Rabu, 16 Januari 2013

Membawa Anak Ke ATM, Ternyata Kurang Mendidik!

Foto dari sini

Anak jaman sekarang belajar lebih cepat dari zaman kita dulu. Memang sudah masanya karena menurut banyak pakar, anak-anak zaman sekarang khususnya yang masih balita, konon adalah generasi melek teknologi, brillian berinovasi dan punya ekstra suntikan energi yang pada masanya nanti akan tumbuh sebagai pekerja-pekerja berpengetahuan yang terspesialisasi (knowledge workers).


Salah satu bidang yang telah masuk ke dalam keseharian anak-anak kita adalah teknologi. Seorang teman di facebook bahkan pernah bercerita, anaknya yang baru berumur tiga tahun sudah minta dibelikan Blackberry (BB). 
Di masa keemasannya (golden age = 0-4 tahun), anak memang belajar sangat pesat. Para ahli psikologi menyatakan bahwa masa usia dini (0-4 tahun) merupakan periode keemasan (golden age) dalam proses perkembangan anak. Pada usia ini, anak-anak mengalami lompatan kemajuan luar biasa baik secara fisiologis, psikis maupun sosialnya, sehingga mereka sangat potensial untuk belajar apa saja. Pada masa ini pula tidak kurang dari 100 miliar sel otak siap untuk distimulasi agar kecerdasan seseorang dapat berkembang secara optimal di kemudian hari. 

Sementara itu menurut Dr. Benyamin S.Bloom dalam Stability and Change in Human Characteristics, sekitar 50% potensi inteligensi anak sudah terbentuk pada usia 4 tahun dan mencapai 80% saat berusia 8 tahun dari total kecerdasan yang akan dicapai pada usia 18 tahun.
Lalu bagaimana anak belajar di masa keemasannya?

Pada masa ini anak lebih banyak melihat apa yang terjadi di sekitarnya dalam kehidupan sehari-hari. Meniru adalah salah proses belajarnya yang paling dominan. Seperti yang terjadi pada anak teman saya sebagaimana saya ceritakan di awal tadi. Si kecil meminta BB karena ia melihat Ayah Bundanya sangat akrab dengan benda tersebut. Apa yang terjadi pada anak-anak saya juga hampir sama. Bedanya, objeknya adalah ATM atau Anjungan Tunai Mandiri.

Naura belum genap satu tahun ketika malam itu kami berempat (saya, suami, Sasha dan Naura) pergi ke salah satu ATM untuk mengambil uang tunai. Dalam keadaan setengah mengantuk, Naura dengan cekatan ikut memencet tombol angka di ATM ketika saya memasukkan nomor PIN. Setelah itu tangan mungilnya berebut dengan tangan kakaknya antri di depan bagian ATM yang mengeluarkan uang. Naura rupanya sudah “ngeh” bahwa di sana tak lama lagi si mesin akan memberinya beberapa lembar uang. 

Sebagai keluarga kecil yang sudah hidup terpisah dari orang tua dan tanpa pembantu, anak-anak sudah terbiasa ikut hampir dalam setiap aktivitas kami sejak mereka masih bayi dalam hitungan usia beberapa minggu. Sasha misalnya yang kini berusia 5,5 tahun, saat berusia dua minggu sudah saya ajak ke luar. Ke pasar tradisional, ke swalayan ataupun melihat pameran. Semakin bertambah usianya dan semakin normal kehidupan saya sebagai Ibu muda, semakin sering saya membawanya dalam banyak aktivitas saya. Misalnya ke perpustakaan atau mencari data yang kala itu terkadang harus ke warnet. Pun ketika saya harus ke rumah sakit atau dokter di mana biasanya anak-anak sebaiknya tidak diajak. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Sasha juga seorang pembelajar cepat dan pengingat yang ulung. Dia masih ingat rumah sakit atau dokter yang pernah kami kunjungi padahal ketika itu usianya baru dua tahun. Dan tentu saja, sejak lama dia sudah hafal bagaimana prosedur bertransaksi via ATM.

Jika Naura di usianya yang belum genap satu tahun sudah hafal bagaimana ber-ATM ria, Sasha dengan logika berpikirnya yang masih polos dan sederhana rupanya sudah membangun persepsi sendiri tentang betapa baiknya mesin ajaib pemberi uang tersebut. Menurutnya, ATM-lah tempat kita mencari dan mendapatkan uang jika kita sedang tidak punya uang. Seperti sore itu ketika ia merengek minta ke tempat bermain di sebuah pusat perbelanjaan.

“Mama tidak punya uang Mbak” kilah saya mencoba menghindar.

“Mama bawa ATM?” tanyanya cepat.

“Nggak. Memang kenapa?” saya masih belum paham.

“Kalau Mama nggak punya uang, ya ambil di ATM” Ohhh, baru saya paham.

Perlahan kemudian saya jelaskan dengan bahasa yang semudah mungkin bisa dipahaminya bahwa untuk mendapatkan uang kita harus bekerja, bukan semata pergi ke ATM. Dan karena bekerja untuk mendapatkan uang itu tidak mudah, saya mengajaknya untuk lebih menghargai papanya sebagai kepala keluarga yang harus bekerja keras untuk memenuhi banyak kebutuhan dan permintaan keluarga termasuk dirinya. Karena Ayahnya bekerja itulah maka kantor memberinya uang yang dimasukkan ke tabungan sehingga kalau kita butuh uang, bisa ambil di ATM. Kurang lebih begitu. 
Supaya lebih paham, sesekali kami ajak dia ke kantor tempat Ayahnya bekerja. Dan agar ia tidak berpikir bahwa “bekerja” hanya di kantor, saya memperkenalkan pekerjaan-pekerjaan lain padanya.

“Bapak becak itu juga bekerja untuk mencari uang Sayang” jelas saya ketika kami melihat tukang becak yang agak sepuh melintas di depan kami dengan kayuhan yang semakin lemah.

“Kasihan tidak?” tanya saya mengajaknya berempati. Dia hanya mengangguk.

Agar Sasha lebih menghargai nilai uang dan bagaimana memperolehnya, saya juga mengajaknya “bekerja” untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Selain konsep One Wish Three Jobs di mana untuk satu permintaan ia harus melakukan tiga hal terlebih dahulu, hal lain yang juga harus dilakukannya adalah menabung. Selain melatihnya berhemat juga bisa melatih kesabarannya atas apa yang diinginkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;