Kamis, 24 Januari 2013

Menyongsong Kebangkitan (kembali) Industri Gula



Sumber Foto : National Geographic

Sebagai salah satu negara pengimpor gula terbesar di dunia dengan tingkat konsumsi yang terus mengalami kenaikan dari waktu ke waktu, sudah saatnya komitmen untuk mewujudkan swasembada gula semakin diseriusi. Dalam jangka panjang, tentu kita berharap bahwa produksi gula nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri namun juga sekaligus mengubah posisi Indonesia dari yang semula sebagai salah satu negara pengimpor gula terbanyak menjadi negara pengekspor gula yang utama di dunia. Pertanyaannya, mungkinkah harapan ini bisa terwujud? Terdapat sejumlah fakta dan alasan logis untuk menjawab pertanyaan ini dengan sangat optimis. 

Pertama, ditilik dari aspek sejarah, industri gula termasuk industri tertua di Indonesia yang telah berlangsung sejak masa kolonial Belanda dan berhasil menorehkan tinta emas untuk Indonesia. Yakni dengan mengantarkan Indonesia sebagai salah satu pengekspor utama gula dunia. Periode emas ini berlangsung antara tahun 1928-1931 dengan jumlah produksi mencapai 3 juta ton gula yang dihasilkan oleh 179 Pabrik Gula (PG). Areal industri gula saat itu mencapai 200 ribu ha dengan tingkat produksi gula sebanyak 15 ton/ha. Dengan pencapaian ini, Indonesia menjadi negara pengekspor gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba dan jauh meninggalkan negara-negara produsen gula lainnya seperti Australia, Brazilia, China, dan Philipina. Bisa dibayangkan betapa spektakulernya pencapaian tersebut. Dengan teknologi yang bisa dibilang masih sederhana, juga dukungan riset dan ilmu pengetahuan yang tidak semaju sekarang, Indonesia mampu memproduksi gula jauh di atas kebutuhan dalam negeri saat itu. Dengan berbagai sarana dan prasarana yang jauh lebih lengkap seperti sekarang, mengulang kembali masa kejayaan itu tentu sangat mungkin.


Salah Satu Pabrik Gula di masa penjajahan Belanda, sumber foto bloggerpurworejo.com
Kedua, kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat dan potensi pasar dunia yang masih cukup prospektif. Seiring dengan pertambahan populasi penduduk, kebutuhan gula dalam negeri diperkirakan juga akan terus meningkat. Diperkirakan, rata-rata konsumsi gula penduduk Indonesia saat ini adalah 12 kg per tahun. Meski mengalami kenaikan rata-rata 3,87 % setiap tahunnya, tingkat konsumsi gula masyarakat Indonesia sebenarnya masih di bawah rata-rata konsumsi gula penduduk Asia yang mencapai 25kg/orang/tahun. Sementara itu rata-rata konsumsi gula masyarakat di negara maju umumnya berkisar antara 30-55 kg/orang/tahun). 

Meski mengalami peningkatan konsumsi yang cukup signifikan dan pertambahan jumlah penduduk yang juga relatif besar, produksi gula dalam negeri justru tidak memiliki eskalasi pertumbuhan dan penambahan yang memadai. Akibatnya, diperkirakan terjadi kesenjangan sekitar 32 persen antara tingkat produksi dan konsumsi gula dalam negeri. Sehingga, sebagaimana kebutuhan pokok lain pada umumnya, impor adalah solusi yang digunakan untuk menjembatani kesenjangan ini. Kesenjangan yang terus menerus dan tidak berkesudahan membuat Indonesia menempati peringkat ketiga negara pengimpor gula terbesar di dunia setelah Rusia dan India. Terus bergantung pada impor jelas memiliki banyak dampak negatif. Selain akan terus membebani anggaran negara, kemandirian bangsa juga akan sulit dicapai jika kita masih terus bergantung pada luar negeri apalagi untuk jenis kebutuhan pokok yang permintaannya terus meningkat dari waktu ke waktu seperti gula. 

