Jumat, 08 Maret 2013

Anak Kecil Saja Tau Bahaya Rokok!

Sumber Foto : rilisberita.blogspot.com

Menikmati langit yang sesekali dihiasi kilatan-kilatan kecil ba’da Isya, saya dan anak-anak bermain di halaman. Tiap petir kecil menghias langit seperti kembang api, Sasha mengingatkan untuk membaca doa ketika ada petir. Selanjutnya dia akan melanjutkan permainan Ciluk Ba-nya dengan Naura yang tidak mau turun dari gendongan. Keduanya tertawa riang. Sungguh keindahan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. A great moment.....

“Ma, aku mau menghafal doa pengusir setan” kata Sasha di sela permainannya. Yang dimaksudnya adalah Ayat Kursi. Malam yang gulita tanpa cahaya bulan dan bintang mungkin membuatnya sedikit takut sehingga ia ingin menghafal Doa Pengusir Setan untuk menenangkan hati. Sambil menghafal Ayat Kursi, permainan Ciluk Ba tetap berlanjut.

Kami terus bermain sambil menghafal ketika di ujung jalan saya melihat dua orang pengamen mulai mendatangi rumah demi rumah di blok kami. Ada yang membiarkan saja dua pengamen muda itu memperdengarkan lagu-lagu dengan suara yang tak terlalu merdu. Ada yang memberi isyarat bahwa si tuan rumah sedang tidak berkenan. Tapi ada pula yang langsung memberi uang recehan padahal lagu belum juga dinyanyikan.

Tak jauh dari saya dan anak-anak sedang bermain, dua pengamen yang mungkin masih duduk di bangku SMP itu berhenti. Salah satu dari mereka menyerahkan beberapa uang recehan yang mereka dapat kepada yang lain. Karena tak jauh dari tempat kami berdiri ada sebuah toko, cepat saya tangkap jika mereka akan membeli sesuatu dari uang yang baru saja mereka peroleh.

”Kenapa uangnya dibeli-belikan?” tanya Sasha heran. Aksi dua pengamen itu rupanya menarik perhatiannya juga. Ah, mungkin juga saya terlalu mendoktrinnya soal uang sehingga ia merasa heran. Punya uang baginya berarti harus menabung, bukan untuk jajan.

”Mereka lapar ya Ma, belum makan?” tanya Sasha lugu dengan suara yang tidak dikecilkan. Padahal salah satu dari pengamen itu sedang duduk berjongkok berjarak tidak sampai tiga meter dari kami. Saya merasa tidak enak sehingga hanya diam saja. Sasha mungkin mengira mereka belum makan sehingga uang yang mereka dapat dibelikan makanan. Padahal sedari tadi saya sudah menebak apa yang hendak mereka beli.

”Lho, mereka beli rokok Ma” akhirnya Sasha tau sendiri padahal pencahayaan dari toko tidak begitu terang. Jaraknyapun lumayan jauh dari tempat kami berdiri. Lagi-lagi saya merasa tidak enak karena suara Sasha lebih keras dari sebelumnya dan salah satu pengamen itu juga masih tetap duduk tak jauh dari kami. Tapi kali ini saya berani berkata ”Ya” dengan suara yang cukup keras.

”Rokok itu kan berbahaya Ma! Bisa bikin batuk, sesak nafas, sakit jantung, ....... nanti masuk rumah sakit lho” Sasha menyebutkan hampir semua penyakit yang bisa disebabkan oleh rokok seperti yang tercantum di bungkus rokok tetap dengan suara lantang tepat ketika dua pengamen itu beranjak pergi melewati tempat kami berdiri. Pastinya mereka mendengar. Tapi di ujung jalan, rokok itupun tetap mereka nyalakan.

Sayang sekali, gumam saya prihatin dalam hati. Uang recehan yang mereka dapat dengan mempertaruhkan rasa malu menyanyikan lagu-lagu yang kadang tidak bermutu, belum lagi kalau dihardik atau diusir oleh tuan rumah, akhirnya hanya mereka belikan beberapa puntung rokok yang jelas-jelas merugikan kesehatan. Tidak hanya bagi mereka, tapi juga orang lain di sekitarnya.

Hmmm, Sasha yang masih Taman Kanak-kanak saja sudah tau bahaya rokok bagi kesehatan. Apa lagi orang dewasa. Jangan kalah sama anak TK donk....
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;