Selasa, 29 Januari 2013

Menyongsong Tapal Kuda ‘Bersyariah’

Sumber Foto : blog slamet-wiharto

Meski perbankan syariah telah hadir di Indonesia sejak tahun 1992, ternyata masih banyak masyarakat yang belum mengenal apa dan bagaimana perbankan syariah . Kondisi ini mengakibatkan kehadiran bank syariah di suatu wilayah tidak serta merta mendapat respon positif dari masyarakat. Harus ada kerja keras dan strategi yang jitu dari bank syariah sendiri untuk bisa menarik simpati dan partisipasi masyarakat. Inilah salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh bank-bank syariah di wilayah Eks Karesidenan Besuki yang dipioniri oleh Bank Muamalat Indonesia (BMI) diikuti Bank Syariah Mandiri (BSM) di Kota Jember.

Dalam kurun waktu yang relatif singkat, kehadiran perbankan syariah di wilayah Eks Karesidenan Besuki mampu meraih prestasi perbankan yang cukup gemilang. Di tahun keduanya ini, bank syariah telah mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 250,84% dan 1.025,64% untuk pertumbuhan dana pembiayaan. Angka-angka yang cukup spektakuler jika dibandingkan dengan DPK total bank yang hanya 3,84% dan pertumbuhan pembiayaan total perbankan sebesar 31,95%.

Akan tetapi, tanpa bermaksud mengurangi apresiasi terhadap prestasi yang telah dicapai bank syariah, ternyata jika persentase tersebut dinominalkan akan kita dapati gap yang cukup siginifikan antara bank syariah dan bank konvensional. Total pembiayaan bank syariah pada tahun 2003 sebesar Rp 2,8 miliar dan pada tahun 2004 meningkat menjadi Rp 32,4 miliar. Sedangkan pembiayaan total bank (bank umum dan BPR) mencapai Rp 2,4 triliun pada tahun 2003 menjadi Rp 3,2 triliun pada tahun 2004. Untuk dana pihak ketiga (DPK), pada tahun 2003 DPK bank syariah adalah Rp 2,3 miliar naik menjadi Rp 8,3 miliar pada tahun 2004. Sedangkan DPK total bank pada tahun 2003 sebesar Rp 3,9 triliun meningkat menjadi Rp 4,1 triliun pada akhir 2004 (data Kantor Bank Indonesia Jember).

Peluang dan Tantangan

Kesenjangan di atas dapat menjadi indikasi bahwa perbankan syariah masih belum bisa menggarap pangsa pasar yang sangat potensial di wilayah Eks Karesidenan Besuki secara optimal. Perbankan syariah masih seperti tamu di rumah sendiri mengingat bahwa 98,19% dari 4.777.005 jiwa penduduk di wilayah ini beragama Islam.Selain jumlah penduduk yang cukup banyak dan mayoritas adalah muslim, Eks Karesidenan Besuki merupakan wilayah yang luas (11.749,14 kilometer persegi) dengan empat kabupaten (Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi).

Peta demografis ini saja sudah merupakan potensi pasar yang sangat potensial bagi pengembangan perbankan syariah. Kekentalan unsur religi dan tradisi dapat menjadi akselerator jika dapat diberdayakan dengan tepat. Realitas lain yang juga mengindikasikan prospektifnya pengembangan perbankan syariah di wilayah ini antara lain adalah besarnya jumlah umat Islam sekitar 98,19% dari 4.777.005 penduduk. Sebanyak 115.740 orang adalah santri yang tersebar di 622 pesantren. Dan hingga saat ini sudah ada kurang lebih 251 kopontren. Selain itu juga sudah berdiri 50 Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) yang uniknya justru merupakan prakarsa masyarakat setempat yang mempunyai komitmen untuk mengembangkan ekonomi syariah di kalangan masyarakat kcil ke bawah.

Suatu pertanda bahwa telah muncul inisiatif dari bawah yang seharusnya dapat diakomodasi secara proaktif dari atas (khususnya oleh bank-bank syariah dan Bank Indonesia). Persoalannya sekarang bagaimana bank-bank syariah mampu menangkap peluang tersebut.Menggarap pasar potensial yang berpenduduk banyak dan tersebar di wilayah yang luas merupakan sebuah tantangan besar bagi perbankan syariah yang belum genap dua tahun berekspansi ke wilayah Eks Karesidenan Besuki. Belum lagi dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata perbankan syariah masih begitu asing bagi masyarakat setempat sehingga langkah yang ditempuh oleh perbankan syariah benar-benar harus dimulai dari titik nol.

