Rabu, 06 Maret 2013

Status Facebook Bisa Jadi Indikator Kejiwaan

Sumber Foto : initekno.com
 
Perkembangan Facebook yang begitu pesat membuatnya tidak hanya menjadi sarana komunikasi dan menjalin relasi saja. Beberapa teman telah menggunakannya sebagai media riset ilmiah dengan akurasi yang tidak jauh beda dengan riset langsung di lapangan.

Kali ini, tulisan saya mungkin lebih mengarah ke kajian Psikologi. Bagaimana melalui status-status FB, kita bisa "mendiagnosa" kondisi kejiwaan yang bersangkutan. Apakah kondisi psikologis dan kejiwaannya sedang "sehat", 'meriang' ataukah sedang "sakit"?


Jangan apriori dulu dengan kata "sakit" di sini lalu menyamakannya dengan sakit jiwa alias gila. Flu itu masuk kategori sakit, kankerpun sudah pasti masuk kategori sakit. Artinya, sakit di sini memiliki strata yang berbeda, dari sakit ringan (hanya butuh perhatian, sarana pelampiasan, butuh teman untuk berbagi dsb), hingga sakit yang benar-benar sakit. Sekali lagi, di sini tak berarti GILA. Hanya, seperti anak yang sedang terkena diare hingga dehidrasi, dia memerlukan perawatan intensif di rumah sakit lebih dari sekedar memberinya oralit.


Mungkinkah mendiagnosa kondisi kejiwaan seseorang melalui status-statusnya?

Menurut pengalaman saya, sangat mungkin. Salah satu sebabnya, Facebook telah membuat banyak orang merasa nyaman untuk menuliskan segala isi hati dan kepalanya di FB. Kadang kita tidak sadar dan tidak bisa membedakan antara Diary (yang sifatnya privat) dengan FB yang hakikatnya adalah milik publik. Semua bisa kita tumpahkan di sana seolah jagad maya hanya milik kita. Kita mungkin tidak sadar status kita telah menyampahi beranda orang lain, membuatnya sedih dsb. Kita mungkin tidak sadar, orang lain telah membangun persepsi tentang sosok kita berdasarkan status yang kita tulis. Sebatas persepsi dalam imaji karena sebagian besar di antara kita belum pernah bertemu secara nyata meski telah menjalin pertemanan yang intens beberapa lama.


Bagaimana status bisa menggambarkan kondisi kejiwaan seseorang?

Menurut pengalaman saya, jika saya berinteraksi begitu intens dengan FB tanpa tujuan yang tidak jelas : buat status gak jelas, komen sana-sini gak jelas, "bertamu" dari satu dinding ke dinding lain tanpa tujuan yang jelas, biasanya kondisi jiwa saya sedang tidak stabil alias badmood. Saya merasa terasing dan tak berkawan di dunia nyata, dan merasa butuh perhatian dan pelampiasan, salah satunya dengan mengungkapkannya di FB sebagai status. Tidak selalu begitu memang, tapi sejumlah orang telah membuktikannya. Semakin labil kondisi kejiwaannya, biasanya semakin intens ia menggunakan FB untuk mencari perhatian or sebagai pelampiasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;