Minggu, 13 Januari 2013

Membangun Kewirausahaan TKI

Persoalan tenaga kerja Indonesia (TKI) sempat menjadi buzzword dalam beberapa waktu terakhir. Namun, sejauh ini nampaknya belum ada langkah konkret dari pemerintah yang langsung mengena pada akar permasalahan. Dalam hal manajemen pengiriman TKI, sebenarnya pemerintah dapat belajar dari Filipina. Di negara tersebut, manajemen pengiriman tenaga kerja dilakukan profesional. Sejak persiapan pemberangkatan, selama bekerja, dan berada di luar negeri, hingga kembali ke negaranya.


Alhasil, tenaga kerja Filipina relatif memeroleh perlakuan dan gaji lebih baik dari TKI kita. Sebagai perbandingan, gaji pembantu rumah tangga (PRT) di Malaysia, gaji PRT Indonesia berkisar antara 125-175 dolar AS, sedangkan PRT Filipina antara 200-450 dolar AS. Proporsi TKI yang bekerja sebagai PRT adalah 85 persen dari total TKI, sedangkan Filipina hanya 6 persennya saja.

Selain memeroleh gaji yang relatif kecil dibandingkan tenaga kerja dari negara lain, banyak masalah yang menimpa TKI kita sebagai akibat dari kurangnya perhatian dan tanggung jawab pemerintah dan pihak terkait. Mulai dari penyiksaan, pelecehan seksual, pemerkosaan, beberapa bahkan baru diketahui telah meninggal dunia setelah sekian tahun tanpa kabar berita. Pengiriman tenaga kerja model begini tak ubahnya seperti perbudakan modern. Sejumlah manusia diekspor, entah bagaimana nasibnya kemudian pemerintah seolah tak mau repot dan ambil pusing. Padahal, data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) tahun 2010, hingga 1 November, kasus penganiayaan yang menimpa TKI cukup tinggi. Yakni 3.835 di 18 negara tujuan pengiriman. Penganiayaan terbanyak terjadi di Arab Saudi, 55 persen. Begitu juga dengan pelecehan seksual, mencapai 68 persen.

Batu Loncatan

Ketidakmampuan negara menyediakan lapangan pekerjaan adalah kenyataan yang memaksa sebagian rakyat Indonesia mencoba mencari peruntungan di negeri orang. Mereka berharap upaya ini bisa menjadi batu loncatan untuk memeroleh kehidupan lebih baik di kemudian hari. Sayang, kenyataan tak selalu sejalan dengan harapan. Banyak TKI yang pulang dalam kondisi cacat, trauma, hilang ingatan bahkan meninggal dunia. Banyak juga TKI yang bekerja bertahun-tahun tanpa menerima gaji.

Cerita tentang TKI memang tak selalu sedih. Ada sebagian yang sukses, namun mereka umumnya juga tak lepas dari masalah. Salah satunya, sindrom jika nanti kembali ke Tanah Air. Ada kekhawatiran tentang masa depan. Susahnya mencari pekerjaan di kampung halaman sementara semua barang mahal. Tak ada perhatian dari pemerintah yang bisa mereka harapkan. Kekhawatiran ini kadang menjadi alasan bagi sebagian TKI untuk tetap bekerja di luar negeri karena di sana kehidupan mereka lebih terjamin. Sebagian yang lain memutuskan kembali pulang ke kampung halaman dan melanjutkan hidup apa adanya sembari menghabiskan sisa keringat di negeri orang.

Bagi negara, pengiriman TKI sebenarnya juga bisa berfungsi sebagai batu loncatan. Tidak hanya untuk menyerap tenaga kerja di dalam negeri lalu menyumbang devisa melalui remitansi. Lebih dari itu, banyak manfaat lain yang sebenarnya bisa diperoleh jika pengiriman TKI dikelola secara baik dan bertanggung jawab. Salah satunya, menjadi breeding process of entrepreneurs. Proses penyemaian entrepreneur.

Wiraswastawan Tangguh

TKI umumnya telah memiliki modal dasar untuk menjadi entrepreneur, wiraswastawan sejati. Kemauan besar untuk berubah, mau bertindak nyata dan berani mengambil risiko mempertaruhkan nasib di negeri orang. Sebagian dari mereka mampu mengumpulkan modal cukup dan pengalaman berharga bekerja di luar negeri. Masalahnya justru ada pada mentalitas dan mindset mereka untuk menjadi entrepreneur. Sebagian besar TKI bekerja di sektor informal khususnya PRT, tak heran jika mindset mereka adalah ‘apa kata majikan’.

Seperti Filipina, proses menjadi entrepreneur bisa dimulai sejak tahap persiapan sebelum keberangkatan, perlindungan optimal selama di luar negeri hingga pelatihan dan pembentukan jaringan setelah kembali ke negara asal. Perlu ditanamkan pemikiran sejak dini bahwa pergi ke luar negeri tak hanya untuk bekerja, mengumpulkan modal lalu pulang dan menikmati hari tua apa adanya dengan mengandalkan tabungan selama bekerja di negeri orang. Sembari menyelam minum air. Di negara tempatnya bekerja, TKI dimotivasi untuk menimba ilmu sebanyak mungkin. Mempelajari prospek bisnis yang mungkin ditembusi dari dalam negeri hingga membangun jaringan dan relasi yang berpotensi menjadi mitra bisnis di kemudian hari.

Sekembalinya ke Tanah Air, yang sangat dibutuhkan TKI adalah pemberdayaan, pembinaan dan akses terhadap informasi dan modal melanjutkan hidup lebih baik dengan cara yang lebih baik. Mereka butuh kail, bukan ikan apalagi belas kasihan. Mereka juga tak butuh gelar pahlawan devisa. Jika saja 10 persen dari total 6 juta TKI kita saat ini bisa dicetak menjadi entrepreneur, ini tak hanya memutus lingkaran setan masalah TKI, memberantas kemiskinan dan mengurangi pengangguran secara signifikan namun juga sebagai modal tinggal landas dari negara pengekspor tenaga manusia menjadi negara digdaya.


Tulisan telah dimuat di Harian Surya, 14 Desember 2010

1 komentar:

  1. Thanks ya sob udah share , blog ini sangat bermanfaat sekali ..............





    agen tiket murah

    BalasHapus

 
;