Minggu, 27 Januari 2013

Mereduksi Angka Bunuh Diri dengan Kasih Sayang dan Empati

Foto dari detik.com

Sabtu sore 18 April lalu, tidak sengaja saya melihat tayangan berita di televisi tentang seorang polisi yang bunuh diri. Diduga, sang polisi nekad mengakhiri hidupnya karena depresi yang disebabkan oleh kasus salah tembak yang dilakukannya beberapa hari sebelumnya. Pihak keluarga menyayangkan mengapa polisi tersebut tidak mencari solusi lain untuk menyelesaikan masalahnya. Saya menyimak berita ini sampai selesai dengan seksama. Padahal saya tak kenal polisi itu. Hanya saja, kasus bunuh diri seringkali sangat menarik perhatian saya. Mengapa? Karena saya juga pernah mau melakukannya, dua kali dalam hidup saya sampai saya menulis tulisan ini.

Seringkali saya dapati, banyak orang tidak suka melihat tayangan berita tentang kasus bunuh diri. Terkecuali mereka mengenal si obyek berita. Kalaupun mereka menonton berita tersebut lebih lama, komentar yang diberikan sering kali negatif. Yang paling sering saya dengar, menempatkan si pelaku bunuh diri sebagai orang bodoh yang lemah iman.

Mungkin pendapat ini ada benarnya karena banyak kasus bunuh diri terjadi disebabkan oleh masalah yang sederhana. Beberapa di antaranya bahkan karena persoalan yang sangat "sepele". Mungkin karena itulah banyak orang memberi komen pada kasus bunuh diri sebagai tindakan yang bodoh. Hal yang sama mungkin juga ditujukan pada saya andai orang-orang tau betapa "sepele"nya persoalan yang menumbuhkan niat saya untuk bunuh diri hingga dua kali.            

Saya pertama kali mencoba bunuh diri ketika duduk di bangku SMP. Saya lupa kelas berapa waktu itu. Sebabnya adalah saya merasa kurang diperhatikan dan disayangi oleh orang tua. Perasaan ini mungkin tak perlu ada karena setiap orang tua pasti akan menyayangi anak-anaknya dengan cinta terbaik mereka. Tapi itulah yang saya rasakan dan perasaan itu berlangsung lama dan begitu menyiksa sampai suatu ketika, dalam keadaan sangat sedih dan putus asa, saya mengurung diri di kamar sambil menatap sekeliling dengan tatapan hampa.

Tiba-tiba pandangan saya tertuju pada tumpukan alat-alat tulis di meja, di mana ada sebuah gunting di antaranya. Saya ambil sambil berkata dalam hati, "mungkin bunuh diri bisa mengakhiri kesedihan ini". Saya sudah lelah dan tak sanggup lagi menanggung perasaan yang tidak bisa dimengerti orang lain. Mungkin setelah saya bunuh diri, orang-orang terutama orang tua baru akan menyadari betapa saya sangat ingin disayangi. Mungkin mereka baru akan paham perasaan saya betapa selama ini saya sangat berharap dsb.

Perlahan saya mengarahkan ujung gunting ke dada saya, setepat mungkin pada letak jantung dan mulai menusukkannya perlahan-lahan. Saya terus menusukkannya sambil berpikir, beginikah rasanya kalau mau bunuh diri?Pada percobaan bunuh diri yang kedua, belasan tahun kemudian, saya menggunakan pisau. Meletakkannya di pergelangan tangan. Saya tidak menekan bagian pisau yang tajam, namun saya berpikir jika keinginan untuk bunuh diri sudah bulat, saya akan memotong urat nadi saya dengan cepat.

Sungguh mengerikan jika itu sampai terjadi karena saya cukup paham apa yang akan terjadi kemudian. Ironisnya, penyebabnya juga sama. Yang lebih ironis, keinginan untuk bunuh diri jauh lebih besar dari yang pertama dulu. Padahal seharusnya, pada usia dengan pemikiran, pendidikan, pengetahuan agama dsb yang seharusnya lebih matang dari waktu SMP dulu, tindakan bodoh itu seharusnya tidak saya coba atau bahkan tidak perlu melintas di pikiran saya lagi.

