Jumat, 16 November 2012

Strategi Memenangkan Kompetisi Menulis

Ada beberapa teman yang menjuluki saya spesialis juara dalam kompetisi menulis. Saya amini saja anggapan itu sebagai prasangka baik sekaligus doa. Pada kenyataannya, kekalahan dan kegagalan saya jauh lebih banyak dari kemenangan yang berhasil saya raih. Anggapan itu muncul mungkin karena secara kebetulan, beberapa kompetisi yang saya menangi adalah kompetisi yang agak “wah”, dari segi peserta, penjurian dan mungkin terutama sekali hadiahnya.

 Dalam tulisan ini saya ingin sedikit berbagi cerita, bagaimana strategi saya dalam mengikuti kompetisi menulis. Pertama, saya cukup selektif, baik dari segi tema, kepesertaan dan terutama sekali levelnya. Untuk tema, saya harus benar-benar suka atau tertarik atau temanya berkaitan dengan bidang studi dan minat saya. Untuk kepesertaan, saya merasa tertantang untuk ikut kompetisi di mana untuk menang, saya memang harus benar-benar berjuang.

Misalnya saja, di kompetisi itu saya harus berhadapan dengan para wartawan, dosen ataupun professional lainnya. Untuk level, saya memang mengkhususkan diri untuk berkompetisi di tingkat nasional meski pernah juga sekali dua kali di level regional dan lokal. Bukan karena apa, tapi di level nasional memang tantangannya lebih besar. Di level inilah, kita akan benar-benar merasa berkompetisi.

Kedua, sekaligus strategi saya yang paling utama adalah, saya benar-benar mempersiapkan kemenangan saya sebaik mungkin. Bahkan pernah sampai hampir 2 tahun. Bagaimana mungkin? Saya ambil contoh kemenangan saya pada lomba esai Menpora tahun 2009 lalu dimana saya menjadi pemenang utama untuk kategori umum. Saya pertama kali ikut lomba itu pada tahun 2007. Saat itu saya sadar bahwa kemungkinan besar bahkan pasti saya akan kalah. Tapi saya tetap ikut, karena menurut saya, kita tak akan pernah belajar jika tak berani atau mau mencoba dan bersiap untuk kalah. Pada akhirnya saya memang kalah namun bersamaan dengan itu saya berjanji, saya akan mencoba lagi dan harus menang.

Tahun 2008 Menpora mengadakan lagi lomba itu (setiap tahun memang selalu ada), namun dengan sadar diri saya tidak ikut karena merasa belum siap. Tapi saat itu saya berkomitmen, tahun depan saya harus ikut dan menargetkan menjadi pemenang pertama. Saya tandai kapan lomba itu akan diadakan, saya pelajari tulisan pemenang-pemenang sebelumnya, saya cari tema aktual yang belum diangkat, dst, dst. Finally, pada 2009, impian saya untuk menjadi pemenang pertama dalam lomba itu, terwujud. Alhamdulillah.

Cerita hampir sama juga terjadi pada kemenangan saya pada XL Award. Polanya hampir sama, tahun pertama saya mencoba dan kalah, tahun kedua off tapi berkomitmen untuk mencoba lagi, tahun ketiga berani mencoba tapi kalah, tahun keempat saya ikut dengan merombak tulisan tahun sebelumnya, Alhamdulillah terpilih sebagai pemenang ketiga.

Poin terpenting yang ingin saya garisbawahi dengan tebal dari cerita di atas adalah, kemenangan itu tidak datang begitu saja. Meski terkadang terlihat dari luar seperti sebuah keajaiban dan keberuntungan yang beruntun. Ada proses pembelajaran yang panjang, pantang menyerah dan kerja keras di baliknya. Yang bersamanya, InsyaAllah akan ada hasil yang sepadan. Di luar itu semua, ada tangan-Nya yang berkehendak. Mari terus belajar Kawan, kemenangan itu pasti asal kita meyakininya dan memperjuangkannya sepenuh hati… InsyaAllah.

5 komentar:

  1. Wuah... jadi semangat menulis lagi...
    selektif dan fokus akan menjadi motivasi saya setelah ini...
    Terima kasih Kak Rin :)

    BalasHapus
  2. Terimakasih sudah mampir Mbak Anita, semoga setelah ini bisa menghasilkan banyak karya :)

    BalasHapus
  3. semoga saya juga akan terus cinta dengan menulis. makasih inspirasinya. [aulia]

    BalasHapus
  4. , jadi termotivasi untuk mengikuti jejaknya kakak :)

    BalasHapus
  5. Bagus banget, aku juga sering kalah

    BalasHapus

 
;