Pentingnya mencapai swasembada gula juga didorong oleh potensi pasar dunia yang masih cukup besar meski sejumlah negara maju cenderung mengurangi impor gula mereka. Banyak negara maju terus mengurangi impor gula dalam jumlah yang cukup signifikan dari semula sekitar 80 persen pada tahun 1970 menjadi sekitar 40 persen pada tahun 2000. Tren penurunan ini terjadi karena banyak negara maju yang berupaya memenuhi sendiri kebutuhan gula dengan meningkatkan produksi gula dalam negeri. Tren penurunan ini juga dipengaruhi oleh kecenderungan pengurangan konsumsi gula per kapita masyarakat di negara maju. Data menunjukkan bahwa konsumsi gula negara maju sudah berkurang dengan laju -1.2 persen pada periode 1980-an dan -0.1 persen pada 1990-an (Mitchell, 2004). 

Berkebalikan dengan tren di negara maju, konsumsi gula masyarakat di negara berkembang justru mengalami kenaikan yang signifikan yakni sekitar 2.6 persen, selama dekade 90-an. Kenaikan konsumsi ini jelas berdampak pada peningkatan impor gula mereka. Dari yang semula sekitar 20 juta ton pada tahun 1970 menjadi hampir 40 juta ton pada tahun 2000 atau meningkat sebesar 100 persen. Ini merupakan potensi pasar sangat potensial yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia setelah mencapai swasembada gula. 

Ketiga, industri gula memiliki multiplier effect (dampak pengganda) yang sangat luar biasa. Sebagaimana diketahui, industri gula merupakan salah satu industri yang memiliki multiplier effect luar biasa. Seperti, menyerap banyak tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, juga bisa menjadi stimulus bagi pembangunan dan pendapatan ekonomi lokal. Selain itu, industri gula juga berkontribusi besar dalam pembayaran pajak dan retribusi. Di tengah kondisi masyarakat dan bangsa yang tengah berupaya untuk bangkit seperti saat ini, hadirnya sebuah industri yang memiliki multiplier effect luar biasa tentu perlu dioptimalkan agar kontribusinya juga semakin besar dalam mengakselerasi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.

Keempat, kemajuan industri gula nasional yang cukup menggembirakan dalam beberapa waktu terakhir. Setelah sempat terpuruk dalam jangka waktu yang lama, industri gula nasional kembali bergairah dan terus menunjukkan kemajuan yang cukup positif. Sebagaimana diketahui, setelah mencapai masa puncak produksi di sepanjang sejarah pergulaan tanah air pada periode 1928-1931, industri gula Indonesia terus mengalami fluktuasi hingga kondisinya kemudian  menjadi  terbalik. 

Tercatat sejak tahun 1967, Indonesia yang semula merupakan negara pengekspor berubah menjadi negara pengimpor gula. Hanya pada tahun 1984-1985 Indonesia berhasil mencapai swasembada gula. Selebihnya Indonesia harus mengimpor untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. Bahkan sejak tahun 1998, Indonesia masuk dalam jajaran lima negara pengimpor gula terbesar di dunia. Ini terjadi karena hingga tahun 2011 (kecuali 2008 dan 2009), produksi rata-rata gula di Indonesia maksimal hanya mencapai sekitar 2,2 juta ton/tahun padahal konsumsi gula dalam negeri mencapai hampir dua kali lipatnya. Jumlah yang tak imbang ini tak hanya memaksa Indonesia harus mengimpor gula, namun juga membuat Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara produsen gula yang sebelumnya posisinya jauh di bawah Indonesia seperti Brazilia yang produksi gulanya kini mencapai 29 juta ton,  India 14 juta ton, China 11 juta ton, Australia 5,5 juta ton dan Thailand 5 juta ton.