Kenyataannya tidak demikian. Di luar saya, banyak orang yang jauh di atas saya dalam banyak hal justru benar-benar melakukannya. Saya hanya menyimpulkan bahwa, bunuh diri bisa dilakukan oleh siapapun, berapapun usia dan bagaimanapun keadaan dirinya. Ada saat di mana seseorang akan merasa begitu tak berdaya dan putus asa. Keadaan hampa semacam inilah yang berpotensi memunculkan inisiatif untuk bunuh diri. Realitas berserak di sekitar kita bahwa angka bunuh diri terus meningkat dari waktu ke waktu. Pelakunya tak lagi didominasi oleh orang dewasa, bahkan anak-anakpun semakin banyak saja yang menjadikannya sebagai solusi bagi masalah polos mereka. Pelakunya tidak lagi orang putus asa karena cintanya ditolak atau tak punya pekerjaan, orang yang punya pekerjaan mapan dan keluarga harmonispun turut meramaikan maraknya kasus bunuh diri akhir-akhir ini. Apa yang sebenarnya terjadi?

Dari pengalaman saya dua kali mencoba bunuh diri, dalam beberapa kasus, "tindakan bodoh dan sia-sia" tersebut sangat mungkin dicegah. Seperti faktor pemicunya yang banyak dan beragam, banyak hal juga bisa dilakukan untuk mereduksi angka bunuh diri. Seperti juga penyebabnya yang kadang sangat sepele, hal kecil dan sederhanapun kadang bisa cukup efektif untuk mencegah seseorang bunuh diri.

Salah satunya dengan lebih mengekspresifkan kasih sayang dan empati kita pada orang-orang di sekitar kita terutama orang-orang terdekat. Sepintas sebagian besar dari kita mungkin akan berpikir, orang-orang dekat saya baik-baik saja koq, mereka tidak akan bersikap bodoh dan konyol dengan bunuh diri. Pemikiran yang sangat lumrah. Tapi di sisi lain, tidak sedikit anggota keluarga, kerabat atau orang-orang terdekat dari orang yang bunuh diri pada akhirnya sangat terkejut dan tidak percaya saat mendapati orang yang mereka kasihi yang mereka anggap selama ini baik-baik saja, melakukan tindakan bunuh diri.

Mengapa kita tidak antisipasi sejak dini "hanya" dengan lebih mengekspresifkan perhatian, kasih sayang dan empati kita pada orang-orang di sekitar kita. Memutuskan untuk bunuh diri, menurut pengalaman saya, adalah akumulasi dari perasaan putus asa, sedih, merasa tidak kuat lagi, merasa tidak punya harapan, merasa sendiri, merasa tidak berguna, merasa tidak punya harga diri dan sebagainya.

Di antara berkecamuknya perasaan tersebut, terkadang masih tersisa sedikit asa semoga ada "pertolongan" atau "keajaiban" datang. Ketika saya mencoba menghujamkan gunting ke dada atau mengarahkan pisau ke urat nadi saya, saya sempat berpikir bahwa saya tidak akan melakukannya jika saja ada yang meraih tangan saya sambil berkata "kami sayang padamu", dan atau "kamu tidak sendiri menghadapi masalah ini", atau "kami akan mencoba memahami perasaanmu" atau " masih ada harapan, Sayang" dsb dsb.

Sayang, ungkapan-ungkapan kecil semacam itu kadang datang terlambat. Beruntung, saya termasuk orang yang tidak jadi bunuh diri. Masih banyak yang bisa saya lakukan, pikir saya ketika itu. Jika saya tidak bisa mendapatkan kasih sayang seperti yang saya inginkan, maka saya akan menyayangi sebanyak mungkin orang sebaik yang bisa saya lakukan. Pengalaman pribadi dua kali mencoba bunuh diri juga telah menginspirasi saya untuk menulis masalah ini, berharap agar stigma dan pandangan negatif kita terhadap masalah bunuh diri bisa kita ubah menjadi tindakan positif untuk mereduksinya.

