Senin, 07 Januari 2013

Tentang Ibu-isme Masa Kini

Sumber Foto : dari sini
 Di tengah hiruk pikuk sejumlah gerakan perempuan saat ini, ibu-isme adalah salah satu gerakan yang cukup populer yang bahkan semakin menjadi tren. Menilik dari sejarahnya, Ibu-isme dikenal sebagai konstruksi sosial Orde Baru terhadap kaum perempuan. Konstruksi social ini menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dengan menekankan fungsi reproduksi dan “kodrat perempuan” untuk melayani, mengabdi, dengan menjadi “istri yang patuh”. Dasar pemikiran ideologi ini adalah menempatkan kembali perempuan di posisi sebagai konco wingking.

  Mengacu pada khazanah Jawa, konco wingking dalam arti pembagian secara jenis kelamin berarti pasangan suami/bapak yang peranannya di dapur. Secara lebih rinci, tiga tugas utama konco wingking adalah manak, masak, macak (3 m), atau kasur, dapur, sumur (3 ur). Lebih lanjut,Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) menetapkan bahwa perempuan mempunyai lima fungsi, yakni sebagai penerus keturunan dan pembina generasi masa depan bangsa; sebagai ibu dan pendidik anak-anaknya; sebagai pengelola rumah tangga dan pekerja untuk menambah penghasilan keluarga; serta sebagai anggota masyarakat.Pemerintah kemudian menciptakan pelembagaan “istri” melalui berbagai kebijakan, di antaranya melalui Panca Dharma Wanita yang dipromosikan PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) sampai ke tingkat akar rumput.

Doktrin dan ideologi inilah yang kemudian memberi andil besar dalam mereduksi makna peringatan hari Ibu setiap tanggal 22 Desember. Hari Ibu semula kita peringati untuk mengenang gerakan kaum perempuan menjadi peringatan untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih serta memuji ke-ibu-an para ibu. Dalam konteks ini, gerakan peran perempuan diranah publik menjadi termarjinalkan sehingga peran perempuan kemudian identik dengan ranah domestik (rumah tangga). Doktrin yang berlangsung selama kurang lebih tiga dekade tersebut membawa sejumlah konsekuensi yang serius terhadap peran, kontribusi dan problematika yang melilit kehidupan kaum perempuan Indonesia. Seperti, rendahnya nilai IPG (Indeks Pembangunan Gender), tingginya tindak kekerasan terhadap perempuan, rendahnya kesejahteraan perempuan, dan dalam banyak aspek kehidupan di mana seharusnya perempuan berperan optimal, kehadiran dan kontribusi perempuan justru masih sangat minimal. Dampaknya kemudian sangat jelas. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia relatif stagnan bahkan mengalami penurunan peringkat dari posisi 109 pada tahun 2010 menjadi 124 pada tahun 2011. Indonesia juga terancam menjadi salah satu negara yang gagal menyukseskan program Millenium Development Goals (MDGs) di mana banyak programnya seharusnya melibatkan peran aktif perempuan.

Ibu-isme di Masa Sekarang : Penindasan atau Pembebasan?
Dalam beberapa waktu terakhir ada indikasi gerakan ibu-isme di Indonesia kembali menguat. Salah satunya ditandai dengan semakin meningkatnya tren di kalangan perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga dengan segenap peran keibuannya. Tren ini sebenarnya tidak saja berkembang di Indonesia. Sejak lama back to home juga telah menjadi tren di sejumlah negara maju. Jepang misalnya.
Banyak perempuan Jepang kembali ke rumah dan konsen mengurus keluarga. Mereka sadar bahwa kodrat mereka adalah di rumah dan yakin bahwa itu bisa memberi sumbangsih besar bagi kemajuan negara. Terbukti, Jepang kemudian menjelma menjadi salah satu negara maju dengan kualitas SDM terbaik di dunia. Di Eropa, tren yang sama juga semakin menguat. Dari sejumlah fakta ini, hampir tidak mungkin untuk mengatakan bahwa gerakan ibu-isme yang juga semakin menguat di Indonesia dinilai sebagai kemunduran bagi kaum perempuan.
Menjadi ibu dengan segala atribut dan tanggung jawab keibuannya adalah kodrat perempuan. Jika hal-hal yang kodrati ini dipolitisasi melalui sejumlah doktrin dan konstruksi yang sifatnya “memaksa” dan kemudian berdampak pada pengabaian hak-hak asasi perempuan lainnya, maka ini benar-benar sebuah penindasan yang sangat nyata. Namun jika perempuan memilihnya dengan sadar, menyadari eksistensi, kontribusi dan konsekuensi dari pilihannya, maka dalam konteks ini gerakan ibu-isme merupakan sebuah gerakan pembebasan yang sangat nyata pula bagi kaum perempuan. Ibu-isme adalah cara bagi perempuan untuk membebaskan dirinya dari penindasan kapital yang memperlakukannya sebagai ’sapi perah’ dalam dunia materialisme saat ini.

# Artikel telah dimuat di Rubrik Opini Radar Surabaya, 22 Desember 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;