Jumat, 16 November 2012

One Wish Three Jobs

Sasha pulang agak terlambat siang itu karena harus mengikuti kelas ”akselerasi” untuk mengejar beberapa pelajaran yang tertinggal karena beberapa kali tidak masuk sekolah. Begitu keluar dari kelas, saya segera menggamit tangannya tapi dia jalan melambat seperti kura-kura. Pasti ada maunya nih anak, duga saya dalam hati.

”Ayo mbak, dek naura nanti nangis lho” kata saya sambil berjalan cepat menuju tempat parkir. Saya sudah meninggalkan Naura hampir setengah jam dan kepanasan di gerbang sekolah berpuluh menit. Mana saya tau Sasha akan ikut kelas akselerasi.


”Ma, tas Ayu baru, aku mau punya tas seperti itu juga” katanya sambil merengek, dan dengan tetap gerak lambat dia naik ke sepeda motor. Saya hanya diam, begitu banyak permintaannya dalam beberapa hari ini. Terutama jika lihat iklan di TV.

Di tengah perjalanan pulang, saya membeli Harian Kontan di pinggir jalan, Sasha ikut turun dari sepeda motor. Kembali dia melambat saat disuruh naik sambil menunjuk majalah bergambar Spongbob. ”Aku mau majalah itu!”

”Kemarin Mbak Sasha sudah beli komik banyak” anak satu ini tak bisa dijanjikan, ingatannya sangat tajam untuk mengingat apa-apa yang dijanjikan padanya. lhamdulillah dia gak komentar lagi meski wajahnya tetap cemberut.

Sesampai di rumah, saya suruh ia segera berganti pakaian sedang saya segera menggendong Naura yang sudah menangis. Hampir sepuluh menit berlalu, Sasha tak juga keluar dari kamarnya, suaranyapun tak terdengar sama sekali.

”Lho Mbak, koq belum ganti baju?” tanya saya.

”Ma, lihat mainanku yang ini? Sudah rusak, aku mau yang baru...” Ya ampun, belum juga satu jam, dia sudah mengajukan tiga permintaan!

.........

Problem di atas mungkin banyak dialami para orang tua. Anak seusia Sasha, lima tahun, pada umumnya sudah sangat pintar meminta. Meski saya dan suami tidak bisa selalu mengabulkan setiap permintaannya dalam sekejap, Sasha sering tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan yang ia minta. Bahkan belum memintapun, tak jarang kami sudah memberikan. Mungkin itulah salah satu wujud sayang kami padanya. Tapi ternyata dampaknya tak selalu baik. Mudah mendapatkan setiap yang diinginkan hanya dengan meminta pada orang tua, membuatnya tidak mengerti arti ”berjuang” dan ”bekerja keras” untuk mewujudkan apa yang kita inginkan.

lhamdulillah ternyata suami juga berpikir sama dan punya ide bagus untuk mengajari Sasha menjadi seorang yang mandiri dan pejuang tangguh sejak dini. One Wish Three Jobs, nama ide itu. Intinya, kami tidak akan larang Sasha meminta dan memiliki keinginan, tapi dia harus ”bekerja” untuk mendapatkannya.

Sebagai contoh, dia boleh meminta tas atau mainan baru, namun sebelum meminta dia harus melakukan tiga hal atau pekerjaan terlebih dahulu. Sesuai dengan usianya yang masih kecil, tiga pekerjaan yang bisa dipilihnya antara lain : tidak bangun kesiangan pada hari sekolah, segera mandi dan tidak malas berangkat sekolah, menghabiskan susunya, tidak nonton TV terlalu lama, membereskan mainannya sendiri seusai bermain, atau mau menemani adiknya bermain jika saya sedang sholat misalnya. Dengan cara ini, kami ingin Sasha belajar memahami hak dan kewajibannya, jika ingin sesuatu maka harus bekerja keras, sekaligus belajar bertanggung jawab.

Selain konsep One Wish Three Jobs, kami juga mengajari Sasha untuk belajar menentukan pilihan dan skala prioritas. Lagi-lagi masih berkaitan dengan permintaannya yang banyak dan kepintarannya dalam mengakali. Misalnya saja jika ditanya, pilih es krim atau mainan? Biasanya kalimat tanya itu saya ikuti dengan penegasan jika memilih es krim berarti tidak beli mainan dan sebaliknya.

”Aku pilih es krim” jawabnya dengan mantap tapi begitu es krimnya habis dia akan bilang, ”Sekarang aku mau mainan dan gak mau es krim lagi” anak pintar.

Alhamdulillah seiring dengan usianya yang terus bertambah, dia semakin kooperatif dan belajar konsisten dengan pilihannya. Terimakasih Mbak Sasha, jadi anak shalihah ya, amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;