Senin, 03 Desember 2012

Menyongsong Kebangkitan Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif telah menjadi tren di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Semakin banyak kota yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai ujung tanduk promosi pariwisata sekaligus katalisator pengembangan ekonomi daerah.Fenomena ini sejalan dengan teori ekonomi kreatif yang dikemukakan Richard Florida, bahwa masyarakat dunia saat ini tengah memasuki transformasi besar dalam ekonomi, yaitu ekonomi kreatif. Oleh karena itu, kota, kabupaten, atau provinsi tidak cukup hanya mengandalkan insentif ekonomi bila ingin menarik investasi di wilayah mereka. Kota-kota harus lebih menumbuhkan ”iklim orang-orang” daripada iklim bisnis (Florida, 2004).

Menilik dari segi potensi, Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk menjadi pemain utama dalam persaingan ekonomi kreatif. Beragam kekayaan seni budaya dan sejumlah kekayaan alam yang dimiliki Indonesia ditambah dengan jumlah penduduk yang sangat besar (sekitar 230 juta jiwa) merupakan fondasi yang sangat baik bagi tumbuhnya industri kreatif yang kokoh dan prospektif. 
 
Indikasi itu telah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Meski terbilang masih kalah jauh dengan negara-negara maju, perkembangan dan kontribusi ekonomi kreatif di Indonesia cukup menggembirakan. Pendapatan ekonomi kreatif meningkat dua kali lipat dari Rp 257 triliun pada 2006 menjadi Rp 486 triliun pada 2010. 
 
Peningkatan ini memengaruhi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari 7,4 persen menjadi 7,7 persen. Sementara itu dari segi ekspor, ekonomi kreatif juga meningkat sebesar 54,12 persen dari US$ 85 miliar pada 2006 menjadi US$ 131 miliar pada 2010. 
 
Multiflier effect industri kreatif juga terlihat cukup signifikan terutama terhadap pengembangan bisnis usaha kecil menengah (UKM) di mana sebagian besar UKM di Indonesia bergerak di industri kreatif.Dengan begitu, industri ekonomi kreatif telah berkontribusi dalam mengurangi tingkat kemiskinan dan menekan jumlah pengangguran. 
 
Studi Departemen Perdagangan (2007) menyebutkan bahwa pada periode 2002-2006, industri kreatif mampu menyerap tenaga kerja rata-rata sebesar 5,4 juta pekerja, dengan produktivitas mencapai Rp 19,5 juta per pekerja per tahun. Nominal ini lebih tinggi dari rata-rata nilai produktivitas nasional yang mencapai kurang dari Rp 18 juta.
 
Selain berkontribusi sangat signifikan secara ekonomi, ekonomi berbasis ide kreatif ini juga dianggap tidak terlalu bergantung pada sumber daya alam tak terbarukan sehingga bisa dikatakan sebagai industri yang ramah lingkungan. 

Selain itu, masih ada sejumlah nilai strategis lain bagi Indonesia terutama bagi pengembangan potensi lokal. Industri kreatif dapat menjadi sarana untuk meningkatkan identitas kebudayaan, memopulerkan sekaligus melestarikannya. Pengemasan yang lebih kreatif akan membuat budaya lokal Indonesia lebih mudah dikenal tidak hanya hingga ke seluruh dunia namun juga hingga generasi berikutnya. 

"Trend Setter" atau "Follower"?
 
Industri kreatif sangat mengandalkan kreativitas, keahlian, dan bakat seseorang. Artinya, sumber daya manusia menjadi hal terpenting untuk menciptakannya. Dalam konteks ini, negara, kota, bahkan individu sekalipun bisa menjadi trend setter dengan produk ekonomi kreatif yang bernilai ekonomi tinggi. 
 
