Jumat, 16 November 2012

Mewaspadai Early Childhood Education

Seolah menjadi tren, kini semakin banyak orang tua cenderung menyekolahkan putra-putrinya lebih awal (early childhood education). Tak heran jika menjelang tahun ajaran baru seperti sekarang, Playgroup (PG) dan Taman Kanak-kanak (TK) ramai diserbu orang tua. Masing-masing ingin memberi pendidikan terbaik untuk anak-anaknya meski harus merogoh kocek dalam-dalam.


Di satu sisi, fenomena early childhood education ini cukup menggembirakan mengingat partisipasi pendidikan anak usia dini (PAUD) di Indonesia tergolong paling rendah se-Asia Tenggara. Masih menjangkau sekitar 25 persen balita. Partisipasi sebesar 25 persen itupun tidak merata baik secara geografis maupun sosial ekonomi. Tren ini pastinya akan berpengaruh terhadap partisipasi PAUD dan ini bisa menjadi indikasi semakin baiknya kesadaran dan pemahaman orang tua akan pentingnya PAUD sebagai bagian integral dari pendidikan anak.

Sebagaimana dikemukakan oleh banyak pakar psikologi, masa usia dini (0-4 tahun) merupakan periode keemasan (golden age) dalam proses perkembangan anak. Dr.Benyamin S.Bloom misalnya, penulis Stability and Change in Human Characteristics ini mengemukakan bahwa sekitar 50 persen potensi inteligensi anak sudah terbentuk pada usia 4 tahun dan mencapai 80 persen saat berusia 8 tahun dari total kecerdasan yang akan dicapai pada usia 18 tahun.

Berbagai penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa usia 4 tahun pertama merupakan masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan anak dibandingkan masa-masa sesudahnya. Artinya, jika pada usia tersebut anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka potensi tumbuh kembang anak tidak akan teraktualisasikan secara optimal (Sutaryati, 2006:10).

Dalam konteks yang lebih luas dan jauh ke dapan, PAUD merupakan bentuk investasi strategis untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya. PAUD merupakan pondasi masa depan bangsa untuk mencetak SDM unggul dan berkualitas yang akan mewujudkan kemandirian bangsa di kemudian hari. Itulah mengapa banyak negara memberi perhatian besar pada PAUD. Di Singapura misalnya, penguasaan bahasa Cina dan Inggris sudah dapat diselesaikan dmenjadi bagian integral dari usaha pencapaian fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan Undang-undang Sisdiknas No.20/2003, Departemen Pendidikan Nasional mengategorikan homeschooling sebagai jalur pendidikan informal yaitu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (pasal 1 UU Sisdiknas No.20/2003). Meski pemerintah tidak mengatur standar isi dan proses pelayanan pendidikan informal namun hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal (sekolah umum) dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan (pasal 27 ayat 2). Output homeschooling juga tak perlu diragukan. Sejumlah tokoh besar adalah produk dari model pendidikan ini, misalnya saja Benyamin Franklin, Thomas Alfa Edison, KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan Buya Hamka. Kak Seto dan Emmy Soekresno (pakar pendidikan anak) adalah contoh orang tua masa kini yang menerapkan homeschooling bagi putra-putrinya.

Ketiga, homeschooling bisa menjadi solusi di tengah fantastisnya biaya pendidikan yang berkualitas saat ini. Sebagai contoh, sejumlah lembaga PAUD “bermerk” di kota Jember mematok biaya yang melebihi biaya pendidikan di perguruan tinggi. Homeschooling memungkinkan orang tua menyelenggarakan pendidikan rumah yang berkualitas sesuai dengan kemampuan finansialnya.

Dan yang keempat, homeschooling bisa menjadi cara strategis dan konkrit untuk mengembalikan peran keluarga sebagai sekolah yang pertama dan utama bagi anak. Memudarnya peran strategis ini bisa jadi merupakan salah satu sebab semakin krisisnya moral bangsa akhir-akhir ini. Saatnya keluarga Indonesia memosisikan diri sebagai benteng moral bagi anak sejak dini agar generasi muda kita terlindung dari hamparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, narkoba, konsumerisme, pornografi, mencontek dan sebagainya).

Model pendidikan homeschooling ini memang lebih kompleks dari pendidikan di sekolah formal karena orang tua harus bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan anak. Namun dalam rangka mencetak generasi masa depan yang cerdas dan bermoral, justru di sinilah tantangannya.

5 komentar:

  1. Jadi buat orang tua bekerja yang nggak bisa melakukan homeschooling, carilah PAUD atau playgroup yang kurikulumnya menyenangkan buat anak sehingga anak ke sekolah dgn riang gembira, bukannya terpaksa. Dan anak menikmati kegiatannya di sekolah.

    Gitu kan mbak?

    BalasHapus
  2. Karakter (akhlak) itu seperti berlian,
    yg mampu menggores semua bebatuan.
    Mau jadi pengusaha, orang kaya, atau apapun,
    yg penting karakternya baik dulu.
    Setujuuuuuuuuuuuu?

    BalasHapus

 
;