Rabu, 17 April 2013

Salamku untuk Ayah Ibumu…..

siap-siap-mudik.jpg
Foto : mobavatar.com


Bertahun lalu,

Siang itu saya membenamkan diri dalam bacaan yang sebenarnya tak saya minati. Hanya ingin terlihat sibuk di depan seseorang yang biasanya tak lama lagi akan datang menghampiri, setiap kali dia akan mudik.

“Ririn, aku mau pulang” ucapnya dengan lembut dari balik pintu kamar kos yang hanya terbuka sebagian. Saya membalasnya dengan senyum termanis yang bisa saya berikan sambil menghampirinya.

“Hati-hati ya, semoga lancar selama di perjalanan” kata saya sambil menjabat tangannya.

“Titip apa?” katanya lagi.

“Gak ada. Salam saja untuk Mama Papamu” jawab saya sambil tersenyum lagi.

“Ayolah, titip sesuatu supaya aku gak bingung pas mamaku tanya mau bawakan kamu oleh-oleh apa”

Ada desir di hati yang membuat saya ingin menangis, saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya. Ya, setiap teman saya ini mudik, mamanya selalu menitipkan sesuatu yang spesial buat saya. Padahal kami tidak pernah bertemu. Hanya karena teman saya cerita, bahwa rumah saya paling jauh sehingga saya jarang mudik.

“Thanks, tidak usah nanti merepotkan” kilah saya sambil menahan air mata sekuat mungkin.

“Baiklah, hati-hati ya di kos sendirian…” pesannya sebelum pergi. Saya tersenyum, menutup pintu kamar lalu terduduk di balik pintu sambil memeluk lutut. Dan buliran airmata tak tertahankan lagi. Tanpa suara.


Di lain waktu,

Saya sengaja pulang ke kos lebih cepat di hari terakhir kami kuliah sebelum liburan. Ini saya lakukan agar salah seorang teman terbaik saya yang lain tidak melihat mata saya berkaca-kaca saat dia berpamitan pulang liburan ke rumahnya. Tapi dia menemukan cara lain untuk berpamitan.

“Ririn, kamu kemana tadi? Aku cari kemana-mana gak ada” katanya di ujung telfon dengan nada agak kecewa. Saat itu handphone belum semarak sekarang.

“Maaf tadi ada sedikit keperluan” jawab saya tak jujur.

“Ya sudah, aku pulang ya Rin”

“Selamat liburan ya, have fun, lupain tugas kuliah, selamat bermanja-manja sama Bapak Ibu” ucap saya riang. Tak ada balasan.

“Aku kepikiran kamu di sini” balasnya kemudian dengan nada sedih. Saya usap buliran air mata yang mulai jatuh satu per satu.

“Apa yang kamu khawatirkan?” tanya saya dengan suara setegar mungkin.

“Liburannya lama lho, kamu gak kangen aku?” katanya dengan suara yang lucu.

“Pasti nggak-lah, harusnya aku menikmati saat-saat di mana kamu gak ngerecoki aku lagi” jawab saya dengan suara seriang mungkin. Kedengarannya, tapi dengan bersimbah air mata.

Akhirnya dia berpamitan. Dan sekali lagi saya menitipkan salam untuk ayah ibunya, yang seringkali juga menitipkan oleh-oleh buat saya setiap kali teman saya kembali, sama seperti orang tua teman saya sebelumnya.

Hari ini, seorang teman kembali berpamitan mudik lewat pesan singkat. Dan saya kembali mengucapkan salam serta doa semoga perjalanannya lancar, merasakan momen-momen bahagia bersama keluarga. Tak lupa pula saya mengucapkan,

“Salam buat Bapak Ibu ya….”.

Pesan pun terkirim dengan tangis saya menyertainya.



 Jember, 21 September 2012  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;