Sayangnya, kreativitas sangat mudah ditiru sehingga bisa memunculkan "followers" di bidang yang sama. Kondisi dan karakter ini kemudian memunculkan iklim persaingan yang tinggi, risiko, dan margin yang juga tinggi, yang pada akhirnya jika tak mampu mempertahankan diri sebagai yang paling kreatif, bisa saja sebuah produk ekonomi kreatif terkalahkan oleh ide lain yang lebih kreatif.
Itulah mengapa salah satu ciri utama dari ekonomi kreatif selain mudah ditiru adalah umumnya tidak berlangsung lama atau berumur singkat. 
 
Bagaimana mudahnya sebuah ide kreatif ditiru bisa kita lihat dalam perkembangan fashion carnival sebagai salah satu produk ekonomi kreatif yang utama di Indonesia saat ini. Membahas tentang tren fashion carnival, literatur akan merujuk Kota Jember sebagai kota pertama di Indonesia yang mengembangkan konsep tersebut dengan Jember Fashion Carnival atau JFC-nya. 
 
JFC adalah catwalk jalanan sepanjang 3,6 kilomenter dengan memanfaatkan bahan-bahan alam yang ada di sekitar. Tak hanya sekadar pertunjukkan yang mengibur, JFC juga mencoba menyampaikan pesan kritis dalam setiap peragaannya terkait dengan isu-isu global yang tengah berkembang. 
 
Dengan jumlah penonton mencapai ratusan ribu setiap pagelaran tahunannya, JFC berhasil mendongkrak pamor Kabupaten Jember menjadi kabupaten ketujuh dari 38 kota/kabupaten di Jawa Timur yang memiliki kunjungan wisata cukup tinggi pada 2011. 
 
Kesuksesan ini tentu membuat banyak kota di Indonesia ingin mengembangkan konsep serupa. Sejumlah kota telah dengan rutin menggelar acara yang hampir sama dalam beberapa tahun terakhir.
Jakarta misalnya, hanya butuh dua tahun untuk mengembangkan konsep yang hampir sama. Berbeda dengan JFC yang murni menampilkan fashion dalam pagelarannya, Jakarta memadukan mode dan kuliner sehingga tercipta kegiatan tahunan bernama Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) yang rutin dihelat setiap tahun sejak 2004. 
 
Tak mau ketinggalan, Kota Solo segera menyusul dengan konsep yang lagi-lagi hampir sama, yakni dengan menggelar Solo Batik Carnival atau SBC, secara rutin sejak 2008. Mencoba sedikit membedakan diri dengan dua pendahulunya, SBC menjadikan batik sebagai bahan utama pembuatan kostum yang digunakan oleh peserta. 
 
Kota lain yang juga tak mau ketinggalan adalah Banyuwangi dengan Banyuwangi Ethno Carnival atau BEC pada 2011. Berbeda dengan karnaval di kota lain, BEC mengangkat tema etnik. Sementara itu, Festival Krakatau yang telah rutin digelar sejak 22 tahun juga mulai menonjolkan fashion dalam setiap perayaan tahunannya. 
 
Fenomena di atas menggembirakan di satu sisi, namun di sisi lain perlu diimbangi dengan pengembangan ekonomi kreatif yang lain. Karena, fashion carnival seyogianya hanya satu dari sekian banyak bentuk ekonomi kreatif yang mungkin dikembangkan oleh daerah/kota di Indonesia. Dengan kalimat lain, terdapat kesempatan besar untuk menjadi trend setter sekaligus yang terdepan bagi setiap daerah/kota. 
 
Sebagaimana telah dikemukakan oleh Florida, kota, kabupaten, atau provinsi tidak cukup hanya mengandalkan insentif ekonomi bila ingin menarik investasi di wilayah mereka, kota-kota harus lebih menumbuhkan ”iklim orang-orang” daripada iklim bisnis. Inilah pilar utama dan pertama yang dibutuhkan untuk menyongsong kebangkitan ekonomi kreatif di Indonesia. (*)


Tulisan telah dimuat di Rubrik Opini Sinar Harapan, edisi Kamis, 18 Oktober 2012 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;