Rabu, 24 April 2013

Anak-anak Perempuan yang Menyayangi Ayah Ibunya


http://twinpossible.com/wp-content/uploads/2011/06/fathers-day-gift-ideas.jpg
Foto : twinpossible.com

Meski tak bekerja, banyak anak perempuan yang telah menikah tetap memiliki keinginan besar dan berusaha keras bisa memberi ayah ibunya, walau jumlahnya tak seberapa. Bagi mereka, memberi tidak semata berarti membantu namun juga wujud kasih sayang dan rasa terimakasih. Bisa memberi terkadang juga menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Sayangnya, keinginan untuk memberi tidak selalu terealisasi dengan mudah terutama bagi istri-istri yang tidak bekerja. Seringkali ini justru menjadi dilema. Masalah ini seringkali menjadi topik diskusi dan curhat saya dengan sejumlah teman perempuan. Beberapa di antaranya memiliki kisah yang begitu mengharukan.


Sebut saja namanya Melati. Setau saya saat kuliah dulu, ia tidak terlalu pandai memasak. Karenanya saya cukup terkejut sekaligus takjub saat ia bercerita, kini ia bisnis makanan kecil-kecilan. Sementara ini ia hanya menguasai cara membuat sejumlah kue. Tak sungkan ia menawarkan diri untuk membuatkan kue saat ada teman atau tetangga yang punya keperluan, meski skalanya terbilang sangat kecil, pertemuan ibu-ibu PKK misalnya. Kadang, ia juga menitipkan kue-kuenya di sejumlah warung. Mengingat ia dulu sangat tidak familiar dengan masalah kue apalagi berjualan, saya kagum padanya. Terlebih ketika ia menceritakan apa alasan utamanya.

“Ayah Ibuku sudah menyekolahkanku dengan sangat susah payah. Walau mereka tak pernah berkata langsung, aku tau mereka ingin aku bekerja, punya penghasilan sehingga bisa membantu mereka saat tua, atau membantu adik yang masih sekolah. Tapi aku juga gak mau kalau bekerja dari pagi sampai sore dan meninggalkan anak-anak. Ya sudah, kutekuni saja soal kue-kue ini, hitung-hitung sekalian belajar memasak untuk keluarga” demikian Melati menceritakan alasannya berjualan kue. 

“Memang hasilnya lumayan?” tanya saya lugu.

“Ah Rin, kamu tau lah berapa keuntungan menjual kue-kue ini?” jawabnya sambil tersenyum.

“Kalau pas aku coba menu baru, kadang anak-anakku makan lebih banyak dari biasanya. Kalau sudah begitu, balik modal saja sudah bersyukur” lagi-lagi ia tersenyum. 

"Siapa tau dari yang kecil ini, nanti bisa menjadi usaha yang besar Rin" lanjutnya. Bahagia dan ikhlas terpancar jelas di wajahnya.

Teman lain, sebut saja Mawar, punya cara lain agar bisa menyisihkan sejumlah uang untuk ayah ibu atau adiknya yang masih sekolah. Ia menurunkan seleranya soal gadget dan baju branded. Ketika gadget-gadget baru berseliweran dengan harga promosi yang sangat menggiurkan, ia bergeming. Pun ketika teman-temannya menertawakan karena hanya ia yang belum ber-BB, Mawar tak mau ambil pusing. Soal bajupun demikian. Sampai-sampai ada kerabat yang menegurnya soal bajunya yang terbilang sederhana.

Mbok ya kalau beli baju itu yang agak bagusan. Malu kan, masak suaminya orang kantoran, baju istrinya kayak istrinya pegawai rendahan” duh segitunya ya :) Mawar hanya menanggapi dengan senyuman.

“Terserahlah orang mau bilang apa, asal suami gak masalah. Lagian, mana tega aku pakai gadget mewah dan baju mahal, kalau aku tau ayah ibuku sedang butuh uang?”

Sementara itu Kenanga, menggunakan jatahnya memanjakan diri di salon untuk  memberi ayah ibunya. Kesempatan yang didapat tiap satu atau dua bulan sekali ini seringkali ia lewatkan. Alasannya hampir sama dengan Mawar, sebisa mungkin ingin memberi orang tua.

Suatu hari Kenanga bercerita, ia sudah berdiri di depan pintu sebuah salon ternama di kotanya. Namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba ia teringat, adiknya akan segera masuk perguruan tinggi, sedang satu-satunya pendapatan yang diandalkan orang tuanya hanya dari pensiunan yang jumlahnya tak seberapa.

“Aku segera balik badan dan pergi” katanya. 

“Kenapa gak minta jatah langsung pada suamimu untuk rutin memberi ayah ibumu?” tanya saya.

“Aku ingin memberi dengan uang yang memang hakku Rin, sebisa mungkin aku tidak merepotkan suami” jawabnya.

Cerita Krisan tak kalah mengharukan. Ia terpaksa menjual cincin pernikahannya saat ayah ibunya mendapat musibah.

“Hanya ini yang aku punya ketika itu, sementara ayah ibu membutuhkan uang segera” katanya. Untungnya, sejak awal menikah suaminya tidak terlalu menyakralkan cincin pernikahan mereka sehingga ketika teman saya itu meminta ijin untuk menjualnya lalu memberikan uangnya pada ayah ibunya, suaminya tidak keberatan.

“Aku gemetar ketika menyerahkan cincin itu ke pembeli, ada rasa sayang untuk menjualnya. Tapi aku lebih menyayangkan dan tidak sampai hati bila ayah ibuku harus mengetuk pintu rumah tetangga untuk meminjam uang. Iya kalau dapat? Kalau tidak, ayah ibuku harus menanggung malu” teman saya yang satu ini memang cukup sensitif perasaannya.

“Kau tidak menjualnya, kau sedang menitipkannya pada Allah. Semoga mendapat ganti yang lebih baik dan segera” saya hanya bisa menghiburnya dengan kalimat ini.

* * *

# Untuk setiap anak perempuan yang mencintai ayah dan ibunya...... :)

1 komentar:

  1. Tulisan ini benar benar membuatku meneteskan air mata...T.T
    Memang setelah menikah,,wanita adalah hak suami...tapi bagaimanapun juga tak mudah orang tua menjadikan kita sebagai wanita baik yang siap dimiliki lelaki baik...
    Allah adalah maha penjaga dan pelindung ...semoga mereka sll dalam penjagaanNya..Aamiin...

    BalasHapus

 
;