Kamis, 07 Maret 2013

Musim Semi Di Rumah Kami


Sumber Foto : VOA Indonesia


Hari-hari terakhir di pertengahan bulan Januari kujalani dengan lemah tak bertenaga. Lelah yang terus bertubi tanpa jeda istirahat yang berarti membuat jam terbangku semakin pendek saja.

Sasha mematikan televisi setelah film kartun favoritnya selesai, melipat tikar di depan televisi, mematikan kipas angin lalu berbaring di sebelah kananku. Jam masih menunjukkan pukul tujuh malam tapi kami semua sudah bersiap tidur.

Kurasa, dengan mata terpejam pura-pura tidur, desah nafas Sasha begitu dekat. Dia tengah menatapku lekat-lekat rupanya. Kebiasaannya sejak dulu. Entah kenapa dia seperti begitu amazing setiap kali menatap wajahku. Kudengar, masih dengan mata terpejam, sepertinya dia sedang tersenyum kecil. Tak lama kemudian dia mencium keningku, lama. Seolah sambil berkata : ”I love you Mom, so much..” Aku tetap memejamkan mata, pura-pura sudah tidur.



.................

Tak terasa, enam tahun lebih sudah kulalui hari-hariku bersama keluarga kecilku. Tertinggal dari rotasi perubahan di dunia luar yang begitu dinamis yang membuatku merasa seperti manusia purba yang hidup di era modern seperti sekarang. Sering pula aku merasa terpenjara di sini, di rumahku, di mana anak-anakku seolah menjadi sipirnya. Jangan tanya betapa bosannya aku. Rasanya hampir gila aku dibuatnya. Menjalani rutinitas yang sama dan sangat membosankan selama 24 jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu, nyaris tanpa ada libur apalagi cuti, sepanjang 365 hari selama enam tahun lebih.

Berbagai cara kucoba untuk melarikan diri. Dari pilihan yang kompromis hingga pemberontakan yang agak anakhis. Tapi entahlah, semakin kucoba lari semakin aku tersesat jauh ke dalamnya. Semua menyimpang dari rencana dan apa yang kumau. Hingga aku terdampar di sini, di waktu ini, dengan mendapati sebuah musim semi yang indah di rumah kami.......

Sore itu aku memperhatikan Sasha dengan sangat seksama sambil menonton berita sore di televisi. Sejak beberapa bulan terakhir, kulihat ada yang berbeda darinya, dan itu sangat luar biasa. Setidaknya menurutku sebagai ibunya.

Aku menunggu cukup lama untuk bisa ”membaca” misteri Bidadari kecilku yang sering kuanggap monster dan trouble maker itu. Dan sore itu kutemukan jawabannya.

Sejak lama aku merasa Sasha adalah Guru Cintaku. Ia, di usianya yang sangat belia, telah mengajariku bagaimana mencintai dengan tulus dan penuh maaf atas cinta yang tak selalu berbalas. Semangatnya untuk berbagi juga sangat luar biasa.

”Ma, aku minta Bagugannya tiga” katanya saat kami ajak ke sebuah toko mainan.

”Banyak sekali, satu kan cukup” kataku.

”Satu lagi buat Mas Fatih, satunya lagi buat Husna” jawabnya sambil menyebut dua sepupunya. Hampir setiap kali saya dan suami membelikannya mainan atau makanan, dia meminta lebih dari satu.

Ketika saudara-saudara kami yang lain berkunjung ke rumah, mengacak-acak mainannya dan terkadang membawanya pulang sebagian, Sasha juga sering tak keberatan meski terkadang di antaranya adalah mainan kesukaannya.

Dia juga penuh cinta, yang membuatku sangat terharu. Seperti yang terjadi pada hari ulang tahunnya yang kelima, 31 Juli tahun lalu.

”Ada yang ulang tahun lho hari ini.....” kataku begitu ia bangun pagi itu, hampir mendekati detik-detik di mana aku berjuang untuk melahirkannya, lima tahun yang lalu.

”Horee...” katanya. Kupikir ia tau jika yang kumaksud adalah hari ulang tahunnya.

”Ma, nanti pulang sekolah kita beli kado, terus malamnya ke rumah Uti. Jalannya jinjit, jangan ribut. Terus kita dekati Mas Fatih di tempat tidur, lalu kita teriak ’selamat ulang tahun’” katanya dengan berbinar.

”Lho, memang yang ulang tahun siapa?”

”Mas Fatih” katanya polos. Bukan Sayang, kataku dalam hati. Dia sering memikirkan hal yang istimewa untuk orang lain pun ketika hal istimewa itu seharusnya adalah miliknya.

Sasha juga sebuah keajaiban, dia antitesa dari banyak hal yang kurang dariku. Dia menyikapi, menerima dan memaafkan kekurangan dirinya tanpa perasaan rendah diri yang berlebihan dan sikap menyesali.

Ketika itu Sasha dan sepupunya yang sebaya, Fatih, sama-sama memegang sebuah buku cerita. Mereka mebuat ”deal” akan membaca bersama-sama. Fatih yang memang sudah bisa membaca, membaca buku ceritanya dengan lancar. Sedang Sasha yang ketika itu baru mengenal beberapa huruf hanya diam saja. Mungkin karena suasana membaca menjadi kurang menarik, Fatih berkata keras : ”Ayo baca!”.

