Selasa, 04 Desember 2012

Hari Terindah dalam Hidup

Pagi ini, menu yang kami pilih secara tidak sengaja adalah sop ceker ayam. Karena hanya kaki ayam yang tersisa di lijo sayur langganan kami.

Saya sedikit menggerutu dalam hati. Bukan karena hari ini saya harus makan kaki ayam, tapi karena kulit di kaki ayamnya masih ada. Alamat pekerjaan di dapur akan lebih banyak menyita waktu. Dalam keadaan seperti ini, perjanjian berbagi beban dengan suami mesti dijalankan dengan sebaik-sebaiknya. Sama halnya dengan berbelanja, pengerjaan menguliti kaki ayam kami lakukan berdua. Romantis juga, hibur saya dalam hati.


Sembari pengerjaan berlangsung, kami berbincang tentang beberapa hal. Harus, karena menguliti kaki ayam ternyata bukan pekerjaan mudah. Alot karena salah prosedur. Harus dimasukkan ke buku kapok nih, kata saya pada suami.

Tiba-tiba seorang tokoh dalam film kartun di televisi berkata begini : "Ini hari terindah dalam hidupku....", berulang kali. Hari terindah dalam hidup??? tanya saya dalam hati.

"Honey, kamu pernah berkata begitu?"

"Berkata apa?" tanya suami balik.

"Ini hari terindah dalam hidupku, seperti yang terdengar dari TV barusan"

"Hidup kan bukan sinetron Ma, masak harus diucapkan severbal itu..."

"Ya nggak harus-lah. Pertanyaannya pernah nggak bilang ini hari teirndah dalam hidupku, walau cuma dalam hati"

"Pernah" jawabnya singkat, tanpa menoleh sembari terus menguliti kaki ayam yang semakin alot saja.

"Kapan?"

"Nanya melulu, pokok-nya pernah" tetap konsen pada kaki ayam.

"Waktu kita menikah ya, hehehe..." saya mencoba menebak. Tapi suami tetap diam. Ciri khas laki-lakinya muncul : enggan mengakui.

"Iya kan?" saya tak sabar dia mengakuinya.

"Ya" jawabnya pelan, akhirnya.

"Aku nggak tuh, bukan yang itu....." kata saya kemudian padahal dia tidak tanya balik. Sudah menjadi kebiasaannya untuk tidak selalu bertanya. Saya jadi berpikir atas pernyataan saya sendiri, jika hari terindah (salah satu yang terindah dalam hidup) itu bukan ketika saya menikah, lalu kapan? atau jangan-jangan saya tidak pernah berkata dan merasakan ada hari yang teramat indah dalam hidup saya? Kasihan sekali jika iya. Tapi ternyata tidak.

Hari-hari dalam hidup saya ternyata hampir semuanya indah. Sampai-sampai saya tak perlu menyimpulkan mana  yang terindah di antaranya. Memang tidak selalu bertabur tawa, tangis dan sedihpun ternyata indah. Atau paling tidak, di suatu waktu nanti, saya akan merindukannya sebagai sesuatu yang indah.

Terlalu banyak yang harus disyukuri dan terlalu indah untuk disesali.........


Jember, 07012011, 15.51 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;