Meminjam istilah Hari Setiawan (Radar Jember, 11 April 2005), tahun-tahun pertama tak ubahnya seperti ‘membabat hutan’. Selain harus membabat hutan, bank-bank syariah di wilayah Tapal Kuda ini juga harus memiliki terobosan agar dapat ‘mencuri’ nasabah dari bank-bank konvensional. Selain dari data statistik di atas, indikasi belum optimalnya bank syariah menggarap pasar bisa juga kita lihat dari performance keseharian keduanya. Bank-bank konvensional favorit hampir selalu ramai dengan nasabah yang rela antri berjam-jam bahkan bersedia menunggu sebelum jam kantor dimulai. Berbeda jauh dengan bank-bank syariah yang sering terlihat sepi nasabah.

Keterbatasan jaringan fisik juga menjadi tantangan besar untuk segera dipenuhi agar dapat menjangkau wilayah Eks Karesidenan Besuki yang cukup luas. Diperlukan terobosan baru agar pasar potensial tetap dapat digarap. Di wilayah potensial yang menjanjikan prospek masa depan cerah ini, bank syariah masih harus bekerja ekstra.Kendala Tantangan besar perkembangan perbankan syariah di wilayah Eks Karesidenan Besuki tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor. Kurangnya sosialisasi dan promosi serta strategi pemasaran yang tepat adalah kendala-kendala yang memang pada umumnya dihadapi oleh perbankan syariah hampir di semua wilayah Tanah Air.

Sosialisasi merupakan suatu hal yang bersifat memberikan pemahaman kepada masyarakat akan hal yang baru. Sedangkan promosi merupakan alat yang digunakan untuk meningkatkan angka, dalam hal ini penjualan. Secara urnum, lembaga keuangan syariah memahami betul bahwa sosialisasi produk syariah harus pula diikuti dengan langkah melakukan promosi. Sebenarnya, segala bentuk sosialisasi dan promosi perbankan syariah di Tanah Air telah dilakukan. Sosialisasi dilakukan tiada henti melalui kerjasama dengan lembaga publikasi syariah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), dan media. Bahkan ijtima Komisi Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) secara resmi telah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan riba pada akhir 2003 lalu.

Beragam sosialisasi tersebut juga telah diikuti oleh berbagai bentuk promosi mulai dari bentuk media seperti above the line (televisi, koran, majalah, tabloid, dan radio) serta didukung media bellow the line (event-event, seminar, brochure / leaflet, poster, spanduk, umbul-umbul, billboard). Meski demikian, anggaran promosi lembaga keuangan syariah masih relatif kecil dan belum memadai dibandingkan dengan bank konvensional . Arena persaingan menjadi semakin keras di tengah ‘booming’ bank-bank konvensional yang menawarkan beragam hadiah sangat menggiurkan. Daya pikat yang hingga saat ini jarang sekali kita temui pada kegiatan promosi dan strategi pemasaran bank-bank syariah.Kendala berikutnya adalah keterbatasan jaringan fisik bahkan di wilayah potensial seperti Eks Karesidenan Besuki ini. BMI mencoba menjembatani keterbatasan fisik ini dengan meluncurkan Shar-e Card.

Sementara BSM mengeluarkan fasilitas SMS Banking. Dengan dua teroboson canggih ini diharapkan nasabah dua bank syariah tersebut tetap dapat melakukan berbagai transaksi perbankan tanpa harus ke kantor bank syariah. Meski demikian, dua solusi ini tidak serta merta menyelesaikan kendala fisik secara keseluruhan. Kedua fasilitas tersebut bagi sebagian masyarakat yang secara ekonomi dan akademis tergolong masyarakat menengah ke bawah, terkesan masih sangat spektakuler.

Profesionalitas kinerja bank-bank syariah yang masih harus terus ditingkatkan agar memiliki daya saing terhadap bank konvensional adalah kendala yang juga harus segera diatasi oleh perbankan syariah. Karena meski masyarakat sudah tahu dan paham, jaringan fisik juga sudah tersedia dan mudah diakses, namun jika fasilitasnya belum mampu memenuhi tuntutan dan kebutuhan up to date dari masyarakat, bisa jadi masyarakat masih belum bisa mengucapkan “selamat tinggal” pada bank-bank konvensional yang profesional.

