Rabu, 27 Februari 2013

Koran “Kadaluarsa” yang Mencerdaskan

Sumber Foto : Kompasiana

Sedikit berbeda dengan bacaan lain seperti buku dan majalah, koran apalagi kalau kita berlangganan, akan cepat menggunung. Lalu apa yang terbersit dalam pikiran kita ketika koran-koran itu semakin menyesakkan rumah? Saya menyebut koran-koran itu dengan sebutan “Koran Kadaluarsa”. Karena keterbaruannya yang cepat berganti.

“Diloakkan saja Mbak, lumayan lho. Harganya Rp 2.500; per kilo” ini dia komentar yang sering saya dengar dari orang-orang yang melihat tumpukan koran di rumah saya.

Diloakkan???

Alhamdulillah tidak pernah terpikirkan. Bukannya tidak butuh dan tidak menghargai uang. Saya juga sadar, perjalanan akhir dari koran-koran itu biasanya memang menjadi bungkus cabai, bawang, mungkin juga ikan pindang atau nasi kucing. Tapi saya ingin Koran-koran itu melalui perjalanan yang lebih panjang, dan bermanfaat tentunya, sebelum benar-benar diloakkan. Paling tidak, saya ingin menukarnya dengan sesuatu yang lebih berharga dari nilai Rp 2.500; per kilogramnya. But How?

Awalnya, ketika koran mulai menumpuk, saya menaruhnya di pagar rumah supaya diambil oleh pemulung. Tapi bukan sembarang pemulung. Biasanya Koran-koran itu baru saya taruh di pagar menjelang pemulung yang sudah saya tandai akan datang. Pemulung yang saya prioritaskan adalah pemulung perempuan yang sudah sepuh. Biasanya, mungkin karena kalah cepat dengan pemulung laki-laki apalagi yang masih muda, pemulung perempuan yang kadang sudah renta itu sering tidak mendapat apa-apa selain tempat sampah yang sudah diacak-acak oleh pemulung lain atau kucing yang mencari sisa-sisa tulang.

Melihat wajah semangat di wajah pemulung saat mendapati tumpukan Koran rasanya jauh lebih berharga dari sejumlah uang jika Koran itu saya loakkan. Bagi mereka, para pemulung itu, tumpukan Koran, kertas atau benda-benda lain yang bisa jual kembali, tak ubahnya seperti menemukan harta karun.

Tapi, beberapa bulan kemudian, Koran-koran itu tak lagi saya letakkan di pagar. Dan para pemulung hampir tak pernah lagi menemukan “harta karun”. Kemana Koran-koran itu?

Secara rutin saya membawa koran-koran itu ke dua desa yang berbeda, saya berikan sebagai oleh-oleh utama ketika bersilaturahmi dengan kerabat di sana. Oleh kerabat saya, sebagian koran itu di bawa ke sekolah tempatnya mengajar. Lokasi sekolah yang cukup pelosok membuat guru-gurunya ketinggalan informasi. Gaji yang konon hanya Rp 200 ribu perbulan, tidak memungkinkan mereka untuk membeli koran. Cukup untuk makan saja sudah sangat bersyukur. Ke sanalah akhirnya sebagian koran-koran kadaluarsa saya transit sebelum melanjutkan perjalanannya ke tukang loak.

Sebagian yang lain, menjadi santapan orang-orang desa yang haus informasi. Mereka sebenarnya sangat butuh koran tapi harga sebuah koran baru hampir sama dengan uang lauk pauk atau uang jajan anak mereka sehari. Yang bisa mereka nikmati hanyalah televisi dengan sajian sinetron tak bermutu hampir sepanjang waktu. Saat koran saya datang, sejenak televisi dimatikan. Dan orang-orang desa yang sebagian buta aksara itu, dari balita hingga lansia, mengerumuni koran yang sedang dibaca oleh salah satu dari mereka yang bisa membaca. Pemandangan yang sangat mengharukan.

Sebagian koran yang lain terus menumpuk di rumah kakek saya di desa. Rumah kakek saya kemudian menjadi jujukan para tetangga yang ingin baca koran selepas sholat Ashar. Sebagian dari mereka adalah buruh tani, kuli bangunan atau tukang becak. Melihat mereka membaca koran kadaluarsa saya, lagi-lagi ada perasaan bahagia yang tak terkatakan.


6 komentar:

  1. Alhamdulillah... LANJUTKAN!!!!!
    Ilmu yang bermanfaat akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat..amiinn.

    BalasHapus
  2. saya tahu sekarang kenapa mba ririn sering menghilang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan apakah jawaban yang kau dapat Mbak? :)

      Hapus
  3. baca artikelnya, jadi merinding saya,,, artikelnya sangat menginspirasi sekali,,

    BalasHapus

 
;