Selasa, 05 Februari 2013

Menerka Selera Juri dalam Lomba Menulis

Sumber Foto :  Kompasiana

Ada yang bilang, kemenangan dalam lomba menulis seringkali bergantung pada "selera" juri. Dugaan ini bisa jadi benar. Bahwa, ada kalanya "selera" juri cukup menentukan dalam menetapkan sebuah kemenangan. Masalahnya kemudian, bagaimana menerka selera dewan juri sementara komposisi juri nyaris tidak pernah sama dalam setiap lomba menulis?

Meski juri hampir pasti berbeda dalam setiap kompetisi, terdapat sejumlah kriteria umum yang seringkali dijadikan sebagai patokan oleh para juri untuk menilai tulisan, apakah layak terpilih sebagai pemenang. Berikut sejumlah kriteria umum tersebut berdasarkan pengalaman dan sedikit analisa saya terhadap beberapa tulisan yang berhasil menang dalam sejumlah lomba menulis.

Pertama, ide. Menurut saya inilah poin terpenting dalam tulisan yang membuatnya layak menjadi pemenang. Ide tidak harus selulu muluk dan bombastis. Beberapa teman di LIPI yang pernah menjadi juri dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) mengatakan, mereka justru seringkali terpana pada ide-ide sederhana namun dibalik kesederhanaannya ia menyimpan makna besar yang mungkin terlupakan atau belum terpikirkan oleh kebanyakan orang. Ide juga tidak harus benar-benar baru. Tentu tak ada salahnya jika kita ingin memunculkan pemikiran atau ide yang sangat inovatif. Hanya saja yang perlu diingat, ide tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atau didukung oleh argumen yang ilmiah. Jadi tidak asal berteori yang justru akan membuat tulisan ngawur dan bisa-bisa jadi boomerang jika itu dipresentasikan di depan audiens. Jadi, terus dan banyaklah berlatih agar bisa menangkap begitu banyak ide luar biasa yang bertebaran di sekitar kita.

Kedua, data. Data adalah bahan dasar utama yang harus ada untuk meramu sebuah tulisan yang bagus. Karenanya data harus aktual, relevan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Data yang bagus bisa berupa data statistic maupun data non-statitisk. Semakin banyak, semakin lengkap dan semakin ilmiah data yang kita gunakan maka akan semakin berbobot tulisan kita.

Ketiga, pembahasan. Ide bagus dan data yang akurat hanya akan menjadi mozaik berserakan yang tidak jelas apa maksud dan kontribusinya terhadap suatu masalah jika kita tidak membahasnya dengan analisa yang mendalam dan ilmiah. Sering saya mengumpamakan menulis sebuah tulisan ilmiah populer seperti memasak. Setiap kita sebenarnya memiliki “bahan dasar” yang sama yakni data yang berserak di sekitar kita baik berupa teks maupun konteks. Yang membuat “masakan” kita berbeda dengan orang lain adalah bagaimana kita memasaknya, bagaimana kita membahasnya. Bahan boleh sama tapi masakan sangat mungkin berbeda.

Keempat, penulisan atau penyampaian. Jika data saya analogikan sebagai “bahan”, maka penulisan atau penyampaian kurang lebih sama seperti penyajian. Kadang-kadang masakan yang sederhana akan terlihat begitu istimewa jika disajikan sedemikian rupa. Tulisan yang berbobot akan memusingkan pembaca atau bahkan bisa mendistorsikan makna yang terkandung di dalamnya jika tidak disampaikan secara sistematis melalui bahasa yang enak dan mudah dipahami. Kemampuan pada tingkat ini merupakan bentuk profesionalitas penulis dalam menulis. Level tertinggi yang hanya akan dicapai oleh penulis melalui latihan yang terus menerus. Practice makes perfect.

Kelima, bukan sekedar teori. Perkembangan penulisan karya tulis ilmiah populer kini semakin pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam tataran kualitas, bukan jamannya lagi hanya berteori atau berwacana meski dalam skup ilmu sosial. Bahkan pada kategori paling bawah sekalipun yakni kategori pelajar.