Hingga saat ini berdasarkan pengamatan penulis khususnya terhadap fasilitas perbankan Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri di Kota Jember, kedua bank tersebut sebenarnya telah cukup memiliki dan akan terus mengembangkan fasilitas perbankan terkini. Hanya saja karena kurangnya sosialisasi dan promosi terhadap masyarakat luasnya khususnya bagi umat Islam sendiri, banyak yang tidak tahu bahkan tidak menduga jika bank syariah ternyata sudah sedemikian modern. SolusiKetua Asosiasi Pelaku Ekonomi (Aspek) Jember, HM Saifuddin SE, menawarkan beberapa solusi bagi kendala-kendala pengembangan perbankan syariah di wilayah Tapal Kuda ini (Radar Jember, 11 April 2005). Dari identifikasi masalah di atas dan realitas yang ada di lapangan, penulis juga mencoba turut memberikan sumbangsih pemikiran bagi pengembangan perbankan syariah khususnya di wilayah Eks Karesidenan Besuki.

Sosialisasi dan Promosi 

Sosialisasi dan promosi merupakan ujung tombak keberhasilan pengembangan perbankan syariah di manapun berada. Bagaimana masyarakat akan bertransaksi jika kenal saja tidak. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan agar sosialisasi dan promosi menjadi efektif dan tepat sasaran yakni : strategi, frekuensi dan inovasi.Hingga saat ini iklan merupakan cara paling umum yang terbukti memiliki power luas biasa dalam penyampaian informasi sekaligus untuk mempengaruhi psikologis dan pilihan masyarakat. Menyadari kekuatan iklan tersebut, bank-bank konvensional dengan sadar menganggarkan dana iklan dalam nominal yang tidak sedikit. Iklan mereka begitu ramai menghiasi beragam media yang mudah diakses masyarakat dari semua kalangan.

Tidak hanya itu, mereka juga berlomba-lomba menawarkan beragam hadiah yang sangat menggiurkan. Tuntutan realitas mengharuskan perbankan syariah untuk juga beriklan dengan frekuensi yang cukup tinggi. Konsekuensinya jelas anggaran iklan harus ditingkatkan. Iklan dengan frekuensi tinggipun belum menjamin bahwa masyarakat akan langsung terpengaruh. Harus ada inovasi dalam sosialisasi dan promosi. Inovasi dapat terinspirasi dari karakter dan kultur masyarakat setempat. Mayoritas masyarakat Eks Karesidenan Besuki yang mayoritas beragama Islam dan bersuku Madura.

Ini berarti bahwa bank-bank syariah dapat menempuh metode pendekatan secara psiko-religius sekaligus tradisional yang dapat menyentuh unsur lokalitas masyarakat.Penggarapan pangsa pasar potensial di wilayah Eks Karesidenan Besuki ini dapat diawali dengan terlebih dahulu membidik segmen masyarakat yang tidak hanya potensial untuk direkrut sebagai nasabah tetapi juga memiliki potensi untuk menyebarluaskan informasi dan menarik segmen masyarakat luas untuk mengenal dan menjadi nasabah bank syariah. Segmen masyarakat prioritas ini dapat terdiri dari kalangan akademisi, pengusaha muslim, tokoh agama dan masyarakat. Lalu bagaimana pelaksanaan teknis konkret dari penggarapan pangsa pasar potensial tersebut? Syaifuddin memberi masukan sangat berharga untuk masalah ini : staf bank syariah harus bersikap proaktif dan inovatif.

Dengan kalimat lain, mereka harus turun ke lapangan di mana calon customer potensial berada dan menjalankan peran sebagai Public Relation (PR) bank syariah. Sebuah terobosan yang menuntut semangat dan kerja keras ekstra. Sebagai supply power agar pegiat bank syariah selalu menjadi petarung tangguh di medan laga, hendaknya potensi besar ekspansi usaha di wilayah Tapal Kuda ini tidak hanya dipandang dari sudut ekonomi dan bisnis semata tetapi juga dilihat dari kacamata dakwah. Semangat dakwah mengajarkan konsep peerjuangan yang tidak kenal menyerah dan putus asa. Dengan misi dakwah ini juga akan memperbesar akses bank syariah untuk bersosialisasi dan berpromosi melalui sarana-sarana yang ada dan marak di wilayah Eks Karesidenan Besuki dalam batasan yang diperbolehkan. Suatu kesempatan yang tidak akan pernah didapati oleh bank konvensional.

