Rabu, 19 Desember 2012

Masalah yang Dialami Anak TKW

Sumber foto dari sini

BAYU Insani, seorang penulis yang bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Hong Kong, sering menulis status di jejaring sosial, Facebook, tentang sikap pesimisnya jika kembali ke Tanah Air. Apa-apa mahal, susah mencari pekerjaan dan tak ada yang bisa diharapkan pada pemerintah selain hanya memberi gelar ”pahlawan devisa”.

Bayu tidak hanya mengungkapkan rasa pesimisnya, namun juga acapkali mewakili kegundahan hati teman-teman lain sesama pekerja migran, terutama TKW yang bekerja di Hong Kong. Status Bayu biasanya dibanjiri banyak komentar, baik yang merasa senasib maupun yang mencoba memotivasi agar optimis menatap masa depan jika nanti kembali ke Tanah Air.

Sikap pesimis itu muncul dari banyak cerita mantan buruh migran yang kembali ke Tanah Air. Mimpi buruk yang selama ini mereka takutkan ternyata teramat nyata adanya. Ya, apa-apa di Tanah Air mahal, susah mencari pekerjaan dan nyaris tak ada yang bisa diharapkan dari pemerintah, misalnya  pinjaman modal khusus TKI atau kuota menjadi PNS khusus bagi mantan TKI. Semua ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan para TKI/TKW saat masih bekerja di Hong Kong, walau kebanyakan mereka hanya berstatus ”babu”. Berbagai fasilitas mudah didapat dan lengkap, mau apa-apa mudah, gaji lumayan, perlindungan negara tempatnya bekerja juga cukup baik.

Atas perbedaan yang seperti langit dan bumi ini, banyak mantan TKI/TKW merasa menyesal kembali ke Tanah Air. Akibatnya, Bayu dan dan kawan-kawan yang saat itu belum habis masa kontraknya semakin merasa pesimis. Mereka lalu saling mengingatkan untuk berpikir masak-masak sebelum memutuskan kembali ke Tanah Air agar tak menyesal.

Dampak

Memperpanjang kontrak kerja seringkali menjadi pilihan ketika TKI/TKW merasa belum siap jika memutuskan berhenti bekerja sebagai TKI/TKW dan kembali ke Tanah Air. Padahal, sebagian dari mereka berstatus sebagai ibu rumah tangga yang sudah sekian tahun bekerja di negeri orang. Beberapa di antaranya bahkan ada yang meninggalkan putra/putrinya sejak usia balita hingga remaja.

Banyak anak TKW harus melewati masa keemasan atau golden age (0-5 tahun) tanpa kehadiran, kasih sayang dan bimbingan seorang ibu. Padahal, periode ini merupakan masa paling kritis dan menentukan bagi anak. Menurut Dr Benyamin S Bloom, ahli pendidikan dari Universitas Chicago dalam Stability and Change in Human Characteristics, sekitar 50% potensi inteligensi anak sudah terbentuk pada usia 4 tahun dan mencapai 80% saat berusia 8 tahun dari total kecerdasan yang akan dicapai pada usia 18 tahun.

Para ahli psikologi juga menyatakan bahwa masa usia dini (0-4 tahun) merupakan periode keemasan (golden age) dalam proses perkembangan anak. Pada usia ini, anak-anak mengalami lompatan kemajuan luar biasa, baik secara fisiologis, psikis maupun sosial, sehingga mereka sangat potensial untuk belajar apa saja. Pada masa ini pula tidak kurang dari 100 miliar sel otak siap untuk distimulasi agar kecerdasan seseorang dapat berkembang secara optimal di kemudian hari. Berbagai penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa usia 4 tahun pertama merupakan masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan anak dibandingkan masa-masa sesudahnya. Artinya, jika pada usia tersebut anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka potensi tumbuh kembang anak tidak akan teraktualisasikan secara optimal (Sutaryati, 2006:10).

Fenomena meningkatnya ibu bekerja sebagai TKW, akan sangat berpengaruh pada anak-anak yang mereka tinggalkan. Betapa pun mungkin ada nenek, bibi atau bahkan ayah dan seluruh anggota keluarga lain yang mencurahkan segenap kasih sayang dan perhatian, Kehadiran ibu takkan pernah tergantikan oleh siapa pun. Apalagi jika ternyata kasih sayang dan perhatian pengganti dan pelengkap itu tidak optimal atau justru sebaliknya, pengaruhnya akan sangat besar terhadap psikologi dan masa depan anak, bahkan masa depan bangsa. Dengan semakin banyaknya ibu yang menjadi TKW, masa depan bangsa ini dibangun di atas fondasi yang keropos.

Masalah serius tidak hanya dialami oleh anak-anak TKI yang ditinggal orang tuanya bekerja di luar negeri. Mereka yang lahir dan terpaksa tinggal bersama orang tuanya di sejumlah daerah perbatasan atau perkampungan TKI di luar negeri juga mengalami masalah yang sama. Diperkirakan sekitar 40.000 anak TKI di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Banyak pula yang bahkan tidak mengenal Indonesia-nya, baik dari segi bahasa maupun budaya. Kalau sudah begini, hampir pasti benih nasionalisme akan sulit bersemai di hati mereka. Sebuah ancaman lost generation yang cukup serius.

Regenerasi

Kompleksnya persoalan TKI yang dampaknya mulai merambah kehidupan dan masa depan anak-anak mereka, patut mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah. Pendidikan adalah salah satu yang utama. Selain merupakan hak dasar warga negara, pendidikan juga merupakan cara efektif untuk memperbaiki kualitas hidup keluarga TKI agar tidak terjadi regenerasi TKI. Kita semua tidak ingin Indonesia selamanya menjadi pengekspor tenaga kerja murah ke luar negeri.

Banyak anak TKI yang karena faktor ekonomi dan kurangnya kesadaran tidak bisa mengenyam pendidikan yang layak. Padahal pendidikan bisa menjadi tiket bagi mereka untuk memperbaiki taraf hidup. Di sinilah perlunya perhatian lebih serius dari pemerintah dan semua pihak untuk menyelenggarakan pendidikan yang memadai dan mudah diakses oleh anak dan keluarga TKI, dari jenjang pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Pemerintah seharusnya menjamin tidak ada anak TKI yang putus sekolah apalagi sampai mengalami gizi buruk. Karena bagaimanapun, mereka adalah bagian dari generasi masa depan bangsa. Apalagi dengan cucuran darah, keringat dan air mata, orang tua mereka telah menyumbang devisa dalam jumlah yang signifikan pada negara.

Selain pendidikan, pemerintah juga harus menuntaskan akar masalah dari persoalan buruh migran, yakni tersedianya lapangan kerja yang memadai bagi sebanyak mungkin warga negara, sehingga mereka tidak perlu harus menyabung nyawa hingga ke negeri orang ataupun enggan pulang ke Tanah Air meski masa kontraknya telah habis. 
Telah dimuat di Rubrik Perempuan Suara Merdeka,
Edisi Rabu, 20 Juni 2012

2 komentar:

  1. Namamu semakin berkibar di media mb Ririn :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayak bendera saja Mbak :) btw, ini tulisan lama Mbak Nurul, hanya mengarsipkan di blog saja...

      Hapus

 
;