Sasha diam saja. Namun ketika sepupunya semakin sering dan semakin keras menyuruhnya membaca, Sasha akhirnya menangis sambil berteriak : ”Aku gak bisa baca!”. Lalu ia berlari ke dalam pelukanku.

”Aku gak bisa baca tapi Mas Fatih memaksaku....” katanya dengan isak. Masih di pelukanku. Aku terenyuh, oleh penegasan sekaligus penerimaan dan sikap memaafkannya yang tulus akan ketidakmampuannya.

Sejak itu aku lebih intens mengajarinya membaca namun hasilnya tidak terlalu optimal. Aku mencoba beberapa metode pengajaran tapi sepertinya ia ingin belajar dengan caranya sendiri. Aku hampir putus asa dan menyalahkan diri. Berbulan kemudian, meski belum benar-benar bisa membaca, Sasha telah ”melahap” puluhan komik yang kami punya. Dia ”membaca” dengan caranya sendiri, dari halaman pertama hingga halaman terakhir dari setiap komik. Dia terus ”membaca” dengan senang hati yang kemudian diterjemahkannya kembali dalam berbagai gambar yang sangat imajinatif dan kreatif seperti yang kulihat sore itu.

Aku memperhatikan anak-anak bermain sambil menonton berita sore di televisi. Sasha asyik menggambar di papan tulis kecilnya. Tak sampai satu menit, kulihat dia menyelesaikan gambar dua orang dengan mulut menyerupai paruh burung.

”Kenapa mulutnya panjang Mbak?” tanyaku penasaran.

”Orangnya sedang teriak Ma, seperti ini...Aaaa” ia menirukan mulut orang dalam gambarnya.

”Kenapa teriak?”

”Karena mereka bahagia, karena bertemu”

”Oh.....”

”Kalo yang ini lagi marah” katanya sambil menggambar satu karakter lagi dengan cepat. Mungkin tak sampai 30 detik dia telah menggambar satu orang lagi dengan ekspresi sedang marah. Gambarnya begitu hidup meski tak terlalu bagus jika dibandingkan dengan gambar profesional.

”Tapi dia gak sungguh-sungguh marahnya..... Lihat kakinya!” tambah Sasha sambil mempraktikkan kaki orang yang digambarnya yang menyerupai gerakan kaki penari balet. Belum hilang ketakjubanku, dia telah menggambar salah satu tokoh kartun favorit. Juga dengan sangat cepat.

”Ini Naruto” katanya. Lumayan mirip, gumamku dalam hati.

”Mbak Sasha bisa menggambar Bu Guru yang sedang mengajar di kelas?” tanyaku mengujinya.

”Bisa” jawabnya dengan cepat dan yakin. Lagi-lagi dalam hitungan puluhan detik, Bu Guru dengan latar belakang papan tulis berikut beberapa murid yang sedang belajar sudah digambarnya. Subhanallah Sayang, inikah satu kepingan puzzle yang Allah tunjukkan untuk melengkapi misteri gambar kehidupanku?

Aku terus mengamati Sasha yang sudah menghapus gambar-gambarnya dan mulai menulis huruf.

”Aku mau buat surat cinta buat Papa...” katanya. Ya, inilah hobinya yang lain, menulis surat yang disebutnya dengan ”surat cinta”, melipatnya dengan rapi dan biasanya dia buat dalam jumlah banyak, untuk setiap anggota keluarga. Isinya sederhana, dengan tulisan yang kadang susah dibaca. Misalnya : Terimakasih Mama, Terimakasih Papa, Aku Sayang Kalian.....

Sasha masih asyik menulis huruf di papan tulisnya. Sedang Naura, bidadari kecilku yang baru genap satu tahun, rupanya sedang asyik membaca komik. Belum banyak yang bisa ”kubaca” dari Naura selain kelucuannya yang teramat menggemaskan. Dia sangat ekspresif.

Aku tertegun sambil terus mengamati dua anakku yang sangat luar biasa. Realita tak terbantahkan untuk kusyukuri melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan keunikan masing-masing. Anugerah yang teramat indah. Terlintas sebuah pemikiran dan rasa syukur di hati : Terimakasih Allah, telah mengamanahkan mereka padaku. Anak-anak yang sehat dan lucu, penyejuk mata dan hatiku, yang semoga kelak akan menjadi perisaiku dari api neraka, yang akan mengantarku ke syurga dengan kesalihan mereka. Aamiin.

.............

Kepingan ”puzzle” yang kudapat semakin hari semakin banyak. Lebih dari cukup seharusnya, untuk menemukan satu jawaban besar agar tak lagi mengeluh. Bukan tak ada alasan mengapa Allah ”memenjarakanku” di istana kecilku hingga sekarang? Mengapa Ia selalu menunda keinginanku untuk bebas lepas meraih bintang impianku? Mengapa lintasan yang kulalui begitu panjang dan sepi?

Dan jawaban besar yang kudapat adalah : inilah yang terbaik untukku, lebih baik dari yang kumau.

Musim dingin yang mencekam yang seolah akan membekukan pembuluh darah, mulai beranjak pergi. Salju-salju mulai berjatuhan dari atap rumah. Matahari mulai hangat dan semakin hangat menyinari. Musim semi yang indah telah menanti, di rumah kami......

Jember, Januari 2010

2 komentar:

 
;