Selain bersikap proaktif dalam menggarap pasar, inovasi juga dapat melalui pendekatan yang menyentuh unsur religiusitas dan lokalitas masyarakat mengingat masyarakat di wilayah Eks Karesidenan Besuki masih memiliki dan mempertahankan nilai-nilai religius dan lokalitas yang cukup fanatis. Dalam hal religi, masyarakat pada umumnya masih memiliki fanatisme yang cukup tinggi dan kepatuhan yang besar terhadap tokoh agama. Fanatisme tersebut mudah ‘dirangsang’ dengan munculnya isu-isu yang memiliki nilai kontroversial dengan agama seperti isu haram terhadap sistem bunga. Terlebih jika yang mengemukakan hal tersebut adalah alim ulama yang sangat berpengaruh.

Hal ini dapat menjadi bargaining yang cukup berpower untuk mengimbangi “booming” iklan dan hadiah yang ramai ditawarkan oleh bank-bank konvensional. Jika sudah masuk dalam kategori “haram”, masyarakat yang fanatis tidak akan interest pada hadiah apapun yang ditawarkan. Meski demikian, adalah kurang profesional dan tidak akan berkembang optimal jika cukup mengandalkan isu halal-haram.b. Jaringan FisikJaringan fisik memang merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan dalam pengembangan usaha. Dalam skala nasional, pengembangan jaringan perbankan syariah di Indonesia pasca reformasi telah mencapai angka pertumbuhan di atas 50% dan hingga kini terus berkembang pesat.

Namun, penyebarannya belum merata dan mampu menjangkau seluruh wilayah Tanah Air bahkan di wilayah yang cukup potensial sekalipun termasuk di wilayah Eks Karesidenan Besuki yang baru memiliki dua bank syariah di Kota Jember yakni Bank Muamalat Indonesia (sudah memiliki satu kantor kas di luar kota Jember) dan Bank Syariah Mandiri.Jaringan fisik menjadi bukti konret eksistensi perbankan syariah di suatu wilayah. Akan tetapi, pengadaan jaringan fisik membutuhkan banyak modal termasuk di dalamnya sumber daya manusia. Hal ini mengakibatkan penambahan jaringan fisik tidak selalu mudah diwujudkan.

Namun demikian, hal ini hendaknya jangan sampai menjadi faktor penghambat ekspansi usaha sehingga mengharuskan adanya upaya pencarian solusi dan terobosan untuk mengatasinya. Sebagaimana tawaran dari Saifuddin, kemampuan staf bank syariah menjadi PR di lapangan potensial yang belum ada jaringan fisik bank syariah dapat memiliki fungsi ganda sebagai pengganti jaringan fisik. Cara ini dapat ditambah dengan pengadaan “kantor kas keliling” di hari-hari tertentu untuk memudahkan nasabah melakukan transaksi.

c. Peningkatan ProfesionalitasSebagaimana telah dipaparkan pada point (a) bahwa isu halal-haram dapat menjadi moment menguntungkan yang dapat mengakselerasi pengembangan perbankan syariah.

Langkah selanjutnya adalah meningkatkan profesionalitas perbankan syariah baik SDM, sumber daya teknologi, fasilitas, pelayanan maupun peran dan fungsinya dalam perbankan dan perekonomian secara luas. Peningkatan profesionalitas perbankan syariah memiliki aspek yang cukup luas. Selain yang telah disebutkan di atas, profesionalitas dapat ditumbuhkembangkan dari karakter dan prinsipnya yang unik yang tidak dimiliki oleh bank konvensional. Antara lain seperti prinsip bagi hasil (Profit Sharing), konsep Good Corporate Governance Plus (GCG+), prudential principle (prinsip kehati-hatian), efektivitas fungsi intermediasi dan sistem pengawasan yang berlapis-lapis (multilyer audit).

