Selasa, 11 Desember 2012

MENUNGGU......

File:Lake mapourika NZ.jpeg
Pagi berkabut di Mapourika, New Zealand, sumber : dari sini

Cerita Satu :

Lima tahun mereka menunggu, hanya untuk bisa berkumpul sebagai keluarga yang utuh. Tinggal satu rumah, dan melakukan aktivitas bersama. Bukan cita yang terlalu istimewa karena setiap yang menikah pasti menginginkannya. Banyak yang langsung mendapatkan begitu ijab kabul terikrar, tapi mereka harus menunggu. Menunggu cukup lama.

 "Rumah petak berkamar satu tak apalah" pinta mereka sebelum menikah.

"Di gang sempit dan perkampungan padat juga tak apa" tawar mereka ketika sudah menikah. Waktu terus bergulir, mulai berbilang hari, minggu, bulan bahkan tahun, harapan itu tak juga Allah kabulkan. Hingga sepasang putra-putri mereka lahir, mereka masih harus hidup bersama orang tua masing-masing.

Kurangkah mereka berusaha? Tidak. Berbagai kerja serabutan bahkan mereka lakukan untuk sebuah rumah kontrakan impian. Kurangkah mereka berdoa? Tidak juga. Tapi Allah masih meminta mereka untuk "menunggu".

Mereka hanya bisa mengulum rindu yang hampir tak tertahan, sabar yang kian menipis, setiap kali melihat keluarga muda seperti mereka hidup bersama layaknya sebuah keluarga. Bertahun-tahun. Tapi bukankah Allah Maha Mendengar doa? Inilah keyakinan mereka.

Lima tahun keluarga kecil itu menunggu sambil terus berikhtiar dan berdoa. Atas lima tahun penantian itu, rumah petak berkamar satu di gang sempit di perkampungan padat yang mereka pinta, Allah ganti dengan sebuah apartemen cantik dengan dua kamar di salah satu sudut kota Sidney. Melalui sebuah beasiswa yang tak pernah direncanakan sebelumnya, keajaiban itu menyapa. Dan mereka dapatkan lebih dari yang mereka pinta......

(Hmmmm, andai dulu saat mereka meminta rumah kontrakan kecil dikabulkan, mungkin mereka takkan pernah sampai dan tinggal di Negeri Kangguru, wallahua'lam. Ada hikmah dalam setiap peristiwa)


Cerita Dua :

Dua belas tahun ia menunggu, untuk bisa bertemu pasangan jiwanya. Ia mulai membuka hati, memantapkan doa dan berikhtiar untuk menikah di awal usia dua puluh. Namun hingga kepala tiga lebih, pasangan jiwa itu tetap misteri.

Teman-teman sebaya tidak hanya hampir semuanya menikah, mereka bahkan sudah akan mengantarkan anaknya ke sekolah. Sedih hatinya, dan sangat bosan untuk menjawab pertanyaan : "Anakmu sudah berapa?". Bagaimana mau menceritakan tentang anak, menikah saja belum. Jangankan menikah, punya calonpun belum.

Ia terus menunggu dengan hati yang coba sebisa mungkin selalu berhusnudzhon. Pertahanannya hampir runtuh ketika satu per satu dari empat adiknya meminta ijin untuk mendahuluinya. Andai hidup berjalan seperti yang diinginkannya.....

Tapi bukankah setiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan? Bukankah "menunggu" hanya ujian untuk mengukur sebesar apa kita benar-benar menginginkan dan akan memperjuangkan apa yang kita inginkan? Bukankah Allah maha memperhitungkan setiap detik kesabaran?

Saya hanya bisa tertegun ketika akhirnya kabar bahagia itu tiba. Setelah lebih dua belas tahun ia menunggu, akhirnya ia temukan pasangan jiwanya. Seorang ikhwan, salah satu laki-laki terbaik yang pernah saya ketahui sepanjang hidup saya. Sebuah "imbalan" yang sepadan untuk kesabarannya menunggu selama dua belas tahun.
.......

Barokallah, untuk yang sudah memeluk mimpinya.
Semoga kesabaran senantiasa terlimpahkan kepada mereka yang masih harus menunggu.....:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;