Senin, 18 Februari 2013

Ironi Nasib Atlet


Sumber : VOA Indonesia


Sebagai bagian dari pekerja profesional, atlet seharusnya mendapatkan fasilitas dan gaji yang lebih baik dari pekerja informal. Tak mengherankan jika di banyak negara maju, para atlet bisa hidup sangat sejahtera sehingga profesi ini menjadi salah satu profesi favorit generasi muda di sana. Tapi tidak demikian dengan di Indonesia. 

Nasib mayoritas atlet di negeri kita cukup memprihatinkan. Banyak yang harus hidup dalam keprihatinan terutama di masa tuanya. Termasuk mereka yang dahulunya telah mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia. Masa muda yang dihabiskan dengan banyak latihan dan latihan, membuat banyak atlet mengabaikan pendidikan. Dampaknya, banyak atlet tak  cukup memiliki keterampilan dan wawasan untuk menghadapi realitas hidup setelah mereka ”pensiun”.

Mirip TKI

Kisah tragis yang menimpa pemain sepakbola asal Paraguay, Diego Mendieta, beberapa waktu lalu, tak hanya kian membuka mata kita tentang ironis dan memprihatinkannya nasib para atlet, termasuk para atlet asing seperti Mendieta. Namun juga seolah menunjukkan bahwa nasib para atlet acapkali memiliki banyak kesamaan dengan nasib saudara-saudara kita yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). 

Sebagaimana TKI pada umumnya, Mendieta memilih merumput di Indonesia tentu dengan harapan  nasib dan masa depannya akan cemerlang. Sayang, bukan hujan emas yang ia dapatkan. Berbulan-bulan Mendieta menunggu haknya dibayar dalam sakit dan kerinduan yang mendalam pada keluarga dan tanah airnya. Meski pada akhirnya pulang dan hak-haknya yang terdiri dari tunggakan gaji bulanan dan sisa uang muka kontrak dibayar lunas, tapi Mendieta pulang dalam peti jenazah. Ia menyerah pada virus Cytomegalovirus dan jamur Candidiasis yang menggerogoti tubuhnya pada Selasa, 4 Desember lalu. Bagaimana perasaan keluarga dan masyarakat Paraguay pada umumnya terhadap kasus Diego Mendieta mungkin sama sedih dan pilunya saat kita mendengar dan menyambut kedatangan jenazah TKI kita.

Tak jauh berbeda dengan lara TKI, pemain sepakbola di Indonesia banyak yang harus hidup dalam keprihatinan. Gaji yang tidak dibayar berbulan-bulan, juga tak ada jaminan sosial dan kesehatan yang layak. Jangankan untuk hidup sejahtera, banyak atlet yang bahkan kesulitan sekedar untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Terlebih ketika memasuki masa pensiun. 

Ironisnya, tak hanya pemain dalam negeri yang bernasib begini. Pemain asing seperti Mendieta juga mengalami nasib yang sama. Dan Mendieta bukan pemain asing pertama dan satu-satunya yang mengalami nasib tragis di Indonesia. Pada 13 Oktober lalu, Bruno Zandonadi, pemain asal Brasil juga meninggal di Indonesia karena infeksi otak, juga dalam kondisi ekonomi yang minim seperti Mendieta.

Batu Loncatan

Sama halnya dengan TKI, menjadi atlet seyogyanya menjadi batu loncatan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Karenanya, para atlet seharusnya tidak mengabaikan arti penting pendidikan dan memiliki keterampilan. Sebagian dari bonus saat mendapatkan prestasi seharusnya disisihkan untuk investasi dan persiapan masa tua. Demikian juga dengan TKI, gaji bulanan yang besar saat bekerja di negeri orang seharusnya jangan dihamburkan untuk berfoya-foya sehingga ketika kembali ke tanah air, tak ada yang tersisa. 

Peran pemerintah juga tak kalah penting dalam menjamin kesejahteraan hidup para atlet terutama setelah mereka pensiun. Salah satu kebijakan yang bisa diambil tanpa harus menimbulkan kecemburuan sosial masyarakat adalah akses permodalan bagi atlet untuk berwirausaha baik pada bidang yang masih relevan dengan olahraga atau bidang lain yang prospektif. Pemberian modal yang disertai dengan pelatihan dan pembimbingan untuk berwirausaha ini akan lebih menjaga kehormatan atlet untuk tidak menjadi seperti peminta-minta dan bergantung pada uluran tangan dan kebaikan pemerintah. Kebijakan semacam ini seharusnya juga berlaku bagi TKI. 

3 komentar:

  1. kalau pengen kaya, jangan jadi atlet. petuah orang tua yang masih sangat relevan dengan keadaan sekarang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak orang tua juga bilang "kalau mau kaya, jangan jadi penulis", kenyataannya tidak sedikit orang saat ini yang ingin menjadi penulis, bukan semata karena masalah materi, tapi memang ada sejumlah pekerjaan yang dipilih karena ada panggilan jiwa di dalamnya :)

      Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya Pak Renald.....

      Hapus

 
;