Sistem bagi hasil yang menjadi prinsip dasar perbankan syariah sekaligus yang membedakannya dengan sistem konvensional memiliki nilai keadilan yang lebih nyata dan stabil bahkan dapat menjembatani perekonomian masyarakat menuju real economy. Keunggulan lain adalah konsep Good Coorporate Governance-nya (GCG) yang lebih unggul dari bank konvensional karena selain bertanggung jawab pada pihak manajemen juga bertanggung jawab pada Sang Khalik. GCG Plus ini terbukti cukup efektif mengantisipasi munculnya kecurangan, manipulasi maupun kejahatan perbankan yang akhir-akhir ini marak menghiasi dinamika perbankan nasional. Sampai saat ini prinsip kehati-hatian bank syariah juga terbukti baik dengan sedikitnya kasus dan persentase kredit macet.

Berbagai keunikan yang sekaligus menjadi keunggulan perbankan syariah tersebut telah mengakselerasi profesionalitas perbankan syariah yang manfaatnya sudah mulai dirasakan oleh masyarakat dan negara. Buktinya dengan mudah dapat kita lihat dalam kehidupan sehari. Perbankan syariah semakin mengukuhkan eksistensinya sebagai bank yang bersih, sehat dan mampu menjalankan fungsi intermediasi dengan cukup baik. Sementara itu, perbankan nasional justru semakin ramai dengan berbagai kasus perbankan mulai dari kredit macet hingga korupsi di kalangan manajemen.

Peran Bank Syariah Di Eks Karesidenan Besuki

Sebagai wilayah yang luas dengan mayoritas penduduknya beragama Islam dan memiliki sarana keagamaan yang cukup banyak (662 pondok pesantren dan 39.641 masjid/mushalla), sudah sepatutnyalah jika wilayah Tapal Kuda ini juga “bersyariah” dalam aspek perekonomian khususnya perbankan. Menghadapi peluang dan tantangan tersebut, perbankan syariah memiliki peran sangat signifikan di wilayah Eks Karesidenan Besuki yakni : pertama, mengawal langkah hijrah masyarakat menuju kehidupan perekonomian dan perbankan yang sesuai syariah.

Sebagaimana kita ketahui bersama hingga saat ini sistem konvensional (riba/bunga) masih sangat mendarah daging dalam kehidupan masyarakat termasuk kalangan masyarakat muslim sendiri.Peran selanjutnya adalah menggerakkan ekonomi rakyat khususnya kalangan menengah ke bawah yang selama ini masih belum memiliki akses atau belum terjangkau oleh bank-bank konvensional maupun lembaga bantuan keuangan sejenis. Dalam hal ini, bank-bank syariah harus lebih mengoptimalkan fungsi intermediasinya yang selama ini terbukti cukup berhasil dan lebih baik dari bank konvensional.

Wilayah Eks Karesidenan Besuki memiliki potensi ekonomi kerakyatan yang cukup besar baik dari sektor pertanian, perikanan (nelayan) maupun usaha rakyat (home industries).Dalam skala yang lebih luas, perbankan syariah turut berperan dalam membangkitkan kembali perekonomian dan perbankan di wilayah Eks Karesidenan Besuki sebagai bagian integral dari perekonomian dan perbankan nasional yang sempat collapse pasca krisis ekonomi pada tahun 1997. Lebih spesifik, perbankan syariah juga memiliki peran untuk menjadikan wilayah Eks Karesidenan Besuki sebagai salah satu pilar utama bagi perekonomian Islam di kemudian hari.

Peran Bank Indonesia

Hadirnya perbankan syariah di wilayah Eks karesidenan Besuki memiliki prospek masa depan yang cerah sejalan dengan berbagai peluang dan tantangan besar yang turut mengiringinya. Dalam hal ini, Bank Indonesia khususnya Bank Indonesia Jember memiliki peran yang sangat penting dan besar pengaruhnya bagi perkembangan perbankan syariah di wilayah ini. Tugas dan tanggung jawab Bank Indonesia antara lain:

1. Peran Regulasi, 
Pentingnya peran BI sebagai regulator bertolak dari salah satu masalah utama dalam pengembangan perbankan syariah yakni sangat perlunya penyempurnaan hukum perbankan syariah dan yang terkait secara lebih komprehensif, akomodatif, sistematis dan mampu menjawab tantangan pasar.

