Senin, 18 Maret 2013

Jangan Anti Berobat ke Puskesmas!

Sebagai warga negara yang baik, saya mencoba mengikuti anjuran pemerintah untuk menjadikan Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas sebagai rujukan pertama untuk berobat jika sakit. Secara pribadi, saya juga memiliki keinginan menjadikan institusi kesehatan ini benar-benar sebagai pilar kesehatan utama masyarakat. Dan saya memulainya dari diri sendiri.

Pelayanan di Puskemas, lumayan kan? :) foto : dari sini

Karena jarang sakit sehingga jarang berurusan dengan tenaga medis termasuk Puskesmas, saya baru lebih mengenal Puskesmas saat punya anak. Jadi, ketika si kecil sakit dan membutuhkan pengobatan lebih intens, Puskesmas menjadi pilihan pertama saya meski sebenarnya kantor tempat suami bekerja memberikan fasilitas untuk berobat langsung ke dokter spesialis anak. Sama seperti harapan masyarakat lain pada umumnya, saya berharap petugas medis yang ada di sana akan melayani kami dengan ramah dan care pada keluhan dan sakit yang kami rasakan.

Puskesmas pilihan saya ketika itu merupakan salah satu Puskesmas paling ramai di kota tempat saya tinggal. Saya pikir, kalau banyak pasien yang datang bisa jadi indikasi bahwa pelayanannya baik. Saat membawa si kecil ke sana, kami dimasukkan ke poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Sejauh yang saya tau, poli ini biasanya ditangani oleh bidan dan perawat. Dari segi pelayanan, cukup standar-lah saya rasa. Cukup-lah untuk ukuran Puskesmas di mana hampir semua pelayanannya free alias gratis.

Rasa kurang simpatik mulai muncul saat saya menyerahkan resep ke apotik di mana saya dapati petugas yang kala itu berjaga, seorang Bapak-bapak, terus merokok sambil melayani resep obat. Contoh yang sangat tidak baik, gumam saya dalam hati menyayangkan si petugas medis yang justru melakukan hal yang bisa merusak kesehatannya juga orang lain di sekitarnya. Tidakkah racun dalam asap rokok bisa mencemari obat-obatan yang umumnya terbuka dan terkadang dipegang langsung oleh tangannya? Saya hanya memrotes dalam hati ketika itu. Ingin rasanya menegur langsung, tapi raut wajah si Bapak mengisyaratkan sepertinya ia tidak suka diprotes.

Beberapa bulan kemudian saat si kecil kembali sakit, saya datang lagi ke Puskesmas tadi. Kekecewaan terhadap petugas di bagian obat kembali terulang. Tidak hanya karena ia masih merokok seperti dulu tapi juga karena memberi saya obat-obatan yang masih utuh. Padahal seharusnya ia meraciknya dan membaginya dalam dosis tertentu.

"Kenapa obatnya masih utuh Pak? Tadi kata bidannya dalam bentuk serbuk" kata saya.

"Ya dihaluskan sendiri Bu" jawab si bapak dengan cuek.

"Biasanya kan diracikkan Pak?" tanya saya lagi.

"Kalau tidak mau meracik, ya langsung kasihkan saja pada anaknya" jawabnya lagi masih dengan cuek.
What???

Minum obat serbuk saja susah apalagi menyuruh anak kecil minum obat utuh? Dengan kesal saya ambil obat dan sejak itu saya tidak pernah membawa si kecil ke Puskesmas lagi. Sampai hampir masuk TK, si kecil lebih sering pergi ke dokter spesialis anak di tempat praktik swasta. Tapi saya tidak kapok juga pergi ke Puskesmas. Hanya saja, saya pergi ke Puskesmas lain yang juga cukup besar dan ramai. Bukan untuk si kecil, tapi untuk saya pribadi.

Sama dengan Puskesmas sebelumnya, pelayanannya sangat standar sekali, malah cenderung kurang ramah. Ah, mungkin karena gratis ya? Jika pada Puskesmas sebelumnya saya kurang simpatik dengan petugas bagian obat, kali ini dengan petugas medisnya langsung. Di Puskesmas yang ini bagian umum dilayani oleh perawat, sedang si dokter sepertinya sibuk dengan masalah administrasi. Yang membuat saya merasa jengah salah satunya adalah karena perawatnya laki-laki.

"Saya mau diperiksa sama perempuan saja" kata saya begitu perawat laki-laki itu menyuruh saya berbaring untuk diperiksa.

"Tapi harus menunggu Bu, dokternya masih ada urusan" jawabnya. Saya tidak mempermasalahkan soal harus menunggu. Sekitar lima menit kemudian, dokter perempuan akhirnya memeriksa saya. Untuk pelayanan yang free, tidak cukup mengecewakan pelayanannya. 

Lain kali, ketika sakit lagi saya kembali ke Puskesmas tadi, meski kali ini agak setengah hati karena khawatir ditangani oleh perawat laki-laki. Bu Dokter ternyata tidak ada. Yang ada hanya beberapa Mbak-mbak yang dari segi performa saja sudah tidak meyakinkan. Sayapun menunggu cukup lama dari biasanya. Begitu berhadapan dengan mereka, salah satu Mbak menanyai keluhan saya dengan agak malas. Sesekali mengernyitkan kening seperti bingung. Tanpa menyentuh saya sama sekali sebagaimana jika pasien diperiksa, ia langsung meresepkan sejumlah obat sambil sesekali bertanya dan berdiskusi dengan temannya untuk memastikan obat yang ia resepkan tidak salah.

"Please deh, saya sedang sakit Mbak! Lebih serius dikit donk" gerutu saya dalam hati. Alhasil, resep yang meragukan itu tidak saya tebus. Sebersit kata "Good Bye" terselip di benak saya untuk Puskesmas. Sejak itu, saya memilih untuk berobat ke dokter yang pelayanannya baik dan menghargai pasien meski saya harus membayar dengan nominal yang tidak sedikit.

Apa yang saya alami mungkin merupakan kejadian yang sifatnya kasuistis. Meski agak kapok, saya masih menyimpan harap pelayanan di Puskesmas akan semakin baik sehingga ia benar-benar bisa menjadi pilar utama kesehatan masyarakat. Banyak masyarakat yang masih mengandalkan lembaga ini sebagai harapan utama untuk berobat, terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah.
"Jangan anti dan kapok berobat ke Puskemas ya" demikian saya mencoba menyemangati diri sendiri dan menyarankan pada sejumlah orang sebelum memilih berobat ke rumah sakit.

Semoga harapan ini tidak hanya sebatas angan....:)


3 komentar:

  1. lebih edan lagi dokter di puskesmas di tempat saya. dokter gigi standby doank sambil dengerin musik dangdut versi discomix, sambil mainin bb. yg periksa pasien cuman asistennya. bayangin aja... edan, negara harus bayar orang kayak gitu!!

    BalasHapus
  2. semua sdh kacau di negeri ini mending selamat diri masing2 saja

    BalasHapus
  3. dokter itu seharusnya menolong orang, bukan merampok orang sakit.... ;)

    BalasHapus

 
;