Senin, 19 November 2012

Perempuan Cenderung Menjadi Cerewet Setelah Menikah???

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering mendengar kalimat yang menyatakan sependiam-pendiamnya seorang perempuan, pasti akan cerewet kalau sudah menikah. Benarkah?

Saya sendiri belum pernah menemui kajian atau ulasan ilmiah tentang kebenaran hipotesa di atas. Tapi sepertinya koq iya juga ya☺ Coba deh kita perhatikan para perempuan di sekitar kita termasuk diri kita sendiri, para mommies, banyak indikasi yang mendukung pernyataan di atas. Sepertinya perempuan memang punya bakat dan talenta untuk lebih cerewet dari laki-laki ya?


Apapun jawabannya, saya lebih tertarik untuk menganalisis bagaimana ”kecerewetan” itu muncul dan menjadi begitu lekat dengan sosok seorang Ibu. Sesuatu yang dulu mungkin terasa sangat menyebalkan namun kini menjadi sesuatu yang begitu kita rindukan. Satu yang pasti, seorang perempuan tidak akan serta merta menjadi cerewet begitu mereka menikah. Pastinya ada trigger, stimulan atau apalah namanya, yang berlangsung secara simultan dalam jangka waktu yang lama. Kecerewetan ibu bisa jadi adalah reaksi dari aksi kemanjaan dan kebandelan yang berlebihan dan bertubi-tubi dari anggota keluarga yang lain, anak juga suami.

Sejenak mari kita kembali ke masa sekolah dulu. Ibu yang kita sebut cerewet itu bisa jadi sebelumnya adalah wanita yang sangat pendiam, lemah lembut dan penyabar. Setelah menikah, kesabarannya mulai diuji dan sifat pendiamnya mulai terusik. Terlebih setelah punya anak. Ia harus stand by 24 jam untuk ”bos kecil”nya dan tentu saja juga untuk si ”bayi besar” bernama ayah. Beban kerja dan aktivitas yang terus bertambah tentu sangat menguras energinya. Kondisi seperti ini sangat mudah memantik emosi yang salah satunya teraktualisasikan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas bicara Ibu yang kemudian kita sebut dengan ”kecerewetan”.

Semakin banyak jumlah anggota keluarga dengan semakin bertambahnya anak, dan semakin kompleks kebandelan dan kemanjaan mereka, ”kecerewetan” ibu semakin mengkristal. Satu per satu kesabarannya yang mungkin berlapis sembilan, mulai terkikis hingga kecerewetannyalah yang paling dominan. Dan kita anak-anaknya, yang tak lain adalah salah satu trigger utamanya, dengan bangga akan berkata pada teman-teman : ”Kalau ada kontes Mama cerewet, mamaku pasti juaranya...”.

Hari ini, sebagian dari kita mungkin telah sampai pada tahapan ujian kesabaran yang ibu kita harus hadapi dulu. Dan hanya segelintir dari kita yang bisa melaluinya dengan tetap menjadi sosok yang ”pendiam”. Menjadi cerewet tak berarti kita bukan ibu yang tidak baik. Tidak pula berarti kita ibu yang gagal. Kita hanya ”sedikit berubah” Mom☺

Beberapa teman membagi cerita serunya pada saya bagaimana bertahan agar tetap menjadi pendiam. Satu di antaranya mungkin pernah kita alami. Kisah yang menyenangkan namun terkadang juga membuat kita gemas dan ingin marah, dan tanpa kita sadari, terkadang kita menjadi cerewet karenanya.

Cerita pertama dari teman saya Dita. Dia bercerita tentang ulah si kecil Aira yang baru berumur satu tahun tiga bulan. Hobi baru Aira adalah berendam setelah selesai mandi. Sekitar 10 menit dia akan bermain dengan bebek mainan, Patrick dan Spongebob karet, Dora, atau mainan apa saja yang bisa dimasukkan ke bak mandi. Dita, ibu muda yang berkomitmen untuk sabar itu, memanfaatkan kesempatan itu untuk memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci kemudian mempersiapkan pakaian dan peralatan si kecil di tempat tidur.