Suatu ide atau pemikiran yang dituangkan dalam sebuah tulisan tidak hanya bersifat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah tetapi juga memiliki nilai manfaat yang dapat direalisasikan dalam permasalahan yang tengah terjadi. Hal ini dikarenakan salah satu tujuan utama diadakannya lomba menulis adalah untuk mencari dan menampung ide-ide kreatif dan inovatif yang bisa dijadikan sebagai solusi alternatif bagi suatu masalah aktual yang tengah terjadi. 


So, selamat berkompetisi dan menerka selera juri :D

23 komentar:

  1. Data nonstatistik itu yang gimana ya???

    Seringkali penilaian lomba menulis memang dipengaruhi "selera" juri, karena menulis tidak seperti hitungan matematika yang penilaiannya mutlak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini istilah saya saja Mas Milo :) secara sederhana saya mengartikannya sebagai data yang tidak berupa angka-angka, bisa berupa pendapat atau teori ilmiah dalam bentuk uraian. Ada kalanya data semacam ini sangat kita perlukan untuk menguatkan argumen kita dalam tulisan

      Hapus
  2. Hehehe, bermmanfaat buat saya yang gagal terus, gagal terus menerka selera juri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, saya juga sering gagal :) Tapi dari kegagalan itu justru kita bisa banyak belajar :)

      Hapus
  3. Terima kasih
    Memang setiap juri hasilnya beda tetapi tetap menentukan yang terbaik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Rahma, "selera" di sini memang sifatnya general, saya percaya bahwa dalam kompetisi yang sebenarnya, penyelenggara pasti akan mengupayakan mencari juri yang bisa bersikap objektif dalam menerapkan sejumlah kriteria di atas. terimakasih sdh mampir :)

      Hapus
  4. hmmm... begitu ya? baik, saya akan berusaha memahami selera juri... hihihi... padahal jarang ikutan lomba. makasih mbak...nice sharing... i like it!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir Mbak Nunung, sukses untuk tesisnya ya :)

      Hapus
  5. wah... posting penting ini...

    thanks for sharing :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir Mbak, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  6. mba ririn aku jg pernah lomba di kompasiana. ceritanya biasaaa banget tapi menang.. setiap tulisan akan menemukan jodohnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup Mbak Hana, istilah "jodoh" sering saya gunakan untuk menembus media, tapi sepertinya boleh juga untuk lomba, tulisan kita "berjodoh" dengan selera jurinya :)

      Hapus
  7. kadang selera juri gak bisa di tebak...ada yang suak berpanjang-panjang dengan teori jadiny amirip penelitian ada yang teori singkat ... tergantung rejeki juga kali ya....heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk menjembatani kemungkinan juri suka dengan tulisan yang panjang atau pendek, bisa kita siasati dengan mengambil jalan tengahnya Mbak Rina, yakni dengan efisien menggunakan data dan teori. Pada akhirnya memang akan bermuara pada apakah itu rizki kita atau bukan, dalam hal ini ada "rahasia" lainnnya :)

      Hapus
  8. tulisannya sangat menarik dan bermanfaat........terima kasih. salam kenal........mampir juga ke blog saya ya........http://lisatjutali.blogspot.de/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali Mbak Lisa, InsyaAllah....

      Hapus
  9. thanks for sharing ya mbak
    valueable banget nih isinya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kembali Mbak Diah, salam kenal....

      Hapus
  10. Balasan
    1. Terimakasih atas kunjungannya Mbak Nia....:)

      Hapus
  11. terimaksih mbak infonya, sangat bermanfaat

    BalasHapus
  12. masukan yang berarti, suka banget dengan isi artikel ini. Kereeeen bgt mbak :)

    BalasHapus
  13. Salam kenal ;)
    Setiap kali ikut lomba benar2 kayak terjun bebas, hehe...
    Terima kasih atas tulisannya :)

    BalasHapus

 
;