Senin, 04 Februari 2013

Mengingatkan dengan Santun

Tiba-tiba saya teringat kejadian beberapa tahun lalu, sebuah kejadian yang mengingatkan saya bahwa menyampaikan nasihat dengan cara yang santun dan cerdas seringkali lebih mudah menggerakkan hati tanpa harus menyakiti, atau membuat orang yang diberi nasihat merasa dihakimi atau seolah digurui. Sebuah konsep yang sederhana tapi sangat sulit untuk diterapkan, terlebih jika target yang akan diberi masukan adalah orang yang lebih tua, apalagi mereka yang cenderung keras kepala dan resisten terhadap masukan dari orang lain.


Foto dari ruangfana



Adalah seorang ibu paruh baya yang memiliki dua orang putra beranjak remaja. Si ibu, yang pada dasarnya suka bersosialisasi dengan tetangga, tiba-tiba mengalami peningkatan frekuensi berbincang hampir setiap kali ia keluar rumah. Jika yang dibicarakan adalah hal baik, tentu tidak masalah. Tapi ini, yang dibicarakan seringkali justru yang kurang bermanfaat bahkan cenderung pada hal-hal yang buruk. Seperti membicarakan masalah atau keburukan orang lain yang jika yang bersangkutan tau, tentu ia tidak suka. Melihat perkembangan buruk si ibu, anak sulung langsung mengingatkan dengan tegas.

"Bu, tidak baik lho membicarakan orang lain, apalagi kalau yang dibicarakan adalah keburukannya" kata si anak to the point.

"Memang faktanya begitu" jawab si ibu.

"Meski begitu kita gak berhak membicarakannya Bu, Al Quran sudah melarang dengan tegas" kata si anak terus memberondong.

"Bukan Ibu yang mulai, Ibu hanya menimpali" kilah si ibu tak mau disalahkan.

"Maaf Bu, saya hanya mengingatkan, saya tidak mau Ibu melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah" kata si anak dengan nada sedih dan agak putus asa.

"Ini urusan Ibu, Ibu sudah tau mana yang baik dan tidak" jawab ibu dengan ekspresi tidak suka "digurui" oleh anaknya.

Keesokan harinya, si Ibu mulai sedikit membatasi acara gosip dan ghibahnya, tapi tak berlangsung lama. Si sulung kembali mengingatkan, namun respon ibu semakin tidak simpatik. Sampai suatu hari,

"Bu, aku dapat tugas hafalan surat nih dari Bu Guru" kata si bungsu.

"Ibu bantu ya, tolong benarkan jika ada yang salah" katanya kemudian sambil memberi buku catatannya. Dengan antusias dan merasa terhormat, sang ibu menerima catatan surat dari anaknya. Ibu membetulkan kacamata bacanya sebelum menyimak ayat tersebut satu demi satu. Surat Al Hujuraat Ayat 11 dan 12. Si anak yang sebenarnya sudah hafal, dengan sengaja melewatkan sejumlah bacaan agar ibunya mengoreksi hingga selesai.

"Oya Bu, sekalian artinya ya, tapi aku banyak lupanya. Tolong Ibu baca kuat-kuat dan aku akan menyimak" kata si anak kemudian setelah hafalan ayatnya selesai. Si Ibu kembali membetulkan kacamatanya, dan dengan suara cukup keras, membaca arti surat tersebut.

"49:11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.  Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim"

Si Ibu agak tercekat dan gemetar ketika membaca arti surat tersebut. Ia merasa tertohok oleh arti surat yang tengah dibacanya dengan lantang. Meski demikian ia tetap melanjutkan membaca arti surat berikutnya, seperti yang diminta anak bungsunya.

"49:12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.  Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang"

Si Ibu semakin tak bisa berkata-kata. Isi kedua surat tersebut dengan telak menegur kebiasaan buruknya akhir-akhir ini. Sementara si Bungsu tetap menunjukkan sikap seorang penghafal yang terbata-bata meski sebenarnya hafalan itu tidak terlalu sulit baginya.

"Terimakasih Bu, sudah membantuku menghafal surat ini. Doakan besok hafalanku lancar ya" kata si bungsu dengan suara tenang dan penuh terimakasih atas bantuan ibunya.

Si Ibu tak berkata apa-apa, sesaat kemudian beliau bergegas berwudhu dan menunaikan sholat. Dan sejak itu, frekuensi si Ibu membicarakan masalah dan keburukan orang lain menurun drastis.


# Hikmah : 
Nasihat yang diberikan sama, tapi hasilnya berbeda karena cara dan pendekatannya juga berbeda....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;