Senin, 28 Januari 2013

Berkompetisi, Siapa Takut?

Foto : dari sini
Ada banyak cara dan sarana untuk mengaktualisasikan diri dalam dunia tulis menulis. Untuk yang suka fiksi, bisa mengaktualisasikannya dalam bentuk cerpen atau novel. Mengirimkannya ke media atau menerbitkannya menjadi sebuah buku. Untuk yang suka menulis artikel ilmiah populer, media cetak memberi ruang cukup terbuka untuk beraktualisasi diri. Ada satu sarana lagi yang bisa dimanfaatkan baik untuk yang suka fiksi atau tulisan ilmiah populer, yakni kompetisi menulis. Siapapun bisa menjajal kemampuan diri dalam menulis melalui kompetisi ini.

Anda yang hobi menulis, atau Anda yang bingung tidak tau harus ke mana mengirimkan tulisan untuk mendapat apresiasi, atau Anda sekalipun yang merasa tak bisa menulis namun ingin belajar menulis, bisa menjadikan ajang ini sebagai sarana belajar, aktualisasi sekaligus apresiasi diri. Bagi yang memang hobi dan sudah bisa menulis, mungkin tidak terlalu sulit untuk melangkah sedikit lagi menuju arena kompetisi. Namun bagi yang baru mulai belajar dan menemui sekian kendala untuk menulis, kompetisi menulis mungkin terasa begitu utopis. Bagaimanapun, jangan takut dan mudah menyerah. Tidak ada yang tidak mungkin meski sulit untuk mewujudkannya.


Ajang yang satu ini memang belum sepopuler kompetisi lain seperti dalam bidang musik ataupun olahraga. Terlebih dalam pandangan generasi muda. Kompetisi menulis masih dianggap sangat prestisius hanya untuk kalangan yang berintelektualitas tinggi. Mindset inilah yang menjadi salah satu hambatan utama kurang membludaknya minat masyarakat seperti pada kompetisi lain. Tidak mengherankan jika dalam beberapa kompetisi menulis yang pernah saya ikuti, peserta dan pemenangnya ya itu-itu saja. Sayang, padahal banyak manfaat dan keuntungan yang bisa kita peroleh di dalamnya.

Dalam rangka mengembangkan budaya dan kemampuan menulis, kompetisi menulis merupakan sarana yang tepat untuk belajar sekaligus untuk melihat kemajuan proses belajar itu sendiri. Berbeda dengan jika mengirimkan tulisan ke media massa atau penerbit, umumnya kita harus menunggu berbulan-bulan bahkan bisa satu tahun lamanya untuk mendapat kepastian apakah tulisan kita layak muat atau tidak. Dalam kompetisi menulis, cukup 1-2 bulan bahkan terkadang hanya dalam 2 minggu kita akan tau bagaimana nilai tulisan kita. Jika menang, berarti tulisan kita bagus. Alhamdulillah.

Tapi jika kalah alias tidak menang, berarti kita harus belajar lebih baik lagi. Dari segi honor, nominal yang kita dapatkan dari lomba menulis jika beruntung, bisa sepuluh kali lipat atau bahkan lebih dari honor yang kita dapat dari pemuatan tulisan di media cetak. Manfaat lain dari kompetisi menulis, khususnya karya tulis ilmiah populer, adalah melatih kita bersikap kritis dan inovatif dalam menyikapi perubahan dan persoalan aktual yang terjadi di sekitar kita.

Tidak menutup kemungkinan, pemikiran dan ide yang kita sumbangkan dapat memberi kontribusi dalam mencari solusi alternatif. Lebih spesifik terkait dengan upaya membangun mentalitas dan budaya konstruktif, kompetisi menulis dapat mengakselerasi terciptanya budaya menulis. Budaya menulis tidak akan terbangun kokoh tanpa ditunjang oleh budaya membaca yang baik. Dua budaya dapat terbangun sekaligus. Di sisi lain, kompetisi akan memberi pengaruh positif terhadap terbentuknya mentalitas berani bersaing. Suatu karakter yang harus dimiliki oleh masyarakat suatu negara yang tidak ingin tergilas roda globalisasi.

3 komentar:

  1. Susah-susah gampang memang dengan yang namanya menulis. Ide sih ada, tapi sulit mengaktualisasikannya.

    O iya, kunjungi balik blog saya ya, klik nama saya yang itu aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. menulis di blog adalah salah satu bentuk aktualisasi nyatanya :) btw, terimakasih atas kunjungannya....

      Hapus
  2. Makasih mbak....moga ini jadi motivasi bagiku n penulis lainnya....diintip juga blokku ya mbak...tolong di komen tulisanku tuk perbaikan...(http://www.korsela-gadisku.blogspot.com)

    BalasHapus

 
;