Namun, kondisi buruk ini perlahan mulai menunjukkan indikasi perbaikan yang cukup menggembirakan. Terjadi kenaikan produksi gula nasional secara cukup signifikan dari maksimal hanya sekitar 2,2 juta ton dalam sepuluh tahun terakhir menjadi menjadi 2,5 juta ton pada tahun 2012. Jumlah yang sama juga berhasil dicapai pada tahun 2008 dan 2009. Menariknya lagi, pencapaian pada tahun 2012 ini juga disertai dengan akselerasi kinerja hampir semua BUMN yang terlibat dalam bidang pergulaan. Bahkan, sejumlah BUMN yang semula merugi juga turut mencatatkan prestasi dan kontribusi terhadap pergulaan nasional. Sebuah indikasi yang menggembirakan sekaligus menguatkan harapan bagi kebangkitan kembali kejayaan industri gula di tanah air. Meski demikian, perjalanan dan perjuangan masih panjang.


PTPN X sebagai Leader sekaligus Role Model

Agar gerbong harapan yang kita cita-citakan bersama yakni swasembada gula sekaligus negara pengekspor utama gula dunia bisa berjalan lebih terarah dan optimal, harus ada yang menjadi lokomotif dalam melakukan sejumlah inisiasi dan terobosan sekaligus role model bagi yang lain. Dalam konteks ini, berdasarkan pencapaian prestasi, konsistensi dan inovasi, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X layak disebut sebagai leader sekaligus role model dalam industri gula nasional. 

Ada sejumlah indikasi yang menguatkan. Di antaranya, PTPN X tercatat sebagai BUMN gula terbesar di Indonesia yang pada tahun 2012 lalu berkontribusi sekitar 19 persen terhadap total produksi gula nasional yakni dengan produksi sebanyak 493.000 ton. Jumlah ini mengalami kenaikan sekitar 8,12 persen dari tahun 2011. Rendemen atau kadar gula dalam tebu perusahaan gula di PTPN X juga termasuk yang terbaik yakni mencapai 8,14 persen. 

Tak hanya berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan gula nasional, PTPN X yang memiliki sebelas PG di Jawa Timur ini juga telah berkontribusi cukup baik terhadap pembangunan ekonomi masyarakat dan daerah. Sedikitnya ada 71.691 petani tebu di lingkungan PG-PG milik PTPN X dan sekitar 12.000 karyawan PTPN X yang mayoritas berasal dari penduduk setempat. Selain itu, masih terdapat ratusan ribu tenaga kerja penunjang lain seperti tenaga tebang, sopir truk pengangkut tebu, penjual makanan dan sebagainya, yang juga merasakan manfaat dan nilai tambah bagi usahanya dengan keberadaan dan usaha yang dijalankan oleh PTPN X. 

Peningkatan nilai tambah bagi masyarakat di daerah di antaranya diwujudkan melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat, khususnya petani tebu sebagai mitra utama dan masyarakat luas pada umumnya. Sejumlah kegiatan yang rutin dilakukan oleh PTPN X antara lain pelatihan dan studi banding ke negara yang sukses mengembangkan industri gula. Selain penguatan petani tebu, PTPN X juga ambil bagian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat melalui pemberian beasiswa pendidikan, pembangunan sarana ibadah, dan dukungan dalam berbagai kegiatan positif di masyarakat. Sebagai BUMN, PTPN X juga secara rutin menyerahkan dividen kepada negara yang dananya kemudian digunakan untuk program-program pembangunan yang digerakkan pemerintah.

Selain menjadi yang terbaik dalam hal jumlah dan persentase pertumbuhan serta berkontribusi terhadap pengembangan ekonomi masyarakat dan daerah, PTPN X juga termasuk BUMN pionir yang melakukan sejumlah terobosan dan inovasi di bidang pergulaan seperti dalam hal riset terpadu budidaya tebu melalui metode bud chips yang bisa memacu produktivitas tebu sehingga bisa membantu petani meningkatkan produktivitasnya. Selain itu, PTPN X juga merupakan perusahaan pergulaan pertama di Indonesia yang memulai program diversifikasi dengan serius. Diversifikasi produk sebenarnya telah sejak lama menjadi tren pabrik-pabrik gula di Brasil, India, dan Thailand, namun masih relatif baru bahkan langka di Indonesia. 

