Kamis, 20 Desember 2012

Hisab yang Dipercepat

Make the Puzzle Pieces of Your Life Fit
Sumber : klik di sini

Ini mungkin hanya kebetulan, tapi entah mengapa saya suka iseng merangkai yang serba kebetulan ini seperti merangkai puzzle hingga menjadi satu bentuk yang utuh. Lalu memberinya nama atau menyimpulkan itu apa.


Saya selalu berharap dan mencoba, bahwa dalam hatipun tak ingin berprasangka. Apalagi melakukan hal-hal nyata yang buruk dan tidak disukai-Nya. Ini pasti impian semua orang. Untuk saya pribadi, sepertinya ada cara Allah yang saya anggap unik agar saya tidak terlalu sering melanggar komitmen ini. Allah sering menegur saya dengan cepat, bahkan dalam hitungan detik, ketika "pelanggaran" itu saya lakukan.

Seperti ketika suatu waktu, saya memasak sambil menggerutu dalam hati tentang seorang kerabat. Sangking kesalnya saya sampai manyun. Dan apa yang terjadi, minyak goreng menyiprat ke arah saya. Cepat saya berpikir positif, mungkin ini teguran Allah. Kadang saat seperti ini terjadi, saya segera istighfar tapi sering pula acara menggerutu saya lanjutkan. Kadang saya merasa punya hak untuk menggerutu atas perlakuan orang lain yang tidak selalu baik. Ini alasan saya tapi Allah rupanya tidak suka. Teguran berikutnya biasanya saya sering terpeleset meski tidak sampai jatuh.

Teguran lain seringkali berupa sandungan. Ya, ini sering terjadi saat saya keluar rumah dan berjalan kaki lalu menemui hal-hal yang mengundang hati untuk bergumam atau berprasangka. Tetangga yang lama mengembalikan barang-barang yang dipinjamnya misalnya. Beberapa saat setelah berpikir begitu biasanya ada saja batu yang membuat saya tersandung. Memang tidak sampai jatuh, Alhamdulillah, tapi cukup mengingatkan bahwa itu tidak baik untuk diteruskan.

Hisab yang lebih cepat biasanya terjadi saat saya bandel sama suami. Berkata kasar sedikit saja, biasanya langsung mau terpeleset saat berjalan di dalam rumah. Pernah suatu hari saya kesal dan tak sabar menunggu suami yang sedang tidur siang untuk menumpahkan kekesalan yang sudah terasa amat sesak. Saya bangunkan dia, lalu tanpa menunggu ia sadar sepenuhnya saya bicara panjang lebar nyaris tanpa jeda dan koma. Dengan suara yang agak tinggi pula sambil berdiri di tengah pintu. Karena saya tau dia tidak akan komentar apa-apa, begitu selesai saya langsung berbalik arah dan upsss, saya menabrak daun pintu dengan cukup keras. Tentu saja saya malu. Malu pada suami dan malu sama Allah. Suami juga spontan ingin tertawa tapi dengan cepat diurungkan. Dua malaikat yang mencatat amal di kanan kiripun sepertinya tak tahan ingin tertawa juga. Sejak kejadian-kejadian yang sepertinya hanya kebetulan itu, saya mencoba lebih menjaga hati.

Tak hanya lantai, batu dan pintu, sepeda motorpun kadang ikut andil untuk menegur. Seingat saya, tiga kali dia mati mendadak pada saat saya melakukan "pelanggaran" yang sama. Tidak mau bersilaturahmi. Kadang karena beberapa alasan saya enggan bersilaturahmi dan lebih memilih jalan-jalan ke tempat lain. Pada saat itulah, si motor menegur dengan mogok di perjalanan secara tiba-tiba.

Alhamdulillah sudah ditegur dan masih diingatkan. Semoga menggugurkan dosa dan menjadi pengingat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Aaamiiiin.....

2 komentar:

  1. Alhamdulillah masih diingatkan didunia ya mbak..

    dan masih bisa memperbaikinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Hana, itu salah satu yang saya syukuri ketika mendapati banyak hal yang tidak mengenakkan setelah melakukan "pelanggaran" :)

      Hapus

 
;