2. Peran Edukasi dan Sosialisasi
Masih minimnya SDM perbankan syariah mengharuskan BI mengoptimalkan peran edukasinya dalam menciptakan SDM-SDM syariah yang handal baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Begitu pula dalam mengatasi masalah sosialisasi yang hingga kini masih menjadi salah satu kendala signifikan pengembangan perbankan syariah terutama tidak hanya karena keterbatasan SDM dan biaya, tetapi dihadapkan juga pada realitas bahwa perbankan syariah masih begitu asing bagi masyarakat dan kalangan dunia usaha terlebih di daerah-daerah yang belum atau baru saja memiliki bank syariah di wilayahnya.

3. Peran Kordinasi 
Realitas yang kurang menguntungkan di lapangan menunjukkan bahwa subjek-subjek perbankan syariah khususnya bank masih belum memiliki sistem kordinasi yang baik; antara satu dengan yang lain masih lebih sering berjalan sendiri-sendiri secara individual, padahal adanya kordinasi dan kebersamaan langkah akan semakin mengakselerasi pengembangan perbankan syariah sendiri. Belum lagi kemampuan subjek-subjek tersebut masih belum optimal dalam menjalin hubungan kemitraan maupun aliansi dengan pihak-pihak lain yang berkompeten baik lembaga perbankan, lembaga keuangan, perusahaan dsb baik yang beroperasi secara syariah maupun yang non syariah. Dalam hal ini, BI perlu merangkul semua pihak yang terkait dan berkompeten dalam pengembangan perbankan syariah. Perangkulan itu dilakukan dengan tujuan peningkatan akseptabilitas perbankan syariah di kalangan dunia usaha baik oleh pengusaha besar maupun kecil, peningkatan dukungan kebijakan oleh berbagai lembaga otoritas keuangan dan sekuritas di Tanah Air termasuk di daerah-daerah yang baru terekspansi perbankan syariah, serta peningkatan dukungan jasa profesional dari berbagai lembaga profesional yang potensial meningkatkan kredibilitas perbankan syariah.

4. Peran Supervisi
Maraknya kasus perbankan akhir-akhir ini juga patut diwaspadai oleh perbankan syariah meski perbankan syariah memiliki keunikan sekaligus kelebihan yang membuatnya memiliki imunitas lebih dibandingkan bank konvensional serta memiliki dewan pengawas dan pengontrol seperti Dewan Pengawas Syariah dan Dewan Syariah Nasional yang tidak dimiliki oleh sistem perbankan konvensional, itu belum menjamin tidak terjadinya pelanggaran dan kekeliruan. Dalam hal inilah peran supervisi BI sebagai otoritas pengontrol sangat diperlukan.

Kesimpulan

Wilayah Eks Karesidenan Besuki menyimpan banyak potensi yang sangat mendukung bagi akselerasi pengembangan perbankan syariah ke depan. Berbagai potensi itu antara lain wilayah yang luas, penduduk yang banyak, psiko-religius masyarakat yang mayoritas beragama Islam, keberadaan beberapa institusi pendukung seperti kopontren dan BMT serta sektor perekonomian rakyat yang cukup banyak dan beragam.Sayangnya, potensi itu tidak serta merta mampu diberdayakan seiring dengan hadirnya bank-bank syariah di wilayah ini. Meski mampu meraih prestasi yang cukup spektakuler dalam waktu yang relatif singkat, perbankan syariah belum memiliki porsi yang signifikan dalam dinamika perbankan regional terhadap bank konvensional khususnya dalam penggalangan dana pihak ketiga dan dana pembiayaan.
Beberapa kendala di lapangan harus segera diantisipasi antara lain masalah sosialisasi dan promosi baik dalam hal strategi, frekuensi maupun inovasi, begitu juga dengan kendala jaringan fisik dan peningkatan profesionalitas kerja. Beberapa solusi sudah di depan mata dan sangat mungkin untuk direalisasikan. Persoalannya sekarang bagaimana perbankan syariah mau bekerja ekstra untuk menggarap pasar potensial tersebut. Dalam hal ini peran Bank Indonesia Jember turut menjadi bagian yang menentukan. Dengan strategi, kerja ekstra dan kerja sama dengan pihak-pihak yang berkompeten, Insya Allah Eks Karesidenan Besuki yang bersyariah akan segera terwujud.


#Pemenang Pertama Lomba Karya Tulis tentang Bank Syariah oleh BI Jember 2005 
untuk Kategori Mahasiswa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;