Jumat, 19 April 2013

Menemukan Indonesia di Pasar Tradisional

AGAM, 1/2 - Sejumlah pedagang menunggu pembeli dagangnya di pasar tradisional biaro,
Foto : www.antarasumbar.com


Ada rasa yang berbeda saat pergi berbelanja ke pasar tradisional. Di sana saya merasa menemukan Indonesia. Sebuah rasa yang terasa semakin langka di tengah modernitas yang kian meminggirkan nuansa dan rasa ke-Indonesiaan kita.

Bersyukur, di Jember, kota tempat saya tinggal saat ini, sejumlah pasar tradisional mudah dijangkau. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah Pasar Kepatihan, sebuah pasar tradisional yang terbilang tua. Dibanding pasar tradisional lain, pasar ini letaknya lebih dekat dengan rumah dengan ketersediaan bahan dan kebutuhan sehari-hari yang cukup lengkap. Hal lain yang juga saya sukai saat berbelanja di pasar ini adalah nuansa ke-Indonesiaannya yang juga masih sangat kental. 


Sikap ramah pedagang yang umumnya menggunakan Bahasa Madura, keguyuban di antara mereka, dan yang membuat saya merasa terenyuh sekaligus miris adalah para lansia yang masih giat bekerja di usianya yang sudah sangat senja. Para lansia itu mungkin usianya ada yang sudah 70, bahkan 80 tahun. Dagangan mereka sangat sederhana, didasar di pinggir got yang kering di depan rumah-rumah penduduk. Salah satu potret kegigihan masyarakat kecil di Indonesia yang sangat bertolak belakang dengan perilaku para koruptor.

Pasar Kepatihan sendiri sebenarnya merupakan ruas jalan yang berbentuk T di bilangan yang termasuk pusat kota. Di kanan kiri jalan banyak dijumpai rumah penduduk yang pada pagi hari menjelma menjadi pasar. Di pagi hari itulah, banyak lansia yang berjualan bahan sehari-hari ala kadarnya di depan rumah penduduk yang sebagian besar di antaranya difungsikan sebagai toko. Karena pada dasarnya pasar Kepatihan adalah jalan perumahan, maka banyak lansia yang harus berjualan di tepi got atau saluran air. Di sanalah mereka biasa berdiri.

Sembari menunggu pembeli menghampiri, para lansia itu biasanya hanya termangu. Mereka menawarkan ala kadarnya barang dagangannya tanpa kesan memaksa apalagi meminta dikasihani. Mereka juga tak marah jika dagangannya terinjak pembeli yang berlalu lalang saat pasar cukup ramai. Dan yang membuat saya kagum, banyak di antara mereka yang menolak menerima kembalian yang diberikan pembeli. Dalam bahasa Madura, seringkali mereka berkata :

"Terimakasih Nak, mohon diterima kembaliannya. Dibeli saja saya sudah sangat berterima kasih" jawaban yang membuat saya malu pada diri sendiri.

Melihat kegigihan mereka di usia yang sudah sangat senja, saya sangat kagum. Juga pada kejujuran mereka dan betapa mereka sangat menjaga harga diri dan kehormatannya untuk tidak dikasihani. Sebuah karakter Indonesia yang kian memudar.......


7 komentar:

  1. lestarikan pasar tradisional agar anak cucu kita tidak masuk ke sistem kolonialisme...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemerintah yang (seharusnya) memiliki wewenang paling besar untuk melakukan ini. Saya pribadi sangat setuju dengan upaya pelestarian pasar tradisional, karena selain menjadi tempat yang masih kental dengan nuansa ke-Indonesiaan, pasar tradisional adalah salah satu sentra perekonomian rakyat kecil.....

      Hapus
  2. namun pasar tradisional mulai kegusur oleh minimarket gan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, dan semakin terpinggirkan.....:(

      Hapus
  3. selamat pagi, mbak Ririn.
    mohon ijin berbagi tulisan mbak ririn di grup kami ya https://www.facebook.com/groups/324431234253184/
    terima kasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kembali dan salam kenal :)

      Grup yang inspiratif, sukses selalu....

      Hapus
  4. Mari merapat mbak Ririn,, sekolah pasar

    BalasHapus

 
;