Jumat, 16 November 2012

Membaca Bakat Emas Anak Sejak Dini

Setiap anak, jika kita perhatikan, umumnya punya cita-cita sejak usia sangat dini. Dari yang sederhana, koki misalnya, hingga yang luar biasa, misalnya jadi superman. Seiring waktu, cita-cita itu terkadang hanya sebatas impian masa kecilnya. Pada usia remaja, bisa jadi mereka menekuni hobi baru. Atau bahkan ketika dewasa mereka akan bekerja di bidang yang bertolak belakang atau tidak memiliki hubungan sama sekali dengan cita-citanya sewaktu kecil. Uniknya, bakat anak ternyata bisa “dibaca” sejak dini saat mereka masih anak-anak.

Masih samar tentunya, seperti mozaik atau kepingan puzzle yang berserak. Semakin dini bakat mereka terbaca, lalu difasilitasi dan didukung, hasilnya akan lebih optimal. Akan tercetak generasi-generasi masa depan yang unggul dalam bakat minatnya masing-masing. “Sasha sepertinya punya bakat menulis yang cukup baik” kata saya pada suami beberapa waktu lalu. Ah, bukannya senang karena saya mulai bisa membaca bakat emas anaknya, dia justru menilai saya terlalu dini mengambil kesimpulan. Yang tambah bikin sebel, suami sepertinya merasa saya agak memaksakan hobi saya menulis pada Sasha. Padahal tidak sama sekali.

Lalu, sinyal apa yang saya baca pada Sasha sehingga berhipotesa dia memiliki bakat menulis? Gurunya bahkan mengeluhkan bagaimana Sasha menulis di sekolah. Dari cara pegang pensil yang tidak benar, aktivitas menulis yang sangat lambat (hampir dua kali lebih lama dari temannya), bahkan hampir selalu tidak menyelesaikan tugas menulis dengan baik.

“Ini tulisan Sasha di sekolah Bu” ujar ibu guru seraya menyodorkan selembar kertas tugas dengan tulisan khas anak-anak, saat pembagian raport kemarin. Belum selesai, baru sekitar 70 persen pengerjaan.

“Ibu tau berapa lama Sasha mengerjakannya?” saya menunjukkan ekspresi sangat ingin tau.

“Dua setengah jam”. Ha...??? Saya melongo tidak percaya.

Saya tidak tau kenapa Sasha begitu kalau di sekolah, lamban. Tapi di rumah, justru kebalikannya. Pada hari Ibu 22 Desember lalu misalnya, saat saya akan berwudhu Sasha minta selembar kertas kosong.

“Aku mau buat surat untuk Mama” katanya.

Surat yang isinya hampir satu halaman penuh berupa ucapan terimakasih dan cinta Sasha pada saya itu langsung ia berikan ketika saya baru saja mengucapkan salam. Padahal waktu yang saya habiskan untuk wudhu dan sholat paling hanya sepuluh menit. Waktu yang cukup singkat untuk membuat sebuah surat cinta satu halaman.

Membuat surat untuk seluruh keluarga bukan hal baru bagi Sasha. Itu sudah dilakukannya sejak sekitar dua tahun lalu. Walau isinya hanya “Aku Sayang Mama”, “Aku Sayang Papa”, “Aku Sayang Adik” dan seterusnya pada anggota keluarga yang lain. Isinya semakin banyak seiring dengan pertambahan usianya. Kini, di usianya yang baru 6,5 tahun, Sasha sudah bisa membuat puisi pendek. Entah dari mana dia belajar menulis puisi. Sama tidak taunya saya dari mana ia belajar menulis surat. Bagi saya yang hingga setua ini merasa sangat sulit untuk membuat puisi, apa yang Sasha lakukan cukup luar biasa.

Modal lain yang dimilikinya sebagai calon penulis berbakat adalah hobinya membaca. Sasha termasuk agak telat bisa membaca (dalam arti sebenarnya : membaca huruf, kata dan kalimat) yakni pada usia sekitar lima tahun. Namun lama sebelum ia benar-benar bisa membaca, Sasha sudah “membaca” dengan caranya sendiri dan menghabiskan puluhan komik. Sejak sekitar usia tiga tahun, suami sering membelikan Sasha komik. Komik-komik yang jumlahnya lumayan banyak dan beberapa di antaranya cukup tebal, hanya ia “baca” gambarnya. Dari halaman pertama hingga halaman terakhir (padahal jumlahnya bisa ratusan halaman). Imajinasinya berkembang menafsirkan gambar-gambar yang ia lihat. Tak jarang, ia menceritakan kembali apa yang ia “baca” kepada saya. Kini, ketika ia benar-benar bisa membaca, 3-4 komik biasanya ia selesaikan dalam satu jam. Iapun mulai merambah tulisan-tulisan ringan tentang kehidupan sehari-hari, tentang lingkungan hidup misalnya.

Modal lain yang saya lihat adalah kecerdasan emosionalnya yang cukup baik. Artinya, selain senang membaca teks, Sasha juga mudah memahami konteks. Sampai di sini, cukup bagi saya untuk menyimpulkan bahwa dari segi input dan proses tahap awal dalam kegiatan menulis, Sasha memiliki keduanya cukup baik. Sampai saat ini saya masih menunggu, melihat dan mencermati, tanda-tanda berikutnya. Saya menunggu ia mengeksplor semua bakat dan minatnya. Jika memang bakat emasnya dalam bidang kepenulisan semakin menonjol, dengan senang hati saya akan terus mengasahnya. Menemaninya belajar tentang apa yang memang disukainya, tak semata menularinya apa yang saya suka.

2 komentar:

  1. Mbak, anak saya termasuk yang lambat menulis dengan pensil. Kemarin pun dia bilang, kenapa sih harus menulis, karena dia lebih suka belajar dengan mendengarkan cerita. Tapi dia suka sekali membaca dan suka berimajinasi.
    Dia saya buatkan blog, awal2 sih rajin posting, tapi sudah beberapa bulan ini gak mau nulis lagi.

    Seneng ya kalau sudah bisa tahu minat anak sejak dini. Saya masih binggung, karena anak saya juga sedang senang menggambar.

    BalasHapus
  2. Wah, keren ya sudah punya blog, anak saya belum :) Kalau menulis di komputer bagaimana Mbak? siapa tau aktivitas menulisnya tetap bisa terjaga, tapi menulis pakai pensil atau pena tetap juga diupayakan karena itu manfaatnya banyak dan kebutuhan primer di sekolah.

    Kalau saya, masih belum benar-benar memfokuskan satu hobi pada anak, masih saya bebaskan siapa tau ada bakat emasnya yang belum keluar, sayang kalau itu akhirnya terus terpendam karena anak sudah terlanjur difokuskan pada satu atau beberapa hal. Mengetahui bakat emas anak saya kira itu tidak mudah dan perlu waktu yang lama, jadi sepertinya kita mesti telaten dan sabar Mbak :) terimakasih sudah mampir dan berbagi cerita....

    BalasHapus

 
;