Diversifikasi produk sangat penting untuk meningkatkan nilai tambah persuahaan sekaligus mengurangi risiko produksi di bisnis tebu. Untuk itu, PTPN X mendorong PG-PG yang berada di bawah naungannya untuk melakukan diversifikasi produk seperti mengolah ampas tebu menjadi listrik dan tetes tebu menjadi bioetanol. PG Ngadiredjo (Kediri) misalnya, sudah memulai program co-generation dengan produksi listrik 2 MW. Program co-generation yang mengolah ampas tebu menjadi listrik ini juga akan dimulai di sejumlah PG milik PTPN X lain seperti PG Pesantren Baru (Kediri). Sementara itu, PG Gempolkrep (Mojokerto) akan merampungkan pembangunan pabrik bioetanol pada 2013 yang akan menghasilkan fuel grade ethanol 99 persen yang sangat ramah lingkungan. 

Terobosan lain yang juga dilakukan PTPN X adalah melakukan studi pembangunan terintegrasi di Pulau Madura yang diharapkan nantinya dapat menjadi industri berbasis tebu yang terintegrasi dari hulu ke hilir (integrated sugarcane industry). Aspek lain yang juga mulai dijajaki oleh PTPN X adalah mengembangkan wisata sejara pabrik gula. Tidak hanya untuk mengedukasi masyarakat terutama generasi muda tentang urgensi dan sejarah industri gula di Indonesia namun juga sebagai ujung tombak promosi wisata dan pemasaran industri gula Indonesia kepada dunia.

Sejumlah pencapaian dan terobosan yang dilakukan oleh PTPN X di atas memang cukup untuk menasbihkan dirinya sebagai pemain utama dalam industri gula nasional. Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan, tanggung jawab serta peran lain yang masih harus dilakukan dan diantisipasi oleh PTPN X untuk lebih mengukuhkan dirinya sebagai leader sekaligus role model dalam bidang pergulaan di tanah air.


Tantangan dan Peluang
Sebagaimana BUMN lain yang bergerak di bidang pergulaan, PTPN X juga menghadapi sejumlah masalah klasik yang sama. Salah satu di antaranya adalah problem pasokan tebu. Masalah ini sebenarnya bisa diatasi jika PTPN X bisa melakukan ekstensifikasi atau penambahan lahan. Luas lahan tebu di lingkungan PTPN X saat ini mencapai 72.124 hektar dengan produktivitas sekitar 84,2 ton tebu per hektar. Dalam waktu dekat PTPN X menargetkan penambahan lahan tebu menjadi 76.000 hektar sehingga produksi gula ditargetkan meningkat menjadi 538.000 ton. Masalahnya kemudian, penambahan lahan sulit dilakukan mengingat hasil yang didapat dari sektor lain seperti properti jauh lebih menguntungkan. Dalam konteks ini, selain melakukan ekstensifikasi secara langsung di sejumlah wilayah, upaya meningkatkan pasokan tebu juga bisa dilakukan dengan lebih mengoptimalkan program kemitraan dengan petani baik secara kuantitas maupun kualitas, sehingga pasokan tebu dari petani bisa ditingkatkan.

Selain masalah pasokan tebu, problem lain yang juga dihadapi oleh PTPN X untuk terus menjadi yang terdepan dalam mengembangkan inovasi produk dan manajemen adalah keterbatasan SDM dan anggaran. Problem SDM dapat diantisipasi dengan melakukan kerjasama yang lebih intens dengan lembaga pendidikan yang terkait. Ini merupakan sebuah aliansi strategis yang saling menguntungkan. Untuk masalah anggaran, dapat diupayakan melalui optimalisasi diversifikasi produk yang telah dimulai sejak beberapa waktu lalu. Jika Integrated sugarcane industry nantinya terealisasi dan berjalan dengan baik, kehadirannya tentu akan semakin meningkatkan produktivitas dan nilai tambah perusahaan. Kerjasama dengan pihak ketiga juga menjadi cara lain yang cukup potensial. 

Akhir kata, dengan penuh semangat dan optimisme, mari kita songsong kebangkitan kembali industri gula di tanah air.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. kalau perlu semua bahan makanan pokok sebaiknya serba lokal Mbak Hana, untuk menaikkan taraf hidup petani :)

      Hapus

 
;