Rabu, 07 November 2012

Menyoal Indonesia Maid on Sale

Suara Karya, 8 November 2012

Permasalahan seputar Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia kembali mencuat. Kali ini terkait heboh soal pemunculan iklan Indonesia Maid on Sale. Iklan ini tentu saja menuai kecaman dari banyak pihak, terutama dari pemerintah dan masyarakat Indonesia bahkan juga dari pemerintah dan publik di Malaysia.Bagaimana tidak, iklan itu seolah menjadikan pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia seperti barang dagangan yang dengan mudah dapat diperjualbelikan. Sebuah iklan yang menyiratkan bentuk perbudakan modern. Tidak hanya bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan namun juga bertentangan dengan kesepakatan Malaysia-Indonesia tentang perlindungan TKI yang masih berlangsung hingga sekarang. 

Iklan bernuansa TKI on Sale, khususnya Indonesia Maid on Sale sebenarnya bukan hal baru dalam dunia per-TKI-an kita. Bisa jadi, hal serupa tidak hanya terjadi di Malaysia mengingat PRT asal Indonesia juga masih menjadi favorit di sejumlah negara lain, seperti di Taiwan, Hong Kong dan Arab Saudi. Kasus ini bisa menghangat, salah satunya tidak terlepas dari sejarah panjang hubungan Indonesia-Malaysia yang memang mudah memanas terutama dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga, sesuatu yang mungkin masuk kategori biasa jika terjadi di negara lain bahkan masuk kategori sangat biasa di negeri kita, menjadi sangat luar biasa ketika itu terjadi atau dilakukan oleh Malaysia. 

Dalam konteks ini, adalah sangat baik bagi kita untuk bersikap bijak dan lebih berhati-hati agar tidak terjebak dalam sebuah perseteruan yang mengarah pada motif adu domba semata. Meski demikian, sikap protes kita terhadap iklan tersebut perlu dilakukan. Meminta pemerintah mengusut masalah tersebut hingga tuntas adalah sikap yang wajar dan sudah semestinya karena ini menyangkut masalah harga diri bangsa dan nasib TKI kita. Hanya saja, jangan sampai kita terjebak seperti dalam pepatah 'semut di seberang lautan tampak namun gajah di pelupuk mata tidak kelihatan'. 

Ya, karena iklan serupa di Tanah Air dapat dengan mudah kita dapatkan. Mulai dari selebaran biasa yang ditempel di sembarang tempat hingga iklan resmi di media massa tentang perekrutan TKI, khususnya untuk jenis pekerjaan PRT tujuan Malaysia, Hong Kong, Arab Saudi dan sebagainya. Baik dengan terang-terangan menyebutkan bahwa jenis pekerjaan yang tersedia adalah sebagai TKI ataupun dengan jenis pekerjaan lain seperti baby sitter, guru dan sebagainya. 

Ulah oknum maupun perusahaan penyalur TKI ini tidak sedikit yang benar-benar menjebak banyak calon TKI ke dalam perdagangan dan perbudakan manusia modern. Mulai meminta uang dalam jumlah banyak kepada calon TKI, menyalurkan ke pekerjaan yang berbeda dari yang dijanjikan sebelumnya, memotong gaji TKI dalam jumlah yang signifikan, bahkan menyalurkan secara ilegal dan melepas tanggung jawab ketika TKI yang bersangkutan tersandung masalah. Mengingat jumlah oknum dan perusahaan semacam ini jumlahnya sangat banyak dan korbannya juga tidak sedikit, maka seharusnya pemerintah memberikan perhatian lebih besar dan bersikap tegas terhadap iklan dan aktivitas TKI on Sale di dalam negeri daripada di Malaysia.


  • Mengkhawatirkan
     
    Ada banyak motif yang mungkin dapat kita inventarisasikan dari pemunculan iklan Indonesia Maid on Sale di Malaysia. Selain mungkin saja sebagai upaya provokasi terhadap hubungan Indonesia-Malaysia yang memang mudah memanas, meski dalam porsi kecil, pemunculan iklan tersebut bisa menjadi indikasi bahwa perdagangan dan perbudakan modern atas TKI kita sudah sedemikian parahnya. Lingkaran setan itu bisa mulai kita telusuri dengan melihat realitas tingkat kemiskinan dan pengangguran di dalam negeri yang masih sangat tinggi.
  •  
    Susahnya mencari pekerjaan dengan pendapatan yang cukup menyejahterakan, membuat bekerja sebagai TKI menjadi pilihan dan peluang yang menjanjikan. Sayang, dengan pendidikan dan keterampilan yang seadanya, maka pilihan yang paling mungkin dan mudah adalah bekerja sebagai PRT. 

    Penawaran yang besar dari dalam negeri ini ternyata berbanding lurus tingginya permintaan sejumlah negara terhadap PRT asal Indonesia yang dikenal cekatan, rajin bekerja, tidak banyak protes dan sebagainya. Ketidakoptimalan peran pemerintah untuk menjembatani antara penawaran dan permintaan yang sama-sama tinggi ini kemudian diisi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang hanya memanfaatkan kesempatan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. 

    Dalam dunia peragenan TKI, penyaluran TKI khususnya PRT ke Malaysia adalah bisnis yang sangat menggiurkan. Tak mengherankan, jika pemunculan perusahaan Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia atau PJTKI begitu marak di Tanah Air. Perdagangan manusia modern jenis ini kini bahkan telah menjadi salah satu peluang bisnis yang cukup menjanjikan. 

    Agar bisnis ini berjalan lancar maka diperlukan oknum serupa di negara tujuan, hanya saja dengan peran dan fungsi yang sedikit berbeda. Jika oknum di dalam negeri berperan sebagai perekrut dan penyuplai maka oknum di negara tujuan lebih berperan sebagai distributor kepada konsumen.
    Di sinilah, iklan dibutuhkan sebagai sarana promosi yang bisa mempercepat TKI bisa segera berpindah tangan pada pihak-pihak yang membutuhkan. Dengan begitu, siklus keuntungan akan berputar lebih cepat. Untuk memutus lingkaran setan ini, maka hal mendesak yang semestinya dilakukan pemerintah adalah menindak tegas iklan dan aktivitas TKI on Sale di dalam negeri. Dan, yang terpenting dari semuanya adalah menciptakan lapangan kerja yang bisa menyejahterakan masyarakat sehingga mereka tidak harus menjadi TKI yang menjurus pada perdagangan dan perbudakan manusia modern. ***

    Link di Suara Karya : http://www.suarakarya-online.com/news.html?category_name=Opini

    2 komentar:

    1. Weeeiihh...keren mb tulisannya, berbobot. kalo urusan artikel ke media2 tulisanku belum pernah dimuat nih...selama 6 tahun nulis, cuman 'lolos' di kompetisi aja.hiks...good luck y

      BalasHapus
      Balasan
      1. Awalnya saya juga begitu Mbak, gak berani n pede kirim ke media, padahal sudah dikompor-kompori sama teman2 yang sudah wira-wiri di media. Beberapa teman redaktur bahkan "berjanji" akan memuat tulisan saya jika berani mengirim tulisan. Pas pertama kali muat di Japos, murni atas usaha sendiri, sejak itulah keberanian untuk mencoba semakin besar sampai sekarang. Ayoo Mbak, Anda pasti bisa...:)

        Hapus

     
    ;