Saya pribadi mencoba mengartikan bunuh diri lebih dari sekedar mengakhiri hidup sebagaimana kita kenal selama ini. Bunuh diri juga bisa terjadi dalam bentuk lain, misalnya melakukan "bunuh diri" terhadap semangat hidup, terhadap cita-cita dan impian, aktivitas keseharian, pergaulan dsb yang pada akhirnya dapat mengurangi kualitas hidup dan kebahagiaan yang bersangkutan. Kemungkinan bunuh diri semacam ini lebih berpotensi menimpa orang-orang di sekitar kita atau bahkan kita sendiri. Sekalipun sebenarnya bunuh diri dalam arti sebenarnya juga tetap mungkin terjadi. Bagaimana mendeteksi gejala-gejala dini orang yang mau "bunuh diri" dalam arti konotatif maupun dalam arti sebenarnya? Gejala-gejala tersebut, menurut pengalaman saya, bisa kita tangkap jika kita bersikap proaktif dan inisiatif tanpa melanggar privacy yang bersangkutan. Tidak bisa dideskripsikan dengan jelas karena setiap orang memiliki karakter berbeda. Dan orang-orang terdekat tentu yang paling paham tentang hal itu.

Satu prinsip dasar yang penting, jangan selalu kita anggap orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar demikian adanya namun tidak pula berarti kita selalu curiga sebaliknya. Saya teringat nasehat guru mengaji saya waktu kuliah dulu untuk tanggap pada keadaan orang-orang di sekitar kita. Kata beliau, sering kita dapati orang-orang yang mengemis di jalan menengadahkan tangan dengan alasan belum makan padahal mereka menjadikan itu sebagai pekerjaan.

Mereka tetap melakukannya walaupun sudah kenyang bahkan uang yang didapatnya sudah lebih cukup untuk makan sebulan. Sebaliknya, mungkin ada sebagian dari teman-teman kuliah kita yang mungkin kiriman dari orang tuanya sudah habis atau belum datang, terpaksa menahan lapar hingga beberapa hari dan mereka sekuat tenaga mencoba terlihat baik-baik saja karena mereka punya harga diri untuk "tidak mengemis" atau tidak mau merepotkan orang lain.

Air yang dalam seringkali terlihat tenang meski terkadang ada gejolak di dalamnya. Cinta, menurut saya, dalam arti sesungguhnya seharusnya membuat orang yang memilikinya bisa bersikap lebih proaktif dan inisiatif untuk mengetahui dan berempati pada apa yang terjadi pada orang yang dicintainya tanpa harus selalu dikatakan secara langsung terlebih dahulu. Yakinkan sebanyak mungkin orang di sekitar kita bahwa kita sayang dan care pada mereka melalui tindakan nyata.

Hal lain yang juga penting kita lakukan adalah tidak menilai remeh setiap persoalan orang lain yang memang kelihatannya "remeh". Sederhana menurut dan bagi kita, bisa jadi sangat berharga bagi orang lain. Seperti misalnya masalah SPP yang membuat seorang anak bunuh diri. Membayar SPP bagi sebagian anak yang lain mungkin bukan masalah dan tak perlu dipermasalahkan. Namun bagi sebagian yang lain, bisa jadi itu adalah sangat masalah sekaligus simbol harga diri baginya, yang akhirnya ia tebus dengan nyawanya.Semoga hal kecil yang kita lakukan melalui perhatian dan empati yang proaktif, inisiatif dan lebih ekspresif bisa turut mengurangi angka bunuh diri yang terus meningkat dari hari ke hari. (*)
Jember, 20 April 2009

2 komentar:

 
;