Selasa, 22 Januari 2013

Kreatif Mengemas Nasionalisme

Foto : panduanwisata.com

KRISIS kebangsaan yang kita hadapi saat ini bisa jadi karena upaya penyampaian dan penanaman nilai-nilai nasionalisme yang dilakukan melalui cara-cara yang kurang kreatif. Terutama bagi anak-anak dan remaja yang cenderung mudah bosan. Padahal, mereka adalah generasi penerus bangsa yang menjadi benteng terakhir pertahanan nasionalisme.

Pemahaman dan penanaman semangat kebangsaan sebenarnya justru akan lebih efektif jika ditanamkan sejak dini. Menurut para ahli, anak terutama pada masa keemasan atau golden age (0-4 tahun), relatif mudah belajar dan menyerap segala sesuatu. Pada periode ini, anak mengalami lompatan kemajuan luar biasa baik secara fisiologis, psikis maupun sosialnya.

Mereka sangat potensial untuk belajar apa saja. Termasuk nasionalisme. Namun, periode ini juga masa yang kritis. Anak juga mudah menerima dan menyerap nilai-nilai globalisasi yang tak selalu baik. Beberapa bahkan sangat bertentangan dan mengikis semangat nasionalisme. Pada konteks ini, kita dihadapkan pada sebuah pertempuran nilai : nasionalisme vs globalisasi. Persaingan yang sangat ketat karena globalisasi hadir melalui cara-cara yang kreatif dan menyenangkan.

Nasionalisme dalam Rekreasi

Rekreasi adalah salah satu cara kreatif untuk menanamkan semangat nasionalisme sejak dini. Rekreasi identik dengan hal-hal menyenangkan. Sesuatu yang sangat disukai oleh anak-anak. Selain itu, rekreasi sendiri seperti telah menjadi kebutuhan primer masyarakat selain pangan, sandang dan papan.

Rekreasi tak lagi identik dengan masyarakat kelas menengah ke atas dan wilayah perkotaan. Fenomena ini bisa menjadi solusi alternatif untuk mengemas nasionalisme secara kreatif. Berharap, melalui cara yang menyenangkan ini, penanaman nilai dan semangat nasionalisme khususnya pada anak bisa lebih efektif.

Banyak ragam dan bentuk nasionalisme yang bisa dikemas secara kreatif melalui wahana rekreasi. Dibandingkan metode konvensional yang lebih menekankan pada aspek teoritis, nasionalisme dalam wahana rekreasi bersifat lebih kontekstual dan aplikatif. Melalui wahana rekreasi, anak-anak bisa mengenal keragaman dan kekayaan Indonesia-nya melalui berbagai permainan dan fasilitas yang tersedia.

Dari sana diharapkan akan terpupuk rasa memiliki dan bangga. Melalui berbagai aneka permainan dan fasilitas yang ada, anak juga bisa bergerak aktif secara fisik dan emosional. Ini sangat baik bagi perkembangan jiwanya. Interaksi yang lebih intens dengan alam, baik flora maupun fauna, akan memunculkan pribadi-pribadi yang ramah dan peduli lingkungan.

Sayangnya, wahana rekreasi juga menjadi sarana yang cukup efektif untuk mengusung nilai-nilai globalisasi. Salah satunya, segala yang berasal dari barat khususnya Amerika, adalah yang terbaik sehingga patut dipuja dan dijadikan kiblat. Tanpa bekal nasionalisme yang baik, anak-anak akan merasa inferior pada negerinya sendiri. Beruntung, kita sudah memiliki wahana rekreasi yang berciri khas Indonesia (truly Indonesia) namun berkelas internasional yaitu ANCOL.

Truly Indonesia


Dengan semangat menjadi wahana rekreasi terkemuka di Asia Pasifik, Ancol tampil memukau dengan tetap mempertahankan ciri khas Indonesia dan warna Asia. Ada berbagai permainan dan hiburan yang bisa dinikmati di sana. Mulai pelbagai hal yang berhubungan dengan alam, hiburan ketangkasan pelbagai jenis hewan, di air, udara maupun darat.

Ada pula hiburan hewan dan manusia di pelbagai sudut. Ketika negara lain bermain dengan sarana beraroma Paman Sam, Ancol hadir dengan permainan ketangkasan hewan, kolam renang yang menyenangkan, dunia fantasi yang elegan, permainan air dan pengenalan mamalia laut yang memukau. Sesuatu yang membuatnya unik dan terbukti mampu bersaing dengan sejumlah wahana hiburan kelas dunia yang mengusung nuansa kebarat-baratan.

Ancol dengan berbagai fasilitas dan permainannya yang berorientasi pada pelestarian lingkungan, kecintaan terhadap alam serta pelestarian seni dan budaya bangsa, patut dibanggakan karena Ancol telah diakui dunia sebagai salah satu yang terbaik.

Ancol juga berkomitmen hadir untuk semua, bukan untuk kelas atau kalangan tertentu. Dengan tarif yang relatif murah, Ancol bisa dinikmati oleh semua kalangan. Di sini kita temukan kebersamaan, satu bentuk nasionalisme masa kini yang kian memudar. Antusiasme masyarakat juga sangat luar biasa.  Jumlah pengunjung Ancol dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Pada tahun 2009 lalu, total pengunjung Ancol tercatat 14,1juta jiwa.  Mengalami kenaikan pesat dari jumlah pengunjung pada tahun 2005 yang “baru” mencapai 10,3 juta orang.

Tak hanya sebagai wahana rekreasi, Ancol yang luasnya mencapai 552 hektar ini juga telah menjadi rumah bagi para seniman dan pekerja seni untuk terus berkreasi dan melestarikan budaya bangsa. Sebuah cara konkrit untuk tetap melestarikan budaya bangsa yang kini sudah di ambang kepunahan. Ancol juga memberi perhatian istimewa pada anak. Misalnya, secara rutin setiap 2 (dua) tahun sekali Ancol dijadikan sebagai pusat peringatan Hari Anak Nasional (HAN). Sebuah penghargaan yang memotivasi anak untuk lebih mengenal, merasa memiliki dan bangga pada negerinya.

Ancol adalah mimpi semua anak Indonesia. Mimpi yang memupuk rasa kebanggaan dan sense of belonging pada ikon kebanggaan negeri. Benih-benih nasionalisme telah tersemai walau banyak anak Indonesia belum bisa datang dan menikmatinya secara langsung. Seperti kata Benedict Anderson, nasionalisme merupakan suatu kesadaran sebagai bangsa yang disertai oleh hasrat untuk memelihara, melestarikan dan memajukan identitas, integritas serta ketangguhan bangsa tersebut.

Sense of belonging dan nasionalisme anak-anak Indonesia terhadap wahana rekreasi kebanggaan negeri ini akan semakin nyata bila mereka memiliki kesempatan untuk datang langsung dan menikmati segala permainan dan hiburan yang ada di sana. Melalui sebuah reward bagi anak Indonesia berprestasi di seluruh penjuru negeri, Ancol bisa mewujudkan impian ini. Semoga. 


# Tulisan ini menjadi Pemenang Harapan 2 Anugerah Jurnalistik Ancol 2010

2 komentar:

 
;