat seperti dalam bentuk lukisan. Karya seni tersebut diharapkan bisa menjadi ekonomi kreatif yang dihasilkan oleh panderita skizofrenia yang dapat bernilai jual. Lebih lanjut, ekonomi kreatif yang muncul dari kedai ini nantinya tidak hanya berupa lukisan namun juga bisa dalam bentuk tulisan, tarian atau karya seni apa saja yang bisa mereka hasilkan.

Sama halnya dengan sejumlah inovasi dan terobosan di wahana permainan, revitalisasi Pasar Seni Ancol juga memunculkan sejumlah hal-hal baru. Misalnya dengan bukanya galeri baru di Pasar Seni Ancol yang diberi nama North Art Space atau NAS. Kehadiran NAS sebagai tempat berekspresi bagi para seniman Indonesia diharapkan bisa menjadi pusat kegiatan pengembangan dan penyajian karya seni rupa yang dinamis, kreatif, inovatif, dan demokratis. Dengan demikian, memiliki pengalamanan langsung tentang bagaimana munculnya sebuah proses kreatif sehingga menjadi layak untuk dihargai.

Selain NAS, sarana baru yang disajikan Ancol dalam rangka mengapreasiasi dan melestarikan buadya Indonesia adalah dengan mendirikan Ancol Art Academy, sebuah wadah pembelajaran seni yang berlokasi tepat di jantung komunitas seni Ancol di mana para pengunjung bisa belajar langsung beragam aktivitas seni dan budaya nasional berbasis kesadaran ekologi. Dipandu pengajar berpengalaman dari para praktisi seni yang sangat profesional di bidangnya. Ancol Art Academy terbuka bagi siapun yang ingin mengembangkan bakat atau minat seninya, anak-anak/dewasa, pria/wanita, pelajar-mahasiswa/karyawan dan sebagainya. Proses belajar diadakan dalam kelas yang luas dan nyaman dengan fasilitas lengkap serta suasana yang sangat personal dan komunikatif.

Berbagai terobosan yang dilakukan Ancol di atas tidak hanya ditujukan untuk mengapresiasi dan melestarikan budaya Indonesia agar senantiasa lestari, memiliki nilai jual tinggi dan terkenal ke seantero penjuru dunia, namun juga dalam rangka menumbuhsuburkan iklim kreatif secara luas dalam banyak bidang. Misi sama yang juga terselip dalam semua wahana permainan di Ancol. Yakni bahwa permainan dan sarana wisata yang edukatif diharapkan dapat menularkan virus-virus kreatif pada masyarakat khususnya generasi muda agar tumbuh menjadi sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kreativitas tinggi di semua bidang, tak hanya di bidang seni. Dari SDM-SDM yang kreatif itulah akan lahir ide-ide kreatif dan inovatif sehingga muncullah sosok Indonesia baru yang kreatif. Dengan sosok baru inilah, kita akan berjuang untuk menjadi pemain utama di era ekonomi kreatif saat ini.


Catatan Penutup

Menjelang setengah abad usianya, Ancol kian mengukuhkan diri sebagai yang sarana rekreasi terbaik tidak hanya dalam lingkup domestik namun juga mancanegara khususnya di Asia Tenggara. Ancol terus berbenah dan berinovasi sehingga menghasilkan sejumlah terobosan yang membuatnya semakin diminati dan menjadi destinasi utama wisata masyarakat. Banyak pencapaian yang berhasil diraih, banyak pula mimpi yang telah terwujud. Namun, tak ada kata berhenti untuk terus bermimpi dan berinovasi.

Di tengah persaingan yang sangat sengit di era ekonomi kreatif saat ini, terutama di sektor pariwisata, Ancol tetap harus terus belajar dan tak berhenti berinovasi. Karena inilah salah satu kunci memenangkan persaingan. Di sisi lain, gempuran budaya asing yang sangat deras mengharuskan Ancol meningkatkan kreativitas agar nilai-nilai budaya bangsa tetap memiliki daya tarik dan daya saing yang tinggi sehingga masyarakat khususnya generasi muda tetap mengenal, bangga dan mencintai serta turut andil dalam upaya pelestariannya. Akhir kata, semoga Ancol senantiasa menjadi kebanggaan kita bersama yang menfasilitasi dan mendukung masyarakat dan negeri ini untuk bermetamorfosis menjadi masyarakat dan bangsa yang kreatif. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar