Selasa, 19 Maret 2013

Mengenal Kota Seribu Julukan

Setelah beberapa tahun tinggal di Jember, saya baru menyadari bahwa kota ini ternyata memiliki banyak sekali julukan. Gak sampai seribu sih, tapi karena lumayan banyak julukannya, saya berinisiatif menyebutnya sebagai “Kota Seribu Julukan”.

Suasana alun-alun kota Jember di malam hari, foto by Heru Putranto

Julukan pertama yang menjadi favorit saya, sekaligus julukan yang membuat saya jatuh cinta pada kota ini adalah julukannya sebagai Kota Santri. Pasti pernah mendengar lagu berjudul ini kan? :) Julukan ini yang membuat saya ingin sekali mengenal lebih dekat kota Jember terutama kehidupan sosial masyarakatnya.

Julukan sebagai Kota Santri melekat pada kota Jember karena kota ini memiliki banyak sekali pondok pesantren, terutama di daerah pinggiran dan pedesaan. Kebetulan, tempat tinggal keluarga besar dari ayah dan ibu merupakan salah satu basis utama pondok pesantren di Jember sehingga mudah bagi saya untuk mengetahui bagaimana sekilas kehidupan di pesantren. Apalagi, mayoritas generasi muda dalam keluarga besar saya juga mengenyam pendidikan di lembaga tersebut dalam kurun waktu yang cukup lama. Saya sering bertanya langsung pada mereka tentang kehidupan sehari-hari di sana. Sayang, saya tidak punya akses masuk ke dalam pesantren karena ketika itu saya masih suka pakai celana jeans kemana-mana. Sangat bertolak belakang dengan penampilan para santri yang pakai baju kurung dan kerudung.

Julukan lain dari kota Jember adalah kota Seribu Gumuk (bukit). Julukan yang ini membuat saya terbengong-bengong karena ironis sekali dengan realita yang ada. Satu per satu gumuk hilang berganti dengan areal perumahan. Bahkan gunung yang sangat besarpun bisa rata dengan tanah. Konon, julukan seribu gumuk itu diberikan karena sebelumnya jumlah gumuk di kota ini memang ribuan jumlahnya sebelum beralih fungsi menjadi perumahan. Sebagai gantinya, kota ini kian hari kian dijejali oleh toko-toko modern yang jumlahnya sudah mencapai ratusan. Bisa jadi, kota ini nanti akan berganti julukan menjadi kota Seribu Toko Modern. Menyedihkan….


Penambangan di gumuk terus berlangsung, foto dari sini

Julukan lainnya adalah sebagai Kota Karnaval. Julukan ini muncul seiring dengan semakin populernya Jember Fashion Carnival atau JFC. Karnaval seolah telah menjadi ikon pariwisata kota Jember.

Jember juga dikenal sebagai kota Tembakau karena kota ini merupakan salah satu penghasil tembakau terbesar di Indonesia sejak masa kolonial Belanda. Tembakau Jember diekspor ke sejumlah pasar internasional. Cerutu Jember konon merupakan yang terbaik kedua di dunai setelah Kuba. Tembakau juga menjadi motif utama batik Jember, sehingga mudah dikenali dan dibedakan dengan batik dari daerah lain. Terkait dengan oleh-olehnya, Jember dikenal juga dengan nama Kota Suwar-suwir. Suwar-suwir merupakan kue tradisional yang mirip dengan dodol, terbuat dari tape singkong.

Selain julukan-julukan di atas, terdapat sejumlah hal lain yang sering dikaitkan dengan Jember meski tidak sampai membuatnya memiliki julukan baru. Di antaranya adalah masalah pekerja anak dan pekerja migrant. Ya, Jember merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki jumlah pekerja anak cukup tinggi sekaligus sebagai kantong TKI/TKW yang utama di Pulau Jawa. Jika ada penelitian tentang dua masalah ini, Jember biasanya menjadi salah satu tempat yang menjadi pusat penelitian.

8 komentar:

  1. Balasan
    1. InsyaAllah Mbak Ety, mohon doanya ya....:)

      Hapus
  2. kota seribu gumuk ini yang aku baru tahu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya hampir tinggal kenangan Mbak, gumuk2 besar nyaris tinggal puing2 :(

      Hapus
  3. Wow.. mbak Ririn tinggal di Jembar mana nih?

    salam kenal ya mbak, saya juga orang Jember Balung hehe

    Yups.. makin hari makin banyak gumuk-gumuk di Jember yang digali. semoga saja kota seribu gumuk itu tak hanya menjadi sebuah cerita saja nanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya Jember kota Mas, salam kenal kembali :) Ya, miris sekali rasanya melihat kondisi gumuk di Jember akhir-akhir ini, membayangkan nantinya hanya akan menjadi kenangan. Btw, terimakasih sudah mampir :)

      Hapus
  4. mungkin ada satu lagi julukan buwat Djember kak, yaitu Kota Seribu Lilin. mengapa? lihat saja PJU dkota yang sekarang berumur 85 tahun,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih informasinya, miris ya :(

      Hapus

 
;