Sabtu, 15 Desember 2012

Jembatan Runtuh vs Indeks Korupsi


RUNTUHNYA sejumlah jembatan di Indonesia dalam usia yang relatif masih muda, beberapa di antaranya bahkan masih dalam proses pembangunan, tentu sangat memprihatinkan dan menimbulkan tanda tanya besar. Jembatan Kutai Kartanegara, misalnya. Jembatan yang memiliki desain menyerupai Jembatan Golden Gate di Amerika Serikat itu masih baru beroperasi 10 tahun. Jembatan Marunda di Cilincing, Jakarta Utara, bahkan mencatat rekor lebih cepat. Ia runtuh saat masih dalam proses pembangunan, Minggu, 11 Desember 2011. Kejadian serupa juga pernah terjadi tahun 1996 lalu, yakni ambruknya jembatan layang Grogol, Jakarta Barat, setelah lantai jembatan dipasang.



Peringatan Besar
 
Ambruknya sejumlah jembatan di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir tentu bukan kebetulan. Ada pesan besar di balik itu, terutama bagi para pemangku kepentingan di negeri ini bahwa cepat atau lambat, korupsi akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat dan bangsa dengan kerugian materi dan korban jiwa yang tidak sedikit. Apalagi jika yang digerogoti korupsi adalah sektor yang sangat strategis dan bersentuhan langsung dengan hajat hidup banyak warga negara.


Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perception Index/CPI) tahun 2011 yang dilansir oleh Transparency International (IT), posisi Indonesia berada di peringkat ke-100 bersama 11 negara lainnya. Meski mengalami kenaikan skor CPI sebesar 0,2 dari tahun sebelumnya, sejumlah pengamat dan pakar menilai kenaikan ini tidak memiliki banyak arti dalam pemberantasan korupsi. Dengan kata lain, tingkat korupsi di Indonesia masih sangat akut. Salah satu penyumbang terbesar adalah sektor konstruksi.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa sektor konstruksi sangat rawan korupsi. Berdasarkan survei indeks persepsi korupsi yang dilakukan World Bank tahun 2005 di 15 negara, termasuk Indonesia, sektor konstruksi berada pada urutan terakhir atau terkorup di antara 17 sektor perekonomian. Sektor korupsi dianggap rawan penyimpangan, suap dan korupsi. Sebab, bidang pekerjaan konstruksi yang melibatkan banyak pihak dipandang dapat membuka peluang terjadinya suap dan korupsi.


Nilai kontrak yang relatif besar juga memudahkan untuk menyembunyikan dana suap, korupsi, dan mengatur mark-up harga. Di sisi lain, penampilan akhir hasil dapat menyembunyikan rendahnya mutu bahan, volume, dan penyimpangan metode pelaksanaan. KPK bahkan menyebutkan bahwa tingkat kebocoran APBN di sektor ini mencapai 40 persen, sedangkan tingkat kebocoran dalam pengadaan barang dan jasa mencapai 30 persen.


Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa proyek konstruksi nasional telah menjadi “bancakan" kader partai politik dan oknum pejabat pemerintah. Kajian Kadin menyebutkan, sebagian besar pemenang proyek konstruksi sudah ditunjuk sebelum pelaksanaan tender. Sebanyak 87 persen dari seluruh proyek konstruksi di Indonesia telah ditetapkan pemenangnya sebelum tender berakhir. Dari angka tersebut, 90 persen di antaranya sarat unsur korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).


Berdampak Serius
 
KKN di sektor konstruksi tentu sangat memprihatinkan sekaligus menakutkan. Sebagaimana kita ketahui, sektor konstruksi adalah salah satu sektor paling strategis dan menentukan kehidupan masyarakat dan bangsa. Ia merupakan pilar utama perekonomian bangsa, terutama terkait penyediaan infrastruktur sebagai penopang utama roda perekonomian. Selain berpengaruh signifikan terhadap iklim investasi dan daya saing Indonesia, sektor konstruksi juga memiliki kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja.


Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 1973 sumbangan sektor konstruksi terhadap produk domestik bruto (PDB) masih sekitar 3,9 persen. Angka itu terus meningkat hingga mencapai delapan persen tahun 1997. Krisis ekonomi 1998 sempat menghentikan ekspansi bisnis konstruksi. Hingga lima tahun pascakrisis, sumbangan sektor konstruksi terhadap PDB terus menurun hingga mencapai enam persen pada 2002. Setelah krisis berlalu, bisnis konstruksi terus membaik. Pada 2005, sumbangan sektor konstruksi terhadap PDB mampu menembus 6,35 persen. Pada 2008, sektor konstruksi juga tercatat tumbuh 7,3 persen menjadi Rp419,3 triliun.


Dari sisi penyerapan tenaga kerja, Data BPS menyebutkan penyerapan tenaga kerja di sektor konstruksi mencapai 4,37 juta jiwa pada 2006 atau 4,60 persen dari total angkatan kerja tahun itu yang mencapai 95,17 juta jiwa. Departemen Pekerjaan Umum memprediksi, jumlah tenaga kerja di sektor konstruksi pada 2009 menembus 5,2 juta orang. Potensi bisnis konstruksi di Indonesia juga sangat besar. Pada 1995, pasar industri jasa konstruksi mencapai Rp45 triliun. Pada 2003, nilai proyek para pelaku usaha jasa konstruksi mencapai Rp159 triliun; 55 persen merupakan proyek swasta dan sisanya dari pemerintah. Nilai itu menunjukkan tren yang terus meningkat dari waktu ke waktu.


Korupsi di sektor konstruksi jelas berdampak serius dan sangat kompleks pada banyak sektor kehidupan selain, tentu saja, berpotensi besar menimbulkan banyak korban jiwa dan kerugian materi yang besar. Ekonomi dan bisnis bisa jadi adalah sektor yang pertama terkena imbas dengan terputusnya sarana transportasi tersebut. Mobilitas masyarakat terganggu. Roda perekonomian tersendat.


Banyaknya jembatan yang runtuh juga bisa berdampak traumatis terhadap psikologi masyarakat. Muncul kekhawatiran tragedi jembatan runtuh seperti Jembatan Kutai Kartanegara akan terulang. Kekhawatiran yang masuk akal karena selain memiliki banyak jembatan, indikasi korupsi yang kuat, Indonesia merupakan negara yang sangat rentan bencana, terutama gempa bumi dan tsunami.

Dalam skala yang lebih luas, runtuhnya jembatan bisa memengaruhi iklim investasi yang mulai membaik dalam beberapa waktu terakhir. Para investor akan berpikir berkali-kali untuk berinvestasi di Indonesia. Tidak hanya atas pertimbangan keamanan dan kelancaran sarana transportasi sebagai penunjang utama investasi. Fakta bahwa korupsi di Indonesia masih sedemikian merajalela, adalah pertimbangan yang lebih utama untuk berinvestasi.

Tulisan dimuat di Rubrik Opini Harian Jurnal Nasional
Edisi Selasa, 20 Desember 2012

1 komentar:

  1. Hello everyone we will show the latest news and the latest news on a cool and popular. We provide an updated information that comes with the new version on the website news. This web will tell da latest news updates with different styles on AishaNews.com please open and read the information.
    Aisha News
    Aisha Populer News

    BalasHapus

 
;