Jumat, 07 Desember 2012

Kantong Doraemon dan Mesin Pencari Otomatis

Sembari menunggu suami memesan makanan, saya memperhatikan dua anak kecil yang membawa nampan menuju meja di seberang. Usia mereka kira-kira 8 dan 10 tahun. Seorang bapak yang kira-kira usianya lima tahun di atas saya mengikuti sambil membawa dua botol minuman.

“Kenapa hanya pesan dua makanan?” pertanyaan pertama saya dalam hati.

”Kemana ibunya ya?” pertanyaan yang kedua.


Saya lebih terbiasa melihat anak-anak makan di luar tanpa ayahnya daripada tanpa ibunya. Apalagi, ini waktunya makan malam. Mungkinkah ibunya masih belum pulang kerja? Tanya saya lagi, masih di dalam hati.

“Coba tebak kenapa ayahnya tidak memesan makanan juga?” tanya saya pada suami begitu ia sampai di meja.

”Karena ayah adalah tempat penampungan sisa makanan!” jawab kami hampir bersamaan sambil tertawa.

”Ayah juga kantong doraemon!” tambah saya. Suami terlihat sedikit tersindir di balik senyumnya. Ya, inilah fungsi barunya setelah menyandang predikat sebagai ayah : Si Kantong Doraemon.

Setiap kami akan bepergian, saya yang malas membawa tas menitipkan hampir semua barang ke kantong-kantongnya. Mulai handphone, kunci rumah, pampers dan celana si kecil. Kadang juga struk tagihan listrik dan air, permen, coklat. Atau kantong plastik kalau kebetulan kami akan berbelanja. Padahal ia sendiri membawa dompet, handphone kadang juga flashdisk. Barang-barang sebanyak itu akan tersebar di kantong celana, jaket, kadang juga di saku lutut. Alhamdulillah suami tidak pernah mengeluh. Pun ketika ia lupa mengeluarkan sebagian barang-barang tersebut dan terbawa ketika sore harinya berangkat ke kantor. Pernah celana dalam si kecil dan pampersnya terbawa.

Aha.... lalu bagaimana peran unik saya sebagai ibu? Ternyata saya kebagian tugas sebagai mesin pencari otomatis.

Suami dan putri sulung saya, Sasha, mudah sekali lupa menaruh barang-barang. Sasha misalnya, sebelum diberlakukan peraturan harus menaruh barang pada tempatnya begitu selesai digunakan, acapkali menjadikan saya sebagai mesin pencari otomatisnya. Barangnya yang sering hilang adalah kaos kaki dan sepatu. Akibatnya, sering terjadi keributan kecil setiap mau berangkat sekolah yang ujung-ujungnya sering membuatnya terlambat. Kaos kaki dan sepatunya sering berpisah. Satu ada di kamar, yang lain di rak sepatu di dapur. Kadang yang satu di dekat lemari, yang lain di dekat tempat tidur. Dia juga sering kehilangan jilbab dan jaketnya.

Suami tak kalah pelupa. Ah, mungkin ada faktor genetis di antara mereka.

Sebagai mesin pencari otomatis, saya memang cukup bisa diandalkan. Hampir 90 persen dari barang yang mereka cari bisa saya temukan. Ada rasa bangga ketika kita bisa diandalkan oleh orang-orang tercinta saat mereka membutuhkan. Hanya saja, kadang ini juga menjengkelkan. Mereka sering meminta tolong pada saat yang kurang tepat dan mengganggu : saat saya duduk manis di depan komputer, saat ingin makan siang dengan tenang, saat ingin baca koran dengan penuh konsentrasi atau saat saya ingin facebookan dengan khusyu':) Dampak lain yang juga mungkin kurang baik, mereka menjadi kurang disiplin paling tidak terhadap barang-barangnya sendiri dan kurang mandiri karena banyak bergantung kepada orang lain.
.........

Dugaan kami benar, si bapak di seberang kami sepertinya sengaja tidak memesan makanan meski ia kelihatan lapar juga. Anak-anak biasanya hanya makan sedikit dan ia, seperti suami saya dan banyak bapak lainnya, akan menjadi tempat penampungan sisa makanan yang tidak habis. Subhanallah, cintamu Ayah!

Saya lihat si bapak hanya menemani dan mengajak ngobrol dua anaknya yang makan dengan santai. Begitu dua anak itu selesai dan bergegas mencuci tangan di wastafel, si bapak dengan cepat memakan sisa makanan yang masih banyak, daging ayam yang masih banyak menempel di tulang dan nasi yang juga hanya berkurang sedikit.

”Pelan-pelan pak, nanti keselek” seru saya dalam hati. Mungkin ia tak ingin anak-anaknya menunggu lama.

Suami saya siang sebelumnya juga bersabar menunggu saya dan Sasha memakan dua Concerto coklat. Ia sengaja membeli dua karena biasanya kami tak bisa menghabiskan. Sayang, kali ini dia keliru. Tapi dia tak banyak komentar mendapati Concerto yang kami makan tinggal gigitan terakhir. Hal yang sama juga terjadi waktu saya dan Sasha membeli pizza di hari ulang tahunnya. Sasha mencomoti bagian yang menjadi favoritnya. Begitu pula saya. Dua potongan terakhir yang hanya bertabur saos dan bawang bombai kami sisakan. Suami pulang kantor dengan sumringah karena saya SMS sebelumnya ada pizza di rumah. Sayang, dua pizza terakhir itu akhirnya juga disantap Sasha dan hanya menyisakan remahan dan bawang bombay. Suami hanya tersenyum.

Kami segera makan malam dan beranjak meninggalkan gerai fastfood tak lama setelah bapak dan dua anaknya tersebut pergi. Alhamdulillah, Allah mengaruniai suami dan ayah yang berhati lembut bagi kami. Ayah yang bersedia menjadi kantong doraemon dan tempat penampungan sisa makanan agar tidak mubazir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;