Minggu, 31 Maret 2013

Dokter-dokter Berhati Malaikat


Sumber Foto : matoa.org

Saat saya kecil, sosok dokter yang sering saya temui ketika itu benar-benar menjelma bak malaikat penolong. Mereka kerap datang ke rumah pasien yang sedang sakit. Bersikap sangat ramah dan penuh empati saat memeriksa. Lalu menjelaskan dengan penuh kasih mengenai obat yang perlu diminum dan sejumlah perawatan lain yang harus dilakukan keluarga pada si sakit. Yang lebih mengharukan, kadang mereka menolak untuk dibayar. Kalaupun pasien harus tetap keluar uang, jumlahnya seringkali tidak terlalu banyak. Sosok yang sering diidentikkan dengan baju berwarna putih itu benar-benar menjelma seperti malaikat.

Saat beranjak besar dan sering menghabiskan waktu di kota, dokter-dokter berhati malaikat itu kian jarang saya temui. Justru sebaliknya. Banyak dokter yang justru menjadi pencabut nyawa pasien. Kalaupun tidak sampai separah ini, dokter seringkali turut andil dalam membuat penyakit pasien bertambah parah.

Di kota, banyak pasien yang harus tergopoh-gopoh dengan sangat payah mendatangi dokternya. Sementara si dokter acapkali duduk manis sambil menonton TV saat menuliskan resep setelah sebelumnya memeriksa pasien dengan hanya membisu beberapa puluh detik. Responnya seringkali kurang menyenangkan jika pasien atau keluarganya proaktif bertanya. Resep obat yang diberikan acapkali membuat pasien harus merogoh kantong dalam-dalam. Bahkan harus berhutang karena banyak dokter sekarang senang sekali meresepkan obat paten. Profesi yang bak malaikat itu seolah kian memudar cahayanya. 

Namun siang itu, saya seperti kembali menemukan sang malaikat melalui sebuah obrolan singkat via telpon dengan staf sebuah rumah sakit di kota saya.

 “Mbak, berapa ya tariff periksa dokternya?” tanya saya pada bagian informasi di rumah sakit tersebut. Sebenarnya bukan saya yang mau periksa. Saya hanya sedang mencari informasi untuk kerabat yang ingin memeriksakan diri ke salah satu spesialis. 

“Saya gak tau Mbak, nanti bayarnya langsung sama dokternya” jawab si Mbak. Saya sudah mau mengucapkan terimakasih dan mengakhiri pembicaraan ketika si Mbak ternyata masih melanjutkan penjelasannya dengan nada bicara sedang bicara dengan temannya.

“Rata-rata sih seratus (ribu) Mbak, tapi bisa juga didiskon, bayar separuhnya atau berapa” katanya.

Diskon??? Saya sempat melongo. Rumah sakit yang saya telpon itu merupakan salah satu rumah sakit yang terkenal dengan tarifnya yang mahal karena konon pelayanannya sangat prima. Sebagian besar dokter spesialis yang praktik di sana adalah dokter-dokter spesialis terbaik di kota saya.

“Gimana caranya supaya dapat diskon Mbak?” tanya saya kemudian dengan lugu sambil tersenyum sendiri. Barangkali saja informasi soal diskon ini dibutuhkan sejumlah orang yang memang benar-benar membutuhkan, pikir saya.

“Ya bilang aja duitnya gak cukup. Kalau gak punya uang ya bilang aja gak punya, kadang digratiskan sama dokternya” katanya kemudian. Saya kembali melongo. Gratis???

“Memang dokter siapa yang suka kasih gratisan gitu Mbak?” tanya saya lagi dengan konyol. Biarpun begitu saya sangat penasaran ingin tau siapakah dokter-dokter berhati malaikat itu. Si Mbak kemudian menyebut beberapa nama yang sudah cukup terkenal sebagai dokter-dokter favorit masyarakat di bidangnya masing-masing.

“Terimakasih informasinya Mbak” kata saya sembari mengakhiri telpon dengan perasaan terharu. Lalu wajah-wajah dokter yang beberapa di antaranya pernah saya temui itu melintas di kepala. Saya pernah berobat pada salah satunya dan merasakan langsung kebaikannya.

“Berapa Mbak?” tanya saya pada kasir sebuah apotik setelah si kasir menghitung harga obat yang diresepkan salah satu dokter spesialis favorit di kota saya. Karena biasanya dokter sekelas beliau umumnya meresepkan obat paten yang harganya ratusan ribu, maka sayapun menyiapkan sejumlah uang ratusan saat akan menebus obat. Namun harga yang disebutkan si kasir membuat saya melongo. Harga tiga obat cukup dibayar dengan selembar uang seratus ribu, itupun masih ada kembaliannya.

“Obatnya generik Bu, makanya tidak terlalu mahal” kata si kasir memberi penjelasan atas ekspresi terkejut saya yang spontan.

“Saya gak masalah koq Mbak, saya kan butuh obatnya bukan mereknya” jawab saya sambil tersenyum. Ada sebersit rasa bahagia. Saya saja yang dapat dikata masih bisa membeli obat tetap saja merasa bahagia, apalagi pasien yang memang benar-benar tidak punya uang untuk menebus obat. Kebahagiaan mereka tentu lebih tak terkira.

“Tuh dokter gak mau tambah kaya lagi kah, koq meresepkan obat generic?” gumam saya dalam hati sembari meninggalkan apotik. 

“Mungkin dia lebih mengejar bonus syurga daripada bonus Umroh dari perusahaan obat” jawab saya sendiri. Sayapun mengamini dalam hati. Semoga dokter-dokter berhati malaikat itu ada di barisan pertama mereka yang dirindukan syurga. Aamiiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;