Ketika semua sudah siap, waktunya si kecil meninggalkan bak mandi. But ups, ia dapati si kecil sedang tertawa-tawa di bak mandinya yang penuh busa. Rupanya shampoo dan sabun cairnya ia tumpahkan ke bak semua. Hahh, hanya itu keluhan Mom Dita. Senyum si kecil yang begitu ceria mengurungkan niatnya untuk marah. Dengan sedikit kesal di hati, ia balas senyum manis anaknya sambil membilas si kecil yang penuh busa.

Alia punya cerita yang tak kalah menggemaskan. Dia memang tidak terlalu pandai memasak tapi semangatnya untuk belajar dan menyajikan masakan istimewa buat keluarga, sangat luar biasa. Menu yang ingin dibuat hari itu adalah gurami asam manis. Tiga ekor gurami berukuran sedang setelah digoreng ia letakkan di meja makan yang tak jauh dari ruang keluarga. Si kecil ketika itu sedang menonton film kartun. Bergegas Mom Alia menyiapkan bumbu dan buah nanas. Begitu selesai dan akan mengambil kembali gurami goreng di meja, Alia terkejut karena hanya tinggal piringnya.

”Kak Farel lihat ikan gurami di meja?” tanyanya pada si kecil Farel, 3,5 tahun yang sedang asyik nonton tv. Barangkali ada kucing yang menyomotnya, dan Farel tau itu.

”Tau” jawab Farel lugu sambil bergegas turun dari sofa dan menggamit tangan mamanya. Alia hanya mengerutkan kening, Farel menuntunnya ke kamar mandi.

”Itu Ma ikan guraminya” Hah. Mata Alia agak melotot melihat tiga ekor gurami gorengnya di dasar bak mandi.

”Kenapa ikannya dimasukkan bak mandi Nak?” tanya Alia lemas.

”Kasihan Ma, ikan kan harusnya di dalam air. Kasihan badannya agak gosong karena Mama goreng”. Hmmmm....

Teman saya Ika, punya cerita yang agak saintis tentang si kecil, tapi bikin geregetan juga. Ceritanya, siang itu si kecil yang baru berumur 4 tahun menonton acara edukasi tentang seekor induk ayam yang mengerami telur-telurnya. Di acara itu juga dijelaskan bahwa melalui proses itu, telur-telur yang dierami akan menetas menjadi anak-anak ayam yang lucu. Si kecil rupanya tertarik. Saat waktunya tidur siang tanpa sepengetahuan ibunya, si kecil membawa beberapa butir telur yang diambilnya dari lemari es ke tempat tidurnya.

Dengan penuh kasih sayang, ia”mengerami” telur-telur itu di antara selimut dan bantalnya. Ia menunggu cukup lama hingga akhirnya tak tahan menahan kantuk. Tubuhnya menimpahi sebagian telur-telur itu sehingga mereka ”menetas”, mengotori selimut, sprei, bantal dan meninggalkan bau amis yang memenuhi seluruh ruangan. Teman saya Ika, hanya bisa bengong☺

Ulah-ulah lucu yang menggemaskan di atas akan bermetamorfosis seiring dengan semakin besarnya anak-anak . Biasanya mereka akan mulai menunjukkan ”kebandelan-kebandelan” yang lebih nyata. Dan biasanya juga akan lebih menguras emosi para ibu.

Anak laki-laki dan perempuan biasanya akan mulai menunjukkan perbedaan sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Anak laki-laki seringkali perlu diingatkan untuk mandi atau menaruh barang-barangnya dengan rapi. Dan seringpula mereka melanggar. Jika sedang asyik nonton tv atau main komputer, himbauan saja seringkali tidak cukup. Kadang butuh hardikan atau bahkan jeweran untuk membuat mereka beranjak mandi atau sholat. Kebiasaan mereka yang kadang memantik emosi dan kecerewetan ibu adalah ketidakdisiplinannya, misalnya saja menaruh handuk basah di sembarang tempat bahkan jika ketidakdisiplinan dan kejorokannya tergolong akut, kadang mereka lupa menaruh kaos kaki di meja makan. Bagaimana tidak membuat suara Ibu jadi melengking jika itu sering dilakukan padahal sudah diingatkan berkali-kali.

Anak perempuan seringkali berkarakter bertolak belakang dengan anak laki-laki. Jika anak laki-laki umumnya identik dengan malas, tidak disiplin dan bandel, anak perempuan kadang justru perfectionis. Karena ingin tampil cantik, mereka senang berlama-lama di kamar mandi sehingga anggota keluarga yang lain harus menunggu lama jika mau ke kamar mandi juga. Tidak mau membantu di dapur karena khawatir tangan halusnya menjadi kasar. Bikin semua orang menunggu ketika akan bepergian bersama karena ia butuh lebih lama untuk matchingin baju, dandan dsb. Hmmm, tak kalah menyebalkan juga☺

Seiring waktu pula, anak-anak kadang juga mulai membantah. Perdebatan kecil-kecilan jadi sering terjadi, dan ibulah yang biasanya lebih sering berkonfrontasi dengan mereka dibanding ayahnya. Anak merasa terkekang karena ibu begitu mengatur. Misalnya pulang sekolah langsung pulang atau ijin dulu kalau ada acara. Anak merasa ibunya begitu cerewet, padahal itu untuk kebaikannya. Pada teman-temannya ia cerita : ”Sebel banget, mama gue cerewetnya minta ampun. Ini gak boleh, itu dilarang. Huh.....” Seperti obrolan saya dengan teman-teman waktu SMA dulu.

Kasihan ya para Ibu, mereka cerewet karena kita yang ”memaksa”nya menjadi cerewet. Mereka harus ”senam mulut” karena kebandelan kita padahal itu untuk kebaikan kita. Untung saja mereka ciptaan Allah, coba kalau buatan pabrik?

10 komentar:

  1. Jadi ingat suamiku bilang, kamu cerewet kayak ibu-ibu:))
    Lho memang aku ibu kan.
    Kalau nggak cerewet bukan perempuan kali ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang aneh justru kalau laki-laki begitu ya Mbak :) eh, ini berarti "kecerewetan" sdh jadi bagian dr identitas kitakah??? hehe :)

      Hapus
  2. Sekarang sedang belajar mengendalikan kecerewetan. Sebab anak2 sudah memasuki usia remaja, sepertinya cara cerewet hanya akan menjadi bumerang. Alih2 nasehat/saran kita berhasil...malah anak jadi pembangkang.
    Sekarang kalau sdg ingin cerewet dialihkan dgn mengajak anak2 diskusi memcahkan masalah. Jadi cerewet tersalur, anak2 mrs tetap didengar pendapatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Metode yang oke banget Mbak Niken, cerewet sepertinya akan lebih efektif saat anak-anak masih kecil, kalau sudah besar mereka sudah bisa berpendapat dan memiliki keberanian untuk mengemukakan itu, jadinya, kalau sebagai ibu kita tidak "mengalah", salah satunya dg menjadi cerewet dalam konteks yang berbeda, seperti diskusi misalnya, nasehat/saran tidak akan efektif tersampaikan, terimakasih sudah berbagi....:)

      Hapus
  3. kadang bingung juga kalau dah cuap-cuap ngomong ini itu, tapi yang diajak ngomong masih belum ngerti.
    akhirnya ketawa sendiri.
    sabar . . .
    sabar . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga sering alami itu Mbak :) pada akhirnya sabar memang obat mujarab hampir untuk sebuah masalah dan situasi :)

      Hapus
  4. cerewet dan senam mulut menjadi suatu hal yang susah banget diminimalisir kecuali anggota keluarga mampu mengendalikan perannya, bapak/suami yang mampu mengerti dan memahami bila pekerjaan istri sedang banyak dan mau melonggarkan waktunya, anak yang bandel nurut bila diberikan saran... tentu kecerewetan ini bisa ilang.... betul banget mba, mang dari faktor x cerewet kita tapi suamiku bilang kita yang harus mengendalikan emosi...tahu gak...ada julukan buat saya lho...*nenek lampir...hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf Mbak Astin, baru baca komen ini, kalimat yang terakhir memancing tawa Mbak :) Saya juga sering bilang pada suami dan anak-anak, bahwa kalau saja mereka lebih disiplin dan seperti yang Mbak bilang, mengerti dan memahami, eskalasi kecerewetan ibu-ibu bisa diminimalisir hingga ke level yang sangat rendah, setuju kan Mbak?

      Hapus
  5. dulu sempat termenung kalau melihat ibu2 memarahi anaknya, tapi sekarang setelah tahu dengan maksud "marahnya" seorang ibu, jadi merenung... semoga nanti diberi anak2 yang penurut :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Turut meng-aamiiiinkan doa Mbak Hida :